Syawal sebagai Waktu untuk Meningkatkan Ibadah Sunnah
Radarseluma.disway.id - Syawal sebagai Waktu untuk Meningkatkan Ibadah Sunnah--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Bulan Ramadhan yang penuh berkah telah berlalu, namun semangat beribadah semestinya tidak ikut sirna bersamanya. Justru, datangnya bulan Syawal menjadi momentum untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan kualitas ibadah kita, terutama dalam hal amalan-amalan sunnah. Bulan Syawal bukanlah akhir dari ketaatan, tetapi merupakan awal dari pembuktian sejauh mana seseorang mampu menjaga konsistensinya setelah ditempa oleh Ramadhan.
Banyak orang menyangka bahwa puncak ibadah hanyalah di bulan Ramadhan. Padahal, bulan Syawal menghadirkan peluang besar untuk melanjutkan berbagai amal shalih, salah satunya dengan memperbanyak ibadah sunnah seperti puasa Syawal, shalat sunnah, sedekah, dzikir, dan lainnya. Dalam tulisan ini, kita akan mengupas betapa pentingnya bulan Syawal sebagai waktu untuk meningkatkan ibadah sunnah, disertai dalil Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW.
BACA JUGA:Pentingnya Sabar dalam Menjalani Ujian Hidup
Bulan Syawal dan Semangat Melanjutkan Kebaikan
Syawal berasal dari kata “syāla” yang berarti ‘meninggikan’ atau ‘meningkatkan’. Ini secara maknawi sangat relevan, karena setelah bulan Ramadhan, kita diharapkan mengalami peningkatan spiritual. Allah SWT berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
Artinya: "Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian)." (QS. Al-Hijr: 99)
Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah tidak mengenal waktu atau musim tertentu. Tidak cukup hanya semangat beribadah di Ramadhan saja, tetapi harus berlanjut sepanjang hayat, termasuk di bulan Syawal. Maka, memperbanyak ibadah sunnah di bulan ini adalah bentuk ketaatan yang konsisten kepada Allah SWT.
Keutamaan Puasa Sunnah di Bulan Syawal
Salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan di bulan Syawal adalah puasa enam hari. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِّنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya: "Barang siapa berpuasa Ramadhan, kemudian melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR. Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa satu bulan puasa Ramadhan setara dengan sepuluh bulan pahala, dan enam hari puasa di bulan Syawal menyempurnakan dua bulan sisanya, sehingga genap satu tahun. Ini merupakan bentuk kemurahan dari Allah SWT untuk hamba-Nya yang mau terus beribadah.
Puasa enam hari ini juga menjadi bukti bahwa ibadah sunnah memiliki nilai yang besar di sisi Allah, bahkan dapat menyempurnakan kekurangan dari ibadah wajib. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ، فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ... فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيضَةِ؟
Artinya: “Sesungguhnya amalan pertama yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka dia beruntung dan selamat... Jika ada kekurangan pada shalat wajibnya, Allah berfirman: Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah, maka disempurnakanlah yang kurang dari amalan wajibnya.” (HR. At-Tirmidzi)
BACA JUGA:Keutamaan Meningkatkan Kualitas Shalat: Jalan Menuju Kedekatan dengan Allah SWT
Ibadah Sunnah Lainnya di Bulan Syawal
Selain puasa enam hari, bulan Syawal juga menjadi waktu yang tepat untuk menumbuhkan kembali semangat dalam ibadah sunnah lainnya:
Shalat Sunnah
Shalat sunnah rawatib, dhuha, dan tahajud adalah amalan yang ringan namun sangat besar pahalanya. Di bulan Syawal, setelah terbiasa bangun malam di Ramadhan, hendaknya kebiasaan ini dilanjutkan.
Sedekah
Allah sangat mencintai orang yang gemar bersedekah. Sedekah setelah Ramadhan menunjukkan keikhlasan dan komitmen untuk berbagi, bukan karena suasana Ramadhan semata.
Dzikir dan Doa
Membiasakan dzikir pagi petang, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak istighfar adalah bentuk penjagaan hati setelah latihan selama sebulan penuh.
Silaturahmi
Momentum Idul fitri yang berada di awal Syawal biasanya digunakan untuk bersilaturahmi. Ini termasuk ibadah sunnah yang sangat dianjurkan, sebagaimana sabda Rasulullah:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Penjelasan Ulama Tentang Konsistensi Ibadah
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:
"Di antara tanda diterimanya amal kebaikan adalah amal tersebut diikuti dengan amal baik setelahnya."
Artinya, bila seseorang mampu melanjutkan kebiasaan baik setelah Ramadhan, maka itu pertanda amal Ramadhan-nya diterima oleh Allah. Sedangkan jika kembali kepada kemaksiatan, maka itu bisa menjadi pertanda keburukan
BACA JUGA:Memanfaatkan Waktu dengan Hal yang Bermanfaat
Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Syawal bukan sekadar bulan perayaan, tetapi merupakan fase pembuktian. Di sinilah kita mengukur seberapa besar efek Ramadhan terhadap jiwa kita. Meningkatkan ibadah sunnah di bulan Syawal adalah cara efektif untuk merawat keimanan dan memperkuat koneksi spiritual dengan Allah SWT.
Mari jadikan Syawal sebagai awal dari keberlanjutan amal shalih. Jangan biarkan ibadah-ibadah sunnah hanya menjadi rutinitas musiman di Ramadhan. Perbanyaklah puasa sunnah, shalat sunnah, sedekah, dzikir, serta perbuatan baik lainnya. Sebab, amal yang konsisten walau sedikit lebih dicintai Allah daripada yang banyak tapi terputus. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga kita termasuk golongan yang mampu menjaga dan meningkatkan ibadah setelah Ramadhan, menjadikan Syawal sebagai momentum emas menuju hamba yang bertaqwa secara hakiki.(djl)
Sumber: