Menjaga Iman dan Hati: Nasihat Imam Al-Ghazali yang Abadi

Menjaga Iman dan Hati: Nasihat Imam Al-Ghazali yang Abadi

Radarseluma.disway.id - Menjaga Iman dan Hati: Nasihat Imam Al-Ghazali yang Abadi--

Reporter: Juli Irawan 

Radarseluma.disway.id - Iman adalah anugerah terbesar dalam kehidupan seorang Muslim. Ia adalah cahaya yang menerangi hati, penuntun amal, dan penentu keselamatan di dunia dan akhirat. Namun iman tidaklah statis. Ia bisa bertambah dan bisa pula berkurang. Dalam hal inilah, nasihat para ulama besar seperti Imam Abu Hamid Al-Ghazali sangat dibutuhkan, sebagai pengingat dan penuntun dalam menjaga kemurnian iman.

Imam Al-Ghazali, seorang ulama besar abad ke-5 Hijriyah, dikenal luas karena karya-karya monumentalnya yang menyentuh berbagai dimensi kehidupan keislaman. Dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, ia memberikan banyak pelajaran tentang keimanan yang tidak hanya teoritis, tetapi sangat praktis untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan ini menyajikan beberapa nasihat iman dari beliau yang relevan bagi setiap Muslim sepanjang masa.

BACA JUGA:Ilmu, Amal, dan Muhasabah: Jalan Iman Menurut Imam Al-Ghazali

1. Iman adalah Keyakinan, Ucapan, dan Amal

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hakikat iman terdiri dari tiga komponen utama: keyakinan dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan pengamalan dengan perbuatan. Ketiganya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Dalam Al-Qur'an Surat At-Taqhabun ayat 9 Allah SWT berfirman yang mana berbunyi: 

وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ وَيَعْمَلْ صَـٰلِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّـٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ

Artinya: "Dan barang siapa beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." (QS. At-Taghabun: 9)

Dalam sebuah Hadits Nabi Muhammad Rasulullah SAW bersabda yang mana berbunyi: 

"الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شعْبَةً، أَعْلَاهَا قَوْلُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ."

Artinya: "Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan 'Laa ilaaha illallah' dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan." (HR. Muslim)

Iman yang sejati tidak berhenti di mulut. Ia harus diresapi dalam hati dan ditunjukkan dalam amal nyata. Menolong sesama, menegakkan keadilan, bersedekah, berkata benar—semua adalah bagian dari iman. Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya menyelaraskan hati, lisan, dan tindakan dalam beriman, agar iman kita tidak menjadi hampa.

BACA JUGA:Keutamaan Berpegang Teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah

2. Hati adalah Pusat Iman

Dalam pandangan Al-Ghazali, hati (qalb) adalah pusat spiritual manusia. Segala amal dan niat berpangkal dari hati. Bila hati baik, seluruh kehidupan akan baik. Maka pembersihan hati dari penyakit-penyakit batin seperti riya’, hasad, ujub, dan cinta dunia adalah keharusan bagi orang beriman.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Asy-Syu'ara ayat 88 - 89 yang mana berbunyi: 

Sumber:

Berita Terkait