Perjalanan Ilmu Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani: Dari Negeri Persia Menuju Pusat Peradaban Islam Baghdad
Radarseluma.disway.id - Perjalanan Ilmu Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani: Dari Negeri Persia Menuju Pusat Peradaban Islam Baghdad--
Reporter: Juli Irawan Radarseluma.disway.id - Dalam sejarah peradaban Islam, lahirnya ulama-ulama besar bukanlah suatu kebetulan, melainkan buah dari kesungguhan, pengorbanan, dan keteguhan dalam menuntut ilmu. Salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam dunia tasawuf dan ilmu syariat adalah Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Beliau dikenal sebagai Sultanul Auliya (rajanya para wali) dan menjadi rujukan umat dalam bidang ilmu, akhlak, serta pembinaan spiritual.
Perjalanan hidup beliau dimulai dari tanah kelahiran di wilayah Jilan (Persia), kemudian menempuh perjalanan jauh menuju Baghdad, pusat peradaban Islam pada masanya. Dari perjalanan ini, kita dapat mengambil pelajaran berharga tentang pentingnya menuntut ilmu, meninggalkan zona nyaman, serta berjuang demi mendapatkan ridha Allah SWT.
Allah SWT menegaskan pentingnya ilmu dalam firman-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Artinya: "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa kedudukan orang berilmu sangatlah tinggi, dan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani adalah contoh nyata dari pengamalan ayat ini.
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani lahir pada tahun 470 H (1077 M) di wilayah Jilan, Persia. Sejak kecil beliau tumbuh dalam lingkungan yang religius, penuh keberkahan, dan doa ibunda yang salehah. Dalam banyak riwayat, disebutkan bahwa sejak kecil beliau sudah menunjukkan tanda-tanda keistimewaan.
Ketika berusia remaja, hasratnya untuk menuntut ilmu semakin kuat. Beliau memahami bahwa kampung halamannya belum mampu memberikan akses ilmu yang luas. Oleh karena itu, beliau memutuskan untuk hijrah ke Baghdad, meski harus meninggalkan kenyamanan dan menghadapi tantangan berat.
Hijrah beliau ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: "Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)
Hadits ini menggambarkan betapa perjalanan ilmu bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga membuka jalan menuju kebahagiaan abadi di akhirat.
BACA JUGA:Masa Kecil Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani: Anak Shalih yang Dijaga Allah SWT Sejak Dalam Kandungan
Menuntut Ilmu di Baghdad
Baghdad pada abad ke-5 H adalah pusat keilmuan dunia Islam. Di sana berdiri madrasah, perpustakaan, dan halaqah ilmu yang diisi para ulama besar. Setibanya di Baghdad, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani belajar ilmu syariat, fiqih, hadis, tafsir, dan ilmu bahasa.
Sumber: