Dzulqa’dah: Bulan Persiapan untuk Berqurban dengan Ikhlas

Rabu 14-05-2025,11:30 WIB
Reporter : juliirawan
Editor : juliirawan

Reporter: Juli Irawan 

Radarseluma.disway.id - Bulan Dzulqa’dah merupakan salah satu dari empat bulan haram (الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ) yang dimuliakan dalam Islam. Ia terletak antara bulan Syawwal dan Dzulhijjah, menjadikannya sebagai momentum strategis dalam mempersiapkan diri menuju ibadah besar: ibadah haji dan berqurban. Salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan di bulan Dzulhijjah, dan yang persiapannya bisa dimulai sejak Dzulqa’dah, adalah berqurban.

Sebagaimana kita maklumi, ibadah qurban tidak hanya sekadar menyembelih hewan, melainkan bentuk nyata dari ketaatan, keikhlasan, dan pengorbanan seorang hamba kepada Allah SWT. Maka, bulan Dzulqa’dah sejatinya menjadi waktu untuk mengasah niat, memperbaiki keikhlasan, dan mempersiapkan bekal ruhani dan materi agar qurban kita diterima dengan sempurna.

Empat Bulan Haram: Keutamaan dan Larangannya

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an dalam Al-Qur'an Surat At-taubah ayat 36 yang mana berbunyi: 

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Artinya: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus..." (QS. At-Taubah: 36)

Empat bulan haram itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dinamakan “haram” karena di bulan-bulan tersebut dilarang keras melakukan peperangan dan perbuatan dosa. Sebaliknya, kita dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih dan ketaatan.

BACA JUGA:Pentingnya Berusaha dan Tawakal di Bulan Suci Dzulqa’dah

Dzulqa’dah: Momentum Mengokohkan Niat

Berqurban adalah perintah Allah yang ditujukan kepada umat Islam sebagai bentuk ibadah yang sangat dicintai Allah pada hari Nahr (Idul Adha). Namun, agar ibadah ini bernilai di sisi-Nya, diperlukan niat yang ikhlas, yaitu murni karena Allah, bukan karena pamer, tradisi, atau gengsi.

Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS adalah contoh agung dalam hal keikhlasan berqurban. Allah mengabadikan peristiwa itu dalam Al-Qur’an yang mana terdapat di dalam Surat Ash-Shaffat ayat 103-105 yang mana berbunyi: 

فَلَمَّاۤ اَسۡلَمَا وَتَلَّهٗ لِلۡجَبِيۡنِ​ۚ‏ ١٠٣ وَنَادَيۡنٰهُ اَنۡ يّٰۤاِبۡرٰهِيۡمُۙ‏ ١٠٤ قَدۡ صَدَّقۡتَ الرُّءۡيَا ​ ​ۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجۡزِى الۡمُحۡسِنِيۡنَ‏. اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الۡبَلٰٓؤُا الۡمُبِيۡنُ‏ ١٠٦ وَفَدَيۡنٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيۡمٍ‏ ١٠٧

Artinya: "Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia, "Wahai Ibrahim!. Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu."1 Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS. Ash-Shaffat: 103–105)

Dzulqa’dah adalah waktu untuk meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS sebelum menjalankan perintah Allah pada Dzulhijjah. Persiapan mental dan spiritual ini tak bisa dilakukan mendadak. Butuh kesungguhan dan renungan sejak dini agar hati kita benar-benar tunduk pada Allah.

Kategori :