Kisah Thariq bin Ziyad: Jenderal Muslim Penakluk Andalusia, Peletak Peradaban Islam di Eropa
Radarseluma.disway.id - Kisah Thariq bin Ziyad: Jenderal Muslim Penakluk Andalusia, Peletak Peradaban Islam di Eropa--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id – Nama Thariq bin Ziyad tertulis dengan tinta emas dalam sejarah Islam sebagai jenderal Muslim tangguh yang menorehkan prestasi besar: menaklukkan Andalusia (kini wilayah Spanyol) dan membuka jalan bagi penyebaran peradaban Islam di benua Eropa. Sosoknya tidak hanya dikenal karena keberanian dan kejeniusannya dalam strategi militer, tetapi juga karena keikhlasannya dalam membela agama Allah. Kisah hidupnya adalah simbol perjuangan tauhid dan pembuktian nyata janji kemenangan bagi umat Islam yang teguh berjihad di jalan Allah.
Sejarah yang Ditulis dengan Iman dan Keberanian
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)
Ayat ini menjadi landasan kuat bagi para mujahid seperti Thariq bin Ziyad dalam menjalani jihad di jalan Allah. Ia tidak hanya tampil sebagai seorang pemimpin militer, tetapi juga sebagai pelayan dakwah yang tulus. Kemenangan yang dicapainya bukanlah karena jumlah pasukan, tetapi karena keyakinannya kepada janji Allah.
BACA JUGA:Lima Jenderal Muslim Paling Ditakuti Sepanjang Sejarah: Strategi, Keberanian, dan Keteguhan Iman
Kelahiran dan Latar Belakang Thariq bin Ziyad
Thariq bin Ziyad lahir di wilayah Afrika Utara, kemungkinan di daerah Aljazair atau Maroko sekitar akhir abad ke-7 M. Ia berasal dari bangsa Barbar, suku asli Afrika Utara yang memeluk Islam setelah penaklukan wilayah tersebut oleh pasukan Muslim di bawah komando Musa bin Nushair, gubernur wilayah Ifriqiyah (Tunisia dan sekitarnya).
Sebagai seorang yang awalnya adalah budak, Thariq menunjukkan potensi luar biasa dalam kepemimpinan dan strategi militer. Ia kemudian dibebaskan dan diberi kepercayaan besar oleh Musa bin Nushair untuk memimpin pasukan ke wilayah yang belum pernah dijelajahi umat Islam sebelumnya: Eropa.
Perjalanan Jihad dan Penaklukan Andalusia
Tahun 711 M, atas perintah dari Musa bin Nushair dan restu dari Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, Thariq memimpin sekitar 7.000 pasukan Muslim — sebagian besar dari bangsa Barbar — menyeberangi Selat Gibraltar dari Maroko ke Spanyol. Setelah mendarat, langkah paling fenomenal yang ia lakukan adalah membakar kapal-kapal yang mereka tumpangi.
Pidatonya yang membakar semangat menjadi simbol keberanian umat Islam:
"الْبَحْرُ وَرَاءَكُمْ، وَالْعَدُوُّ أَمَامَكُمْ، وَلَا مَفَرَّ لَكُمْ إِلَّا بِالصِّدْقِ وَالصَّبْرِ"
Artinya: "Laut di belakang kalian, musuh di depan kalian. Tidak ada jalan kembali, kecuali dengan jujur dan sabar dalam berjuang."
Strategi ini bukan semata taktik militer, tapi juga motivasi spiritual. Thariq ingin menanamkan keyakinan bahwa hanya dengan tawakkal dan tekad penuh kepada Allah, kemenangan bisa diraih.
Pertempuran dan Kemenangan Besar
Thariq dan pasukannya menghadapi pasukan kerajaan Visigoth yang dipimpin Raja Roderick, yang jumlahnya mencapai sekitar 100.000 orang. Namun, karena keunggulan taktik dan semangat jihad, pasukan Muslim meraih kemenangan besar dalam Pertempuran Guadalete. Kemenangan ini membuka pintu bagi Islam untuk berkembang pesat di seluruh wilayah Spanyol dan sekitarnya.
Setelah kemenangan itu, Thariq terus melanjutkan ekspansi hingga menguasai kota-kota besar seperti Toledo, Granada, dan Seville. Andalusia pun masuk dalam wilayah kekuasaan Islam, menjadi wilayah penting peradaban Islam di Eropa selama hampir delapan abad.
BACA JUGA:Kisah Jenderal Muslim Ali bin Abi Thalib: Singa Allah, Panglima Tak Tertandingi dalam Cahaya Iman
Peran dalam Peradaban dan Dakwah Islam
Penaklukan Andalusia bukan hanya sekadar keberhasilan militer, melainkan menjadi fondasi kokoh bagi munculnya peradaban Islam yang maju di Eropa. Andalusia berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan, filsafat, kedokteran, arsitektur, dan seni Islam. Di sana, umat Muslim, Nasrani, dan Yahudi hidup berdampingan secara damai.
Thariq bin Ziyad telah membuka jalan bagi lahirnya generasi ilmuwan Muslim Andalusia seperti Ibnu Rusyd (Averroes), Ibnu Arabi, dan lainnya.
Akhir Hayat Sang Jenderal
Setelah keberhasilannya, Thariq kembali ke Afrika atas perintah Musa bin Nushair. Namun, riwayat kehidupannya setelah itu menjadi samar. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ia wafat dalam keadaan sederhana, tidak mencintai dunia, dan tetap setia kepada misinya membela Islam.
Sikap zuhud Thariq menggambarkan kesalehan sejati seorang mujahid yang tidak tertipu oleh gemerlap kemenangan duniawi. Ia tidak meminta imbalan, sebab yang dicari hanyalah ridha Allah.
Dalil-Dalil yang Menguatkan Semangat Jihadnya
Allah SWT berfirman:
وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ...
Artinya: "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi..." (QS. Al-Anfal: 60)
Hadits Rasulullah SAW juga menegaskan:
"مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا، فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ"
Artinya: “Barang siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi, maka ia berada di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Thariq bin Ziyad adalah figur nyata dari hadits ini. Ia berperang agar Islam tegak, bukan demi kekuasaan.
Inspirasi Sepanjang Zaman
Thariq bin Ziyad adalah contoh nyata bahwa siapa pun bahkan dari latar belakang yang paling sederhana bisa menjadi pemimpin besar bila didorong oleh keimanan yang kokoh dan niat tulus membela agama Allah. Andalusia tidak hanya menjadi saksi kehebatan militernya, tapi juga ketulusan dakwahnya.
Warisan Keberanian dan Keteladanan
Warisan Thariq bin Ziyad adalah keteladanan, keberanian, dan pengorbanan dalam menegakkan Islam. Ia telah menunjukkan bahwa kemenangan umat Islam hanya akan datang bila ada keimanan yang kuat, keikhlasan, dan keberanian dalam bertindak.
Semoga generasi Muslim hari ini dan masa depan mengambil ibrah dari jejak langkahnya, dan kembali menjadikan Islam sebagai cahaya peradaban dunia. Sebagaimana firman Allah:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
Artinya: "Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia..." (QS. Ali Imran: 110) (djl)
Sumber: