Konsep penyakit rabies juga dicetuskan oleh ahli pengobatan kuno yang bernama Galen dengan ungkapannya yang menarik. Galen mencapai simpulan bahwa hanya anjing yang menjadi inang alami rabies dan setetes air liur anjing rabies di kulit manusia dapat menyebabkan hidrofobia pada manusia. Hidrofobia merupakan kondisi takut terhadap air, padahal umat Islam sangat membutuhkan air untuk bersuci dalam rangka beribadah.
Kedokteran modern membuktikan bahwa reseptor manusia memiliki kesamaan dengan anjing dalam penularan rabies. Reseptor adalah tempat perlekatan virus pada tubuh yang akan menimbulkan masuknya penyakit. Kesamaan reseptor inilah yang membuat manusia secara khusus berisiko tertular penyakit dari anjing bila berdekatan dengannya. Dengan bukti inilah, relevansi ajaran Islam dengan menjauhi anjing bila tidak ada kepentingan yang syar’i memiliki titik temu.
BACA JUGA: Baru Gabung Koalisi, PAN Ngotot Usung Erick Thohir Cawapres
Para ahli juga mengemukakan bahwa semua anjing dapat menjadi pembawa penyakit rabies. Penelitian di Nigeria membuktikan bahwa dalam tubuh anjing yang sehat pun dapat ditemukan antigen virus rabies di liur dan otaknya (Mshelbwala, 2014, Prevalence of Rabies Antigen in the Saliva and Brains of Apparently Healthy Dogs Slaughtered for Human Consumption in Abia State, Nigeria, Department of Veterinary Medicine Ahmadu Bello University, Zaria, Nigeria).
Penelitian di Jepang bahkan menyimpulkan bahwa rabies merupakan penyakit yang tidak akan musnah selama masih ada anjing. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa setelah dinyatakan bebas rabies selama 50 tahun, Jepang kembali kedatangan penyakit itu. Mereka menyimpulkan bahwa rabies bisa dicegah, tetapi tidak akan hilang.
Bahkan untuk penyakit infeksi yang lebih mematikan, seperti sepsis yang bisa menyerang manusia, para ahli bersimpulan bahwa penyakit itu dibawa oleh anjing yang sehat. Para ahli tidak bisa menghilangkannya dari anjing sehingga mereka harus menganggap bahwa setiap anjing adalah pembawa penyakit mematikan tersebut.