Meningkatkan Ibadah Sunnah sebagai Bentuk Syukur

Meningkatkan Ibadah Sunnah sebagai Bentuk Syukur

Radarseluma.disway.id - Meningkatkan Ibadah Sunnah sebagai Bentuk Syukur--

Reporter: Juli Irawan 

Radarsrluma.disway.id - Setelah melewati bulan Ramadhan yang penuh berkah, seorang muslim dihadapkan pada pilihan besar dalam hidupnya: apakah ia akan mempertahankan semangat ibadah yang telah dibangun atau kembali pada kelalaian seperti sebelumnya? Salah satu cara untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat, khususnya nikmat iman dan hidayah, adalah dengan meningkatkan ibadah sunnah. Ibadah sunnah tidak hanya menjadi pelengkap amalan wajib, tetapi juga menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai bukti nyata rasa syukur atas nikmat yang tak terhitung jumlahnya.

Makna Syukur dalam Islam

Syukur dalam bahasa Arab berasal dari kata syakara – yasykuru yang berarti “mengakui nikmat dan memuji pemberi nikmat”. Dalam konteks Islam, syukur adalah pengakuan seorang hamba atas nikmat Allah, yang diiringi dengan hati yang tunduk, lisan yang memuji, dan amal yang mencerminkan rasa terima kasih itu.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7 yang mana berbunyi: 

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'"
(QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini menunjukkan bahwa syukur bukan sekadar ucapan, tetapi ia menuntut bukti nyata dalam perbuatan, termasuk melalui ibadah dan ketaatan kepada Allah.

BACA JUGA:Menjaga Iman dan Hati: Nasihat Imam Al-Ghazali yang Abadi

Ibadah Sunnah sebagai Wujud Syukur

Ibadah sunnah adalah amalan yang tidak diwajibkan, namun sangat dianjurkan karena memiliki keutamaan besar di sisi Allah. Di antaranya seperti shalat sunnah rawatib, dhuha, tahajjud, puasa sunnah, membaca Al-Qur'an, bersedekah, serta memperbanyak dzikir dan doa.

Nabi Muhammad Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Bukhari yang berbunyi: 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا، فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ..."

Artinya: "Allah berfirman: Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang terhadapnya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya..."
(HR. Bukhari)

Sumber:

Berita Terkait