Meneladani Keikhlasan Para Sahabat di Bulan Safar: Mutiara Hikmah di Tengah Ujian
Radarseluma.disway.id - Meneladani Keikhlasan Para Sahabat di Bulan Safar: Mutiara Hikmah di Tengah Ujian--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id – Bulan Safar sering kali dianggap sebagai bulan yang penuh ujian dan cobaan dalam pandangan tradisional masyarakat. Namun bagi umat Islam yang memahami hakikat keimanan, setiap bulan adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, termasuk meneladani keikhlasan para sahabat Rasulullah SAW dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Keikhlasan (الإخلاص) adalah inti dari seluruh amal dalam Islam. Tanpa keikhlasan, amal sekecil apa pun akan kehilangan nilai di sisi Allah SWT. Dalam sejarah Islam, para sahabat Nabi Muhammad SAW menjadi teladan utama dalam keikhlasan yang murni, tanpa pamrih, bahkan dalam kondisi penuh tekanan dan pengorbanan
Memahami Hakikat Keikhlasan
Keikhlasan secara bahasa berarti memurnikan, membersihkan sesuatu dari campuran. Dalam konteks agama, ikhlas adalah melakukan amal perbuatan hanya karena Allah semata, bukan untuk dilihat manusia atau memperoleh keuntungan dunia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama…” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh ibadah dan ketaatan harus dibangun atas dasar keikhlasan. Tanpa itu, amal tidak akan diterima
BACA JUGA:Usia Malaikat Jibril Tak Seberapa Dibanding Nur Muhammad: Rahasia Cinta Allah Sebelum Segala Ciptaan
Keikhlasan Para Sahabat: Kisah Penuh Ibrah
1. Abu Bakar Ash-Shiddiq: Menyumbangkan Seluruh Hartanya
Salah satu bentuk keikhlasan yang paling menggetarkan hati adalah ketika Abu Bakar RA menyerahkan seluruh hartanya dalam perang Tabuk. Ketika Rasulullah SAW memotivasi kaum Muslimin untuk berinfak, beliau datang dan memberikan semuanya.
Ketika ditanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar?”
Ia menjawab: “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”
Ini adalah puncak dari keikhlasan. Tidak ada niat pamer, tidak pula harapan duniawi. Semuanya hanya untuk Allah.
2. Umar bin Khattab: Keikhlasan dalam Ketundukan
Dalam sebuah kisah, Umar RA mengakui keunggulan Abu Bakar dalam sedekah, meskipun ia telah membawa setengah dari hartanya. Keikhlasan Umar terlihat dalam pengakuannya terhadap keutamaan saudaranya, tanpa iri atau dengki.
Sumber: