219 Penerima Manfaat MBG Terdampak di Batang, BGN Suspend SPPG dan Copot Kepala Dapur

219 Penerima Manfaat MBG Terdampak di Batang, BGN Suspend SPPG dan Copot Kepala Dapur

219 Penerima Manfaat MBG Terdampak di Batang, BGN Suspend SPPG dan Copot Kepala Dapur--

 

 

JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan penanganan penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batang Bawang Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, terus dilakukan.

Kejadian tersebut berlangsung pada 23 September 2026. Hingga Kamis (24/9) pukul 03.00 WIB, BGN mencatat sebanyak 219 penerima manfaat terdampak, dengan rincian 132 orang menjalani rawat inap dan 87 orang menjalani rawat jalan di tujuh fasilitas kesehatan.

Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, mengatakan keselamatan penerima manfaat menjadi prioritas utama. Ia memastikan seluruh penerima manfaat yang terdampak telah mendapatkan penanganan medis dan kondisinya terus dipantau.

 

BACA JUGA:HANTARU 2026, Ossy Dermawan Dorong Transformasi ATR/BPN Berbasis Budaya Kerja

BACA JUGA:HANTARU 2026, ATR/BPN Perluas Layanan Pertanahan

“Kami menyampaikan keprihatinan dan empati kepada seluruh penerima manfaat dan keluarga yang terdampak. Kami pastikan seluruh penerima manfaat yang terdampak mendapatkan penanganan dengan baik dan kondisi mereka terus dipantau,” ujar Ketut di Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Sebagai langkah mitigasi dan kehati-hatian, BGN menghentikan sementara operasional SPPG Batang Bawang Bawang dengan kategori suspend berat. BGN juga mencopot Kepala SPPG tersebut dari jabatannya.

Menurut Ketut, keputusan tersebut diambil setelah ditemukan sejumlah indikasi ketidakpatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) di dapur SPPG.

“Kami sudah melakukan suspend dengan kategori berat, serta mencopot Kepala SPPG Bawang. Di samping adanya pelanggaran SOP oleh dapur, juga ada sebagian dibawa pulang oleh penerima manfaat yang juga merupakan pelanggaran berat,” katanya.

Berdasarkan pemeriksaan awal, salah satu temuan berkaitan dengan proses pengolahan telur. Telur disebut telah diolah lebih awal pada pukul 19.30 WIB dan kemudian dipanaskan kembali pada pukul 02.30 WIB.

Selain itu, petugas menemukan kondisi kebersihan di sejumlah bagian SPPG yang masih perlu mendapat perhatian. Namun, BGN menegaskan temuan tersebut masih merupakan bagian dari proses investigasi dan belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai penyebab gangguan kesehatan yang dialami penerima manfaat.

“Kami sedang menelusuri seluruh proses, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, pemorsian hingga distribusi. Kami tidak ingin berspekulasi mengenai penyebab kejadian sebelum seluruh pemeriksaan selesai. Semua harus berdasarkan fakta dan hasil investigasi,” tegas Ketut.

Sumber: