Kebaikan dalam Islam bersifat universal dan mencakup semua aspek kehidupan:
Kebaikan kepada keluarga
Menjadi anak yang berbakti, pasangan yang setia, orang tua yang penuh kasih.
Kebaikan kepada tetangga
Seperti menjaga ketenangan lingkungan, memberi makanan, atau saling tolong-menolong.
Kebaikan kepada masyarakat luas
Dengan terlibat dalam kegiatan sosial, menyebarkan ilmu, dan menjaga akhlak di media sosial.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Bukhari dan Muslim yang mana berbunyi:
«وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ. قِيل: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ»
Artinya: "Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman!" Para sahabat bertanya, "Siapa, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya menjadi sumber kebaikan, terutama di lingkungan terdekat. Bahkan iman seseorang dipertaruhkan jika ia menyakiti tetangganya.
BACA JUGA:Menjaga Lisan dan Menghindari Fitnah di Bulan Dzulqa’dah
Kebaikan di Bulan Suci: Lebih Besar Pahalanya
Bulan suci adalah momen emas untuk menggandakan pahala dan meningkatkan kualitas diri. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Muslim yang mana berbunyi:
«مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ»
Artinya: "Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya." (HR. Muslim)