BACA JUGA:Berbagi Kebahagiaan dengan Sesama: Sedekah dan Zakat di Bulan Dzulqa’dah
Hadits-Hadits Tentang Amanah
Nabi Muhammad Rasulullah SAW banyak bersabda tentang pentingnya amanah. Di antaranya adalah dijelaskan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Bukhari dan Muslim yang mana berbunyi:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
Artinya: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa mengkhianati amanah adalah tanda kemunafikan. Maka orang yang menjaga amanah berarti telah menjaga keimanan dan menghindari sifat kemunafikan. Dalam Hadits lain juga dijelaskan dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Ahmad dan Abu Dawud yang berbunyi:
لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ
Artinya: “Tidak beriman orang yang tidak bisa dipercaya, dan tidak beragama orang yang tidak bisa memegang janji.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Ini menunjukkan bahwa amanah adalah esensi dari iman dan agama. Orang yang tidak amanah pada hakikatnya belum sempurna keimanannya.
Amanah dalam Konteks Kehidupan
Menjaga amanah tidak terbatas pada satu bentuk saja. Dalam kehidupan sehari-hari, amanah bisa berupa:
1. Amanah Jabatan:
Pemimpin yang tidak korupsi dan menunaikan tugasnya dengan adil adalah pemegang amanah sejati.
2. Amanah Pekerjaan:
Seorang pekerja yang bekerja dengan jujur dan tidak menyalahgunakan wewenang.
3. Amanah Lisan: