Reporter: Juli Irawan Radarseluma.disway.id - Hari itu matahari seperti enggan bersinar. Langit mendung menggantung rendah, seperti hatiku yang penuh kecemasan. Aku berdiri di depan gedung pelatihan, memandang ke arah sekeliling dengan waspada. Beberapa pria dari tempat kerjaku sempat mencari ku. Mereka bilang aku berutang—bukan uang, tapi loyalitas.
Tapi aku sudah tak mau kembali. Tidak peduli berapa harganya. “Ayo, kita jalan,” suara Arga menyadarkanku dari lamunan. Ia datang tepat waktu seperti janjinya. Senyumnya tetap tenang, meski aku tahu ia menahan kekhawatiran. Kami naik mobil menuju rumah aman, tempat perempuan seperti aku bisa memulai lagi. Arga tak banyak bicara sepanjang perjalanan. Tapi diamnya tak pernah sunyi. Ia membuatku merasa aman. Malam pertama di rumah perlindungan itu terasa asing. Tidak ada denting gelas, tidak ada musik keras, tidak ada laki-laki bermata lapar. Hanya suara kipas angin, suara napas perempuan-perempuan lain yang juga datang membawa luka. Kami semua sama—terluka tapi tidak menyerah. Di ruang makan kecil, aku bertemu Mbak Rika. Usianya mungkin sepuluh tahun di atasku. Tatapannya lembut, tapi penuh kisah. “Kamu baru, ya?” katanya sambil menyodorkan segelas teh hangat. Aku mengangguk. “Iya. Nama aku Sonya.” Ia tersenyum, lalu berkata pelan, “Kamu selamat, Sonya. Itu yang penting.” Dan untuk pertama kalinya, aku percaya bahwa aku memang bisa selamat. BACA JUGA:Kisah Nyata: Aku Bukan Murahan, Hanya Terpaksa: Bagian 1 Luka di Balik Senyum Dua bulan berlalu. Hari-hariku diisi pelatihan keterampilan, konseling, dan kadang percakapan panjang dengan Arga yang sesekali datang menjenguk. Ia tidak pernah memaksaku untuk mencintainya, tapi kehadirannya selalu menjadi pelipur. Suatu hari ia berkata, “Kalau kamu sudah benar-benar siap, aku mau bantu kamu buka usaha kecil. Apa pun yang kamu suka.” Aku tertawa kecil, “Jangan buru-buru, Ga. Aku belum selesai berdamai dengan diriku sendiri.” Ia hanya tersenyum. “Aku tunggu. Selama apa pun.” Satu sore, aku berdiri di depan cermin. Wajahku masih sama, tapi tatapan itu berbeda. Kini ada harapan di sana. Ada kepercayaan diri yang dulu hilang. Aku menatap pantulan itu, lalu berkata, “Aku bukan murahan. Aku hanya perempuan yang pernah jatuh. Tapi kini aku bangkit.” BACA JUGA:Kisah Nyata: Aku Bukan Murahan, Hanya Terpaksa Saat itu aku sadar, luka bukan untuk disembunyikan. Luka ada agar kita belajar sembuh, agar kita bisa menjadi versi terbaik dari diri kita yang pernah hancur. Tiga bulan kemudian, aku membuka kios kecil menjual kue kering dan kerajinan tangan. Sebagian dibantu oleh pelatihan, sebagian lagi dari dana Arga. Tapi semuanya kujalani dengan keringatku sendiri. Pelan-pelan, aku mengembalikan utuh harga diriku yang dulu pernah tercerai. Aku juga mulai berbicara di komunitas perempuan yang pernah mengalami hal sama. Bercerita bukan untuk mengungkit luka, tapi agar perempuan lain tahu—bahwa mereka tidak sendiri. Dan Arga? Ia tetap di sana, berdiri di belakangku, bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai teman seperjalanan. Suatu malam, ketika kiosku sepi dan langit Jakarta penuh bintang, ia bertanya pelan, “Kalau aku melamar kamu sekarang... kamu terima?” Aku menatapnya. Lalu tersenyum, tulus. “Aku belum siap menikah, Ga. Tapi kalau kamu tanya apakah aku mencintaimu... iya. Dengan cara yang paling jujur.” Kami tertawa kecil. Bahagia. Damai. Kini, aku bukan lagi perempuan yang duduk di pinggir ranjang dengan air mata mengalir diam-diam. Aku bukan lagi perempuan yang merasa harus menjual dirinya demi hidup. Aku adalah Sonya—seorang perempuan yang pernah terluka, pernah terjatuh, tapi memilih untuk bangkit dan melangkah. Aku bukan murahan. Aku hanya terpaksa. Dulu. Tapi sekarang, aku bebas. (djl) TAMATKisah Nyata: Aku Bukan Murahan, Hanya Terpaksa
Rabu 16-04-2025,15:00 WIB
Reporter : juliirawan
Editor : juliirawan
Tags : #sonyabangkit
#radarseluma.disway.id
#perjuanganperempuan
#perempuanbangkit
#lukamenjadikekuatan
#kisahnyatamenginspirasi
#kisahnyata
#kisahinspiratif
#kajian islam
#harapanbaru
#darilukamenjadikarya
#darikelammenujuharapan
#cintayangmenenangkan
#bukanpilihantapikeadaan
#bebasdankuat
#akubukanmurahan
Kategori :
Terkait
Jumat 16-01-2026,11:00 WIB
Tiupan Sangkakala: Dentang Kehancuran Semesta dan Awal Kebangkitan Seluruh Makhluk
Kamis 15-01-2026,11:00 WIB
Akhir Zaman dalam Pandangan Ulama Salaf: Peringatan Iman tentang Dunia yang Menuju Kehancuran
Rabu 14-01-2026,13:09 WIB
Dunia Gelap oleh Kemaksiatan: Isyarat Nyata Tanda-Tanda Kiamat Besar yang Kian Mendekat
Selasa 13-01-2026,11:02 WIB
Kisah Ikan Sebelah yang Hidup Kembali: Tanda Kebesaran Allah dalam Perjalanan Nabi Musa AS
Jumat 09-01-2026,15:09 WIB
Inilah Wanita-Wanita Istimewa di Akhirat: Wajah Mereka Bersinar Penuh Cahaya karena Amalan Mulia
Terpopuler
Minggu 18-01-2026,19:22 WIB
Oknum Pejabat Dinkes Seluma Disebut Kena Gerebek Istri di Bumi Ayu, Bersama Oknum PPPK
Minggu 18-01-2026,19:38 WIB
Manajemen SPBU Tais Laporan Karyawan, Dugaan Penggelapan Rp 76 Juta
Minggu 18-01-2026,14:36 WIB
3 Negara Ini Pernah Pecundangi Indonesia di Final Piala AFF
Minggu 18-01-2026,20:13 WIB
Potensi Cetak Sawah Rakyat 2026 di Seluma Capai 800 Hektare
Minggu 18-01-2026,14:08 WIB
Main Siang Ini, Jonatan Christie Buru Gelar Juara India Open 2026
Terkini
Senin 19-01-2026,10:20 WIB
Toyota Raize 2023 Masih Menjadi Incaran Pecinta Otomotif di Indonesia, Harga Terjangkau dan Desain Modern
Senin 19-01-2026,10:05 WIB
Simak Spesifikasi Mitsubishi Outlander PHEV 2026, Sudah Diluncurkan
Senin 19-01-2026,09:01 WIB
Ormas Gerakan Rakyat Deklarasi Jadi Parpol, Perjuangkan Anies Baswedan Presiden
Senin 19-01-2026,08:02 WIB
Sekwan Almidian Saleh Hasil Persetujuan Pimpinan DPRD Seluma
Senin 19-01-2026,07:30 WIB