Refleksi Asyura: Keteguhan Para Nabi sebagai Cahaya Keteladanan Umat

Refleksi Asyura: Keteguhan Para Nabi sebagai Cahaya Keteladanan Umat

Radarseluma.disway.id - Refleksi Asyura: Keteguhan Para Nabi sebagai Cahaya Keteladanan Umat--

Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Hari Asyura, yang jatuh pada 10 Muharram dalam kalender hijriah, bukan sekadar penanda waktu, melainkan momentum penting bagi umat Islam untuk merenungkan sejarah para nabi dan keteguhan mereka menghadapi ujian. Asyura menjadi saksi berbagai peristiwa agung, di antaranya keselamatan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun, penerimaan taubat Nabi Adam, kesabaran Nabi Nuh saat banjir besar, hingga pertolongan Allah kepada Nabi Yunus dalam perut ikan. Semua itu mengajarkan bahwa kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan hati adalah kunci meraih pertolongan Allah.

Hari Asyura bukan hanya tentang ritual puasa sunnah, tetapi juga momen untuk merefleksikan nilai keteguhan para Nabi yang patut diteladani umat Islam sepanjang zaman.

Berikut beberapa kisah yang terjadi pada hari Asyura: 

1.Nabi Musa dan Fir’aun

Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun pada hari Asyura. Allah berfirman:

فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

Artinya: “Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah laut itu, dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar.” (QS. Asy-Syu’ara: 63)

Peristiwa ini menunjukkan keteguhan Nabi Musa dalam menghadapi ancaman terbesar, yaitu Fir’aun yang dzalim. Nabi Musa tetap tegar dan yakin akan pertolongan Allah, meskipun secara manusiawi mereka terpojok di tepi laut.

2.Nabi Yunus dalam Perut Ikan

Kisah Nabi Yunus mengajarkan pentingnya kembali kepada Allah di saat kesulitan. Ketika berada dalam perut ikan, Nabi Yunus berdoa:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)

Doa ini menjadi bukti keteguhan Nabi Yunus dalam mengakui kesalahannya dan kembali bertawakal kepada Allah. Kesungguhan taubatnya menjadi sebab Allah mengeluarkannya dengan selamat.

BACA JUGA:Meneladani Keteladanan Rasulullah: Kesungguhan Beribadah di Hari Asyura

3. Puasa Asyura dan Sunnah Rasulullah

Nabi Muhammad SAW mencontohkan puasa Asyura sebagai wujud rasa syukur kepada Allah atas keselamatan Nabi Musa. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِينَةَ فَرَأَى اليَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ: مَا هَذَا؟ قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى. قَالَ: فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Artinya: “Nabi SAW datang ke Madinah, melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya, ‘Hari apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini hari baik, hari Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari ini.’ Rasulullah bersabda, ‘Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari itu.” (HR. Bukhari, no. 2004; Muslim, no. 1130)

Hadits ini menegaskan Asyura bukan hanya peringatan sejarah, tetapi juga momentum aktualisasi keteladanan para nabi melalui amal ibadah.

Perjalanan para nabi pada Asyura menekankan bahwa kesabaran menghadapi ujian adalah sunnatullah bagi orang beriman. Allah menguji Nabi Musa dengan ancaman Fir’aun, menguji Nabi Yunus dengan kegelapan perut ikan, dan menguji Nabi Nuh dengan kaumnya yang durhaka. Namun keteguhan mereka menghasilkan pertolongan luar biasa dari Allah SWT.

Keteladanan mereka relevan di semua zaman. Umat Islam kini juga diuji dengan fitnah dunia, krisis moral, kesulitan ekonomi, dan berbagai tantangan lain. Keteguhan, kesabaran, dan keyakinan kepada pertolongan Allah adalah kunci meraih jalan keluar.

Asyura pun menegaskan pentingnya rasa syukur. Nabi Muhammad SAW memerintahkan puasa pada hari ini sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa. Dari sini, kita belajar bahwa bersyukur bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan amal.

BACA JUGA:Menjemput Spirit Hijrah di Bulan Muharam: Momentum Membumikan Akhlakul Karimah dalam Kehidupan

Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Refleksi Asyura memberikan pelajaran abadi: keteguhan para nabi adalah cahaya yang membimbing umat manusia menghadapi tantangan hidup. Keteladanan mereka mengajarkan kita untuk tetap sabar, optimis, dan bertawakal, meskipun menghadapi situasi yang tampak mustahil.

Momen Asyura bukan hanya hari untuk berpuasa, tetapi juga ajang untuk memperbarui keimanan dan meneguhkan komitmen meneladani kesabaran para nabi. Dengan meneladani mereka, insya Allah kita akan selalu diberikan jalan keluar oleh Allah SWT, sebagaimana Dia telah menolong para nabi-Nya.

Marilah kita isi Hari Asyura dengan ibadah puasa, doa, dan memperkuat iman. Semoga kita mampu mengambil hikmah dari kesabaran para nabi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi umat yang tangguh, sabar, dan selalu berharap pada rahmat Allah. (djl)

Sumber:

Berita Terkait