إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang (akan mendapatkan balasan) sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Menyembunyikan amal
Usahakan untuk menyembunyikan amal, kecuali jika ditampakkan untuk memberi contoh yang baik tanpa berharap pujian.
3. Berdoa agar dilindungi dari riya’
Rasulullah mengajarkan doa sebagaimana dijelaskan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Ahmad yang mana berbunyi:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang aku ketahui, dan aku memohon ampun atas apa yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad, hasan)
4. Ingat bahwa penilaian Allah adalah yang utama
Pujian manusia tidak menjamin diterimanya amal. Yang penting adalah bagaimana amal tersebut diterima Allah.
BACA JUGA:Meningkatkan Ketulusan dalam Beribadah di Bulan Dzulqa’dah
Dari penjelasan di atas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Bulan Dzulqa’dah adalah kesempatan emas untuk memperbanyak amal dan memperbaiki diri. Namun, kita harus tetap waspada terhadap penyakit hati seperti riya’ yang bisa membatalkan semua kebaikan. Amal yang terlihat besar di mata manusia bisa jadi tidak bernilai di sisi Allah jika tidak dilakukan dengan ikhlas.
Menjaga hati dari riya’ adalah perjuangan seumur hidup. Tetapi, dengan kesungguhan niat, doa, dan muhasabah, kita bisa lebih ikhlas dalam beribadah kepada Allah.
Semoga Allah menjadikan amal kita semua sebagai amal yang diterima, penuh keberkahan, dan membawa kita ke Surga-Nya sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat Al-Bayyinah ayat 5 yang mana berbunyi:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Artinya; “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.”(QS. Al-Bayyinah: 5)