Puasa Tanpa Shalat: Ancaman Berat bagi yang Berpuasa namun Meninggalkan Tiang Agama
Sabtu 21-02-2026,14:00 WIB
Reporter:
juliirawan|
Editor:
juliirawan
Radarseluma.disway.id - Puasa Tanpa Shalat: Ancaman Berat bagi yang Berpuasa namun Meninggalkan Tiang Agama--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Ibadah puasa dan shalat merupakan dua rukun agung dalam Islam yang memiliki kedudukan sangat tinggi. Puasa adalah kewajiban tahunan di bulan Ramadhan, sedangkan shalat adalah kewajiban harian yang menjadi tiang agama. Namun, dalam realitas kehidupan umat Islam, masih ditemukan fenomena sebagian orang yang rajin berpuasa, tetapi lalai bahkan meninggalkan shalat. Padahal, shalat adalah ibadah pertama yang akan dihisab pada hari kiamat dan menjadi tolok ukur diterimanya amal yang lain.
Fenomena ini tentu menjadi perhatian serius. Apakah puasa tetap bernilai jika shalat ditinggalkan? Apa ancaman bagi orang yang berpuasa namun meninggalkan shalat? Tulisan ini akan mengulasnya berdasarkan dalil Al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW beserta penjelasan para ulama.
Kedudukan Shalat dalam Al-Qur’an
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ كِتَٰبٗا مَّوۡقُوتٗا
Artinya: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
(QS. An-Nisa: 103)
Ayat ini menegaskan bahwa shalat adalah kewajiban yang telah ditetapkan waktunya secara tegas dan tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apa pun, kecuali ada uzur syar’i seperti haid atau nifas bagi wanita.
Bahkan Allah memberikan ancaman keras bagi orang yang lalai dari shalat:
فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ
Artinya: “Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)
Jika orang yang lalai dalam shalat saja mendapat ancaman “wail” (celaka), maka bagaimana dengan orang yang meninggalkannya sama sekali?
Puasa sebagai Kewajiban yang Agung
Allah berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan. Namun, ketakwaan itu tidak mungkin terwujud jika kewajiban paling mendasar seperti shalat justru ditinggalkan.
Ancaman bagi yang Meninggalkan Shalat
Rasulullah SAW bersabda:
الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
Artinya: “Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini menunjukkan betapa beratnya dosa meninggalkan shalat. Sebagian ulama bahkan berpendapat bahwa meninggalkan shalat dengan sengaja bisa mengeluarkan seseorang dari Islam.
Dalam hadits lain disebutkan:
أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ
Artinya: “Amalan pertama yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat.” (HR. Abu Dawud)
Jika shalatnya rusak atau tidak ada, maka bagaimana dengan puasa dan amal lainnya?
Puasa Tanpa Shalat: Apakah Diterima?
Para ulama menjelaskan bahwa shalat adalah tiang agama. Jika tiangnya roboh, maka bangunan amalan lain ikut terancam runtuh. Orang yang berpuasa tetapi meninggalkan shalat ibarat membangun rumah tanpa fondasi.
Sebagian ulama menyatakan bahwa jika seseorang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya, maka ia kafir dan puasanya tidak sah. Namun jika ia meninggalkan shalat karena malas, maka ia berada dalam dosa besar yang sangat berat, dan puasanya berada dalam ancaman tidak diterima secara sempurna.
Rasulullah SAW bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”
(HR. Ibnu Majah)
Hadits ini menjadi peringatan keras bahwa ibadah puasa bisa sia-sia jika tidak dibarengi dengan ketaatan yang lain, termasuk menjaga shalat.
Puasa dan Shalat: Dua Ibadah yang Tidak Bisa Dipisahkan
Puasa melatih kesabaran dan pengendalian diri, sedangkan shalat adalah penguat iman dan penghubung langsung dengan Allah. Jika seseorang berpuasa tetapi tidak shalat, berarti ia menahan lapar dan dahaga, namun tidak menjaga hubungannya dengan Allah.
Shalat lima waktu adalah kewajiban setiap hari. Sementara puasa Ramadhan hanya satu bulan dalam setahun. Maka secara prioritas, shalat memiliki kedudukan yang lebih utama dan mendasar.
Allah berfirman:
حَافِظُواْ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلۡوُسۡطَىٰ
Artinya: “Peliharalah semua shalat dan shalat wustha.” (QS. Al-Baqarah: 238)
Ayat ini menunjukkan perintah menjaga shalat secara konsisten. Artinya, keislaman seseorang tidak cukup hanya dengan puasa, tetapi harus ditegakkan dengan shalat.
Refleksi dan Introspeksi Diri
Bagi mereka yang masih berpuasa tetapi meninggalkan shalat, hendaknya segera bertaubat. Jangan sampai puasa yang dijalankan dengan susah payah justru tidak bernilai di sisi Allah karena meninggalkan kewajiban yang lebih utama.
Taubat senantiasa terbuka. Allah Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang mau kembali. Perbaiki shalat, jaga waktunya, dan jadikan puasa sebagai momentum perubahan menuju ketaatan yang lebih sempurna.
Shalat adalah tiang agama dan ibadah pertama yang akan dihisab. Meninggalkannya merupakan dosa besar yang mendapat ancaman keras dalam Al-Qur’an dan hadits. Puasa tanpa shalat berisiko tidak bernilai atau bahkan tertolak jika disertai pengingkaran terhadap kewajiban shalat.
Puasa dan shalat adalah dua ibadah yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya harus ditegakkan secara bersamaan untuk meraih derajat takwa yang sejati. Jangan sampai seseorang bersungguh-sungguh menahan lapar dan dahaga, tetapi lalai dalam mendirikan shalat yang menjadi fondasi agamanya.
Semoga kita semua termasuk hamba-hamba Allah yang mampu menjaga shalat sekaligus menunaikan puasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Jangan biarkan Ramadhan atau puasa yang kita jalani menjadi sia-sia hanya karena kelalaian terhadap shalat. Mari jadikan momentum ibadah sebagai sarana memperbaiki diri secara menyeluruh, bukan setengah-setengah.
Karena sejatinya, Islam bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang tunduk total kepada Allah dalam setiap perintah-Nya. (djl)
Sumber: