Istiqamah di Sisa Ramadhan: Menjaga Konsistensi Ibadah Setelah 10 Hari Pertama Penuh Rahmat

Istiqamah di Sisa Ramadhan: Menjaga Konsistensi Ibadah Setelah 10 Hari Pertama Penuh Rahmat

Radarseluma.disway.id - Istiqamah di Sisa Ramadhan: Menjaga Konsistensi Ibadah Setelah 10 Hari Pertama Penuh Rahmat--

Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id – Sepuluh hari pertama Ramadhan dikenal sebagai fase penuh rahmat. Masjid-masjid ramai, tilawah Al-Qur’an meningkat, sedekah mengalir, dan semangat ibadah terasa membuncah. Namun tantangan sesungguhnya bukan hanya memulai dengan baik, melainkan menjaga konsistensi hingga akhir bulan.
 
Memasuki pertengahan Ramadhan, sebagian orang mulai merasakan penurunan semangat. Rasa lelah, rutinitas pekerjaan, dan godaan kebiasaan lama perlahan mengurangi kekhusyukan. Padahal Ramadhan adalah satu kesatuan utuh—awal yang baik harus ditutup dengan akhir yang gemilang.
 
Allah SWT berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
 
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
 
Ayat ini menegaskan bahwa kunci menjaga konsistensi adalah sabar dan shalat. Kesabaran menjaga semangat agar tidak padam, sementara shalat menguatkan hati agar tetap terhubung dengan Allah.
 
Pentingnya Istiqamah
 
Dalam Islam, amalan yang dicintai Allah bukanlah yang besar namun terputus, melainkan yang terus-menerus walau sedikit. Rasulullah SAW bersabda:
 
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
 
Artinya: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
 
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj dalam kitab Shahih mereka. Maknanya jelas: Allah menilai kesinambungan, bukan ledakan semangat sesaat. Jika di awal Ramadhan mampu membaca satu juz sehari, lalu di pertengahan melemah, jangan berhenti total. Kurangi target, tetapi jangan putus.
 
Istiqamah juga menjadi tanda keikhlasan. Orang yang beribadah karena Allah akan tetap taat meski suasana tidak lagi semeriah awal Ramadhan.
 
 
Ujian di Pertengahan Bulan
 
Setelah sepuluh hari pertama, ujian mulai terasa: kelelahan fisik, pekerjaan menumpuk, atau rasa puas diri karena merasa sudah cukup beribadah. Padahal Allah mengingatkan:
 
وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا
 
Artinya: “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan kembali benang yang telah dipintalnya dengan kuat menjadi cerai-berai.” (QS. An-Nahl: 92)
 
Ayat ini mengajarkan agar amal baik yang sudah dirajut dengan susah payah tidak dirusak oleh kelalaian.
 
Cara Menjaga Konsistensi
 
1. Meluruskan Niat
 
Rasulullah SAW bersabda:
 
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
 
Artinya: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
 
Perbarui niat bahwa ibadah dilakukan semata-mata karena Allah, bukan karena suasana atau kebiasaan.
 
2. Membuat Target Realistis
 
Lebih baik sedikit tetapi rutin daripada banyak lalu terhenti. Konsistensi lebih bernilai daripada kuantitas sesaat.
 
3. Memperbanyak Doa
 
Allah SWT berfirman:
 
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ
 
Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.” (QS. Al-Baqarah: 186)
 
Mintalah kekuatan untuk istiqamah, karena pertolongan sejati datang dari Allah.
 
 
4. Mengingat Tujuan Ramadhan
 
Allah berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ ... لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
 
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa ... agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
 
Tujuan puasa adalah takwa, dan takwa lahir dari proses yang dijalani secara konsisten selama sebulan penuh.
 
Ramadhan bukan perlombaan siapa paling semangat di awal, tetapi siapa yang paling kokoh hingga akhir. Rasulullah SAW mengingatkan:
 
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
 
Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah)
 
Hadits ini menjadi peringatan agar ibadah kita tidak hanya formalitas.
Konsistensi ibadah di sisa Ramadhan adalah ujian keimanan yang sebenarnya. Istiqamah berarti menjaga kualitas amal, meski dengan langkah kecil namun berkelanjutan. Kuncinya adalah sabar, niat yang lurus, doa yang sungguh-sungguh, dan kesadaran akan tujuan taqwa.
 
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap istiqamah hingga akhir Ramadhan. Semoga kita meraih rahmat di awal, ampunan di pertengahan, dan pembebasan dari api neraka di akhir bulan suci. Aamiin. (djl)

Sumber:

Berita Terkait