Menjaga Lisan dan Perbuatan Saat Berpuasa Berdasarkan Dalil Al-Qur’an dan Hadis
Minggu 02-03-2025,14:30 WIB
Reporter:
juliirawan|
Editor:
juliirawan
Radarseluma.disway.id - Menjaga Lisan dan Perbuatan Saat Berpuasa Berdasarkan Dalil Al-Qur’an dan Hadis--
Radarseluma.disway.id - Puasa dalam Islam bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk perkataan dan perbuatan yang dapat mengurangi atau bahkan membatalkan pahala Puasa.
Nabi Muhammad Rasulullah SAW mengajarkan bahwa Puasa adalah ibadah yang bukan hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga akhlak dan kesucian hati.
Oleh karena itu, menjaga lisan dan perbuatan selama berpuasa menjadi salah satu aspek penting dalam mencapai kesempurnaan ibadah Puasa Ramadhan ini.
Dalam Al-Qur'an dan Hadist, terdapat banyak dalil yang menegaskan pentingnya menjaga lisan dan perbuatan selama berpuasa.
Hal ini menunjukkan bahwa ibadah Puasa bukan hanya ritual fisik, tetapi juga bentuk latihan spiritual untuk meningkatkan ketaqwaan.
Pertama:
Menjaga Lisan Saat Berpuasa
Lisan merupakan anugerah dari Allah SWT yang dapat menjadi sumber kebaikan, akan tetapi juga dapat menjadi penyebab keburukan jika tidak dijaga dengan baik.
Dalam konteks Puasa, menjaga lisan berarti menghindari perkataan yang sia-sia, seperti dusta, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), serta ucapan kasar dan menyakiti orang lain.
Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 70 sebagaimana Allah SWT berfirman yang mana berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman Bertaqwa lah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar."
(QS. Al-Ahzab: 70)
Ayat ini menekankan bahwa betapa pentingnya berkata baik dan jujur dalam setiap keadaan, termasuk saat melaksanakan serangkaian ibadah Puasa Ramadhan.
Nabi Muhammad Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah Hadits nya yang diriwayatkan oleh Hadits Muslim No 1903 yang mana Rasulullah SAW bersabda yang berbunyi:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Artinya:
"Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan dia meninggalkan makanan dan minumannya." (HR. Bukhari No. 1903)
Hadis ini menegaskan bahwa tujuan Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga membersihkan diri dari perkataan yang buruk.
Jika seseorang berpuasa tetapi tetap berkata dusta dan melakukan Maksiat, maka puasanya menjadi sia-sia di sisi Allah SWT maka sangat lah rugi bagi kita Nanguzibillah minzaliq.
Kedua:
Menjaga Perbuatan Saat Berpuasa
Selain menjaga lisan, seorang Muslim juga wajib menjaga perbuatannya selama berpuasa, menjauhi perbuatan maksiat seperti berbuat zalim, mencuri, melihat hal-hal yang diharamkan, dan melakukan perbuatan dosa lainnya adalah bagian dari ibadah Puasa yang sempurna.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Isro ayat 36 yang mana berbunyi:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Artinya:
"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya."(QS. Al-Isra: 36)
Ayat ini mengingatkan bahwa segala perbuatan, baik yang dilakukan oleh anggota tubuh maupun yang ada dalam hati, akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, dalam berpuasa, seseorang harus menjaga perbuatannya agar tidak melakukan hal yang sia-sia atau merugikan orang lain.
Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim Nabi Muhammad Rasulullah SAW bersabda yang mana berbunyi:
إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ فَإِنِ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ
Artinya:
"Jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan bertengkar. Jika seseorang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia mengatakan
"Sesungguhnya aku sedang berpuasa" (HR. Bukhari No. 1904, Muslim No. 1151)
Hadis ini mengajarkan bahwa orang yang berpuasa harus mampu mengendalikan emosinya dan tidak mudah terpancing dalam pertengkaran atau perselisihan.
Ketiga:
Hikmah Menjaga Lisan dan Perbuatan Saat Berpuasa
Menjaga lisan dan perbuatan selama berpuasa memiliki banyak hikmah, di antaranya:
Pertama:
Meningkatkan Ketaqwaan
Puasa adalah ibadah yang bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan.
Dengan menjaga lisan dan perbuatan, seseorang akan lebih dekat kepada Allah SWT dan terhindar dari dosa.
Kedua:
Menjaga Kesucian Ibadah
Puasa yang dilakukan dengan menjaga lisan dan perbuatan akan lebih bernilai di sisi Allah SWT dan mendatangkan pahala yang sempurna.
Ketiga:
Melatih Kesabaran dan Pengendalian Diri
Puasa mengajarkan seseorang untuk lebih sabar dan mampu mengendalikan hawa nafsu, baik dalam perkataan maupun perbuatan.
Keempat:
Meningkatkan Hubungan Sosial
Dengan menjaga lisan dan perbuatan, seseorang akan lebih dihormati dan dicintai oleh orang-orang di sekitarnya, sehingga tercipta lingkungan yang harmonis.
Maka dari penjelasan diatas dapatlah kita simpulkan bahwa menjaga lisan dan perbuatan saat berpuasa adalah bagian penting dalam menyempurnakan ibadah Puasa. Al-Qur'an dan Hadits telah menegaskan bahwa Puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang buruk.
Dengan menjaga lisan dari perkataan dusta, ghibah, dan kata-kata yang tidak bermanfaat, serta menjaga perbuatan dari perbuatan maksiat dan dosa, seseorang akan mendapatkan pahala Puasa yang sempurna dan mencapai derajat Ketaqwaan yang lebih tinggi di sisi Allah SWT.
Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Ahmad berbunyi:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالظَّمَأ
Artinya:
"Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga." (HR. Ahmad No. 8693)
Demikianlah yang dapat kami sampaikan semoga kita semua termasuk orang-orang yang mampu menjaga lisan dan perbuatan kita selama berpuasa, dan setelah berakhir membentuk diri yang senantiasa menjaga lisan dan perbuatan dan semua rangkaian ibadah yang kita lakukan diterima dan mendatangkan keberkahan dalam kehidupan. Aamiin. (djl)
Sumber: