Hijrah di Tempat Kerja dan Lingkungan Sosial: Menjadi Agen Perubahan yang Berakhlak Mulia
Radarseluma.disway.id - Hijrah di Tempat Kerja dan Lingkungan Sosial: Menjadi Agen Perubahan yang Berakhlak Mulia--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Hijrah sering kali dipahami secara sempit sebagai perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, atau sekadar meninggalkan perbuatan maksiat menuju ketaatan secara personal. Padahal, dalam konteks kekinian, hijrah memiliki makna yang jauh lebih luas. Hijrah bisa bermakna transformasi diri secara menyeluruh, baik dalam aspek spiritual, sosial, profesional, hingga interaksi sehari-hari.
Salah satu tantangan terbesar setelah seseorang memutuskan untuk hijrah adalah mempertahankan perubahan tersebut di tempat kerja dan dalam lingkungan sosialnya. Karena tidak semua orang akan menyambut perubahan tersebut dengan positif. Justru di sinilah nilai hijrah sesungguhnya diuji apakah seseorang mampu membawa nilai-nilai hijrah ke dalam dunia profesional dan sosial, tanpa kehilangan integritas dan tetap istiqamah.
Hijrah Sebagai Tanggung Jawab Sosial dan Profesional
Hijrah bukanlah semata perjalanan spiritual individual. Ia juga membawa implikasi sosial yang sangat luas. Seorang Muslim yang telah hijrah sejatinya sedang menjalani proses menjadi pribadi yang lebih bertakwa, lebih jujur, amanah, santun, dan bermanfaat bagi orang lain.
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Artinya: “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala akhirat lebih besar, kalau mereka mengetahui.” (QS. An-Nahl: 41)
Ayat ini menunjukkan bahwa hijrah adalah bentuk pengorbanan yang akan mendapatkan balasan besar, baik di dunia maupun di akhirat. Ketika seseorang membawa semangat hijrah ke tempat kerja, ia berusaha menegakkan kejujuran dalam pekerjaan, menjauhi suap, bekerja dengan penuh amanah dan tanggung jawab. Sementara dalam lingkungan sosial, hijrah tercermin dari tutur kata yang baik, menghindari ghibah (menggunjing), menjaga pergaulan, dan membawa pengaruh positif.
BACA JUGA:Menjalin Kembali Kekuatan Ukhuwah Islamiyah di Era Modern
Hijrah di Tempat Kerja: Menguatkan Integritas dan Etika Islam
Bagi seorang Muslim yang telah hijrah, tempat kerja adalah salah satu medan dakwah terpenting. Bukan melalui ceramah, tetapi melalui sikap dan teladan. Etos kerja yang tinggi, kejujuran, dan ketekunan merupakan representasi dari iman yang kuat. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia menyempurnakannya (dengan sebaik-baiknya).” (HR. Thabrani)
Ini artinya, hijrah ke dalam dunia kerja menuntut kualitas dan integritas. Seorang Muslim yang telah hijrah harus menjadi yang paling disiplin, paling bertanggung jawab, dan paling amanah dalam tugasnya. Ia tidak hanya bekerja untuk gaji, tetapi karena kesadarannya sebagai hamba Allah yang wajib menunaikan amanah.
Hijrah dalam Lingkungan Sosial: Menjadi Agen Perubahan
Dalam lingkungan sosial, orang yang telah berhijrah hendaknya tidak menjadi eksklusif, apalagi menghakimi orang lain. Justru ia dituntut untuk menjadi sosok yang menyatukan, bukan memecah belah. Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam membaur dengan masyarakat, namun tetap menjaga prinsip dan akhlaknya.
Allah SWT berfirman:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
Artinya: “Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34)
Ayat ini menunjukkan bahwa kita harus membawa nilai hijrah ke dalam interaksi sosial: membalas keburukan dengan kebaikan, membangun hubungan harmonis, serta menjadi penyejuk dalam pergaulan.
BACA JUGA:Menjadi Pemuda Hijrah di Era Milenial: Meraih Cahaya di Tengah Gelapnya Godaan Zaman
Tantangan dan Cara Mengatasinya
Tidak sedikit orang yang telah hijrah merasa kesulitan dalam menjaga komitmen di tempat kerja dan lingkungan sosial. Beberapa tantangan yang umum adalah:
1. Lingkungan kerja yang permisif terhadap maksiat
Seperti rekan kerja yang tidak mendukung perubahan positif, bahkan mencemooh.
2. Pergaulan sosial yang menjerumuskan
Seperti ajakan nongkrong yang tidak bermanfaat, pembicaraan yang menjurus ke ghibah dan fitnah.
3. Godaan dunia yang memalingkan dari niat awal hijrah
Seperti ambisi berlebihan terhadap jabatan dan harta tanpa mempertimbangkan halal-haram.
Cara mengatasinya:
• Perkuat niat hijrah karena Allah, bukan karena tren.
• Bangun komunitas positif, rekan kerja dan teman sosial yang saling menguatkan dalam kebaikan.
• Selalu mengingat tujuan akhir hidup: ridha Allah dan surga-Nya.
• Jadikan dzikir dan tilawah Al-Qur’an sebagai penguat hati dalam menghadapi godaan.
Hijrah Bukan untuk Diri Sendiri Saja
Hijrah yang sejati bukan hanya soal perubahan dalam penampilan atau kebiasaan ibadah pribadi. Hijrah yang hakiki harus menular dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dunia kerja dan pergaulan sosial. Seorang Muslim yang berhijrah bukan sekadar ingin menjadi baik untuk dirinya sendiri, tapi juga membawa perubahan bagi sekitarnya. Ia menjadi pelita di tempat kerja, menjadi jembatan kebaikan di lingkungan sosial.
Rasulullah SAW bersabda:
الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ
Artinya: “Orang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar terhadap gangguan mereka lebih besar pahalanya daripada orang yang tidak bergaul dan tidak sabar terhadap gangguan mereka.” (HR. Ahmad)
Jadilah Teladan, Bukan Sekadar Pengikut
Mari bawa semangat hijrah ke dalam dunia nyata, bukan hanya dalam ruang pribadi. Jadikan tempat kerja ladang pahala dan pergaulan sosial sebagai medan dakwah bil hal. Tunjukkan bahwa hijrah bukan sekadar tren sesaat, tapi perubahan jangka panjang menuju pribadi yang bertakwa, berakhlak, dan bermanfaat bagi sesama.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Semoga Allah senantiasa meneguhkan hati kita dalam hijrah, dan menjadikan kita agen perubahan di mana pun kita berada. (djl)
Sumber: