Ketika Umat Islam Terbuai Harta dan Jabatan: Ancaman Kelalaian Dunia dalam Timbangan Akhirat
Senin 24-11-2025,12:00 WIB
Reporter:
juliirawan|
Editor:
juliirawan
Radarseluma.disway.id - Ketika Umat Islam Terbuai Harta dan Jabatan: Ancaman Kelalaian Dunia dalam Timbangan Akhirat--
Reporter: Juli Irawan Radarseluma.disway.id - Dalam perjalanan kehidupan manusia, dunia seringkali menjadi tempat ujian yang paling berat. Tidak sedikit orang yang terjerumus dalam kelalaian karena terpikat oleh kemewahan, kekuasaan, jabatan, dan harta benda. Padahal, Allah SWT telah mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu jika tidak disertai dengan keimanan dan ketakwaan. Fenomena ini semakin tampak pada umat Islam zaman sekarang: orientasi hidup mengarah pada harta, jabatan, popularitas, dan kedudukan sosial. Nilai spiritual seakan tergeser oleh ambisi duniawi.
Artikel ini mengulas secara mendalam bagaimana Islam memandang kecenderungan manusia terhadap harta dan jabatan, serta ancaman besar yang dapat menimpa umat apabila lalai dari tujuan hidup yang sebenarnya.
Harta dan Jabatan: Ujian yang Allah Berikan
Islam tidak melarang umatnya untuk kaya, sukses, atau memiliki jabatan tinggi. Namun yang dilarang adalah ketika hati terpaut pada dunia hingga melupakan Allah SWT dan kehidupan akhirat.
1. Harta Sebagai Fitnah dan Amanah
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Artinya: “Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah ujian (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghābun: 15)
Ayat ini menegaskan bahwa harta adalah fitnahnujian yang dapat mengangkat derajat seseorang bila dikelola dengan benar, namun juga dapat menjatuhkannya ke lembah kehancuran jika salah digunakan.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
Artinya: “Setiap umat memiliki ujian, dan ujian umatku adalah harta.”(HR. Tirmidzi)
Hadits ini memperjelas bahwa godaan terbesar bagi umat Islam adalah harta. Ketika harta menjadi prioritas utama, maka hilanglah sifat qana’ah, zuhud, dan ketenangan hati.
2. Jabatan Sebagai Amanah yang Berbahaya Jika Disalahgunakan
Jabatan dalam Islam bukan untuk berbangga diri, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ
Artinya: “Sesungguhnya jabatan itu adalah amanah. Dan pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan.”
(HR. Muslim)
Artinya, seseorang yang meminta jabatan demi gengsi atau keuntungan pribadi sedang menjerumuskan dirinya pada bahaya besar.
Allah SWT pun berpesan:
وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا
Artinya: “Dan janganlah kamu serahkan harta-hartamu kepada orang-orang yang tidak berakal, yang Allah jadikan sebagai pokok kehidupan.” (QS. An-Nisā’: 5)
Ayat ini memberikan isyarat bahwa amanah, termasuk jabatan dan kekuasaan, harus diberikan kepada orang yang layak, bukan kepada orang yang hanya mengejar dunia.
Ketika Umat Islam Terbuai Dunia: Penyakit Hati yang Menghancurkan
1. Cinta Dunia dan Panjang Angan-angan
Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat tegas:
« يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الْأُمَمُ… قِيلَ: أَوَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ. قَالُوا: وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ »
Artinya: “Akan datang suatu masa ketika umat-umat (lain) akan mengerumuni kalian…
Kalian pada waktu itu banyak, tetapi seperti buih di lautan…
Allah mencabut rasa takut dari musuh-musuh kalian, dan Allah lemparkan ke dalam hati kalian penyakit al-wahn.”
Sahabat bertanya: “Apakah al-wahn?”
Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)
Hadits ini menerangkan bahwa penyebab utama kelemahan umat Islam adalah karena terbuai dunia: mencintai harta, jabatan, dan ketenaran, tetapi membenci perjuangan dan amal akhirat.
2. Lupa Akan Tujuan Hidup
Allah SWT berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya: “Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imrān: 185)
Ayat ini menegaskan bahwa dunia bisa menipu siapa saja yang tidak menjaga hati. Sejumlah kaum terdahulu hancur bukan karena miskin, tetapi justru karena kaya dan berkuasa lalu menjadi sombong, seperti kaum 'Aad, Tsamud, dan Qarun.
Qarun adalah simbol umat yang terbuai harta dan jabatan:
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ
Artinya: “Maka Kami benamkan dia (Qarun) dan rumahnya ke dalam bumi.”
(QS. Al-Qashash: 81)
Ini menunjukkan bahwa kesombongan terhadap jabatan dan kekayaan dapat menyebabkan kehancuran total.
Bagaimana Seorang Muslim Menyikapi Harta dan Jabatan?
1. Menjadikan Dunia di Tangan, Bukan di Hati
Banyak sahabat Nabi kaya raya, seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf, namun kekayaan itu tidak menguasai hati mereka. Mereka tetap dermawan, zuhud, dan dekat dengan Allah.
2. Mengutamakan Amanah dan Taqwa
Seorang pemegang jabatan harus meyakini bahwa setiap keputusan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
3. Aktif Berinfak dan Bersedekah
Allah SWT berfirman:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
Artinya: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan harta yang kamu cintai.”
(QS. Ali Imran: 92)
Sedekah adalah obat bagi hati yang terpikat dunia.
4. Menjaga Kesederhanaan
Nabi SAW hidup sederhana walaupun berkesempatan untuk hidup mewah. Kesederhanaan adalah tanda kejernihan hati.
Fenomena umat Islam yang terbuai oleh harta dan jabatan bukan sekadar persoalan moral, tetapi penyakit hati yang dapat menghancurkan umat secara keseluruhan. Islam menegaskan bahwa harta dan jabatan bukan tujuan, melainkan ujian dan amanah. Ketika dunia menguasai hati, maka kehancuran spiritual, moral, dan sosial akan menyusul. Namun ketika dunia hanya berada di tangan dan hati tetap terpaut kepada Allah, maka harta dan jabatan justru menjadi sarana untuk memperbanyak amal saleh.
Semoga umat Islam kembali menyadari bahwa kehidupan ini hanyalah persinggahan sementara. Harta, jabatan, dan kekuasaan dapat menjadi sumber pahala yang besar jika dikelola sesuai syariat, tetapi juga dapat menjadi sumber penyesalan jika disalahgunakan. Kembalilah kepada Allah, kuatkan iman, dan jadikan dunia sebagai ladang akhirat. (djl)
Sumber: