Tazkiyatun nafs berarti penyucian diri dari segala bentuk penyakit hati seperti riya’, ujub, hasad, dan sombong, serta meningkatkan kualitas iman dan akhlak seseorang, dalam konteks Puasa, Allah SWT telah menetapkannya sebagai ibadah yang tidak hanya berdimensi fisik tetapi juga spiritual, dengan tujuan utama membentuk Manusia yang bertaqwa dan memiliki jiwa yang bersih.
Agar Puasa benar-benar menjadi sarana penyucian jiwa, seorang Muslim perlu menerapkan nilai-nilai yang telah ia pelajari selama berpuasa ke dalam kehidupannya sehari-hari.
Ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan untuk menjaga efek penyucian jiwa dari Puasa tetap berlangsung meskipun bulan Ramadan telah usai.
Pertama:
Mengontrol Hawa Nafsu dan Emosi
Salah satu tujuan utama Puasa adalah melatih Manusia untuk mengendalikan hawa nafsunya.
Jika selama Puasa seseorang mampu menahan lapar, haus, dan dorongan syahwat, maka setelahnya ia pun harus mampu menahan dorongan emosional yang negatif, seperti marah berlebihan, iri hati, atau kebiasaan berbicara tanpa berpikir.
Nabi Muhammad Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Bukhari dan Muslim berbunyi:
إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ صِيَامِهِ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ
Artinya:
"Jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata-kata kotor dan jangan pula berlaku bodoh. Jika ada orang yang memusuhinya atau mencelanya, maka hendaklah ia mengatakan: 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa'." (HR. Bukhari & Muslim)
Hadits ini mengajarkan bahwa Puasa adalah perisai yang harus terus dijaga, tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi juga dalam keseharian setelahnya.
Jika kita bisa menahan amarah dan perkataan buruk selama Puasa, maka seharusnya kita juga bisa melanjutkannya di bulan-bulan lainnya.
Kedua:
Membiasakan Diri dengan Keikhlasan
Puasa mengajarkan kita untuk beribadah secara ikhlas, karena hakikat Puasa hanya Allah yang tahu, seorang yang berpuasa bisa saja makan atau minum secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui manusia, tetapi ia tetap menahan diri karena yakin bahwa Allah melihatnya.
Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah SWT berfirman yang berbunyi:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Artinya:
"Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya." (HR. Bukhari & Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa Puasa adalah ibadah yang sangat erat kaitannya dengan keikhlasan.
Jika seseorang telah terbiasa beribadah dengan penuh keikhlasan saat berpuasa, maka ia pun harus menerapkannya dalam setiap ibadah lainnya, seperti shalat, sedekah, dan amal kebaikan lainnya.
Ketiga:
Meningkatkan Kesabaran dan Ketaqwaan
Sabar adalah kunci utama dalam menjalankan ibadah Puasa. Seseorang yang berpuasa harus bersabar dalam menahan lapar, haus, serta berbagai godaan duniawi lainnya.
Kesabaran ini harus terus dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat menghadapi ujian atau cobaan dari Allah.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Az-Zumat Zumar ayat 10 berbunyi:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya:
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)
Dengan melatih kesabaran selama Puasa, seseorang akan lebih mampu menghadapi berbagai tantangan hidup dengan penuh ketenangan dan ketaqwaan.
Keempat:
Meningkatkan Kepedulian Sosial dan Rasa Syukur
Puasa juga memberikan pelajaran sosial yang sangat besar. Saat seseorang merasakan lapar dan haus, ia akan lebih memahami penderitaan orang-orang yang kurang mampu. Inilah yang kemudian menumbuhkan empati dan semangat berbagi. Oleh karena itu, salah satu amalan yang dianjurkan dalam bulan puasa adalah memperbanyak sedekah dan berbagi makanan dengan orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
Artinya:
"Barang siapa yang memberi makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun." (HR. Tirmidzi)
Setelah Ramadan berlalu, kebiasaan berbagi ini seharusnya tetap dijaga. Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya diperoleh dari memiliki harta, tetapi juga dari berbagi dan membantu sesama.
Maka dari penjelasan diatas dapatlah kita simpulkan bahwa Puasa sebagai sarana tazkiyatun nafs tidak hanya berlaku selama bulan Ramadan, tetapi harus menjadi bagian dari kehidupan seorang Muslim sepanjang tahun. Dengan menjadikan puasa sebagai latihan spiritual, seseorang dapat terus menjaga kebersihan jiwanya dengan cara:
Pertama:
Mengendalikan hawa nafsu dan emosi agar tidak mudah terprovokasi oleh hal-hal yang negatif.
Kedua:
Membiasakan keikhlasan dalam beribadah, sehingga segala amal dilakukan semata-mata karena Allah.
Ketiga:
Meningkatkan kesabaran dan ketakwaan agar lebih kuat menghadapi ujian kehidupan.
Keempat:
Menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial dengan membantu sesama, terutama mereka yang membutuhkan.
Dengan terus menerapkan nilai-nilai yang telah dipelajari selama puasa, seseorang akan menjadi pribadi yang lebih baik dan semakin dekat dengan Allah SWT
Puasa bukan sekadar ibadah tahunan, tetapi sebuah metode yang luar biasa dalam membentuk karakter dan menyucikan jiwa manusia.
Dengan memahami dan mengamalkan hakikat puasa sebagai sarana tazkiyatun nafs, seorang Muslim dapat mencapai derajat ketakwaan yang lebih tinggi dan menjadi pribadi yang lebih baik dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Semoga kita semua diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk terus menjalankan ibadah Puasa dengan penuh keikhlasan dan mampu mengaplikasikan nilai-nilai penyucian jiwa dalam kehidupan kita sehari-hari. (djl)