Hikmah Dan Fakta di Balik Sejarah Peristiwa Isra Mi’raj dalam Islam

Hikmah Dan Fakta di Balik Sejarah Peristiwa Isra Mi’raj dalam Islam

Radar Seluma. Disway.id Hikmah dan Fakta dibalik Peristiwa Perjalanan Isro Mi'raj Nabi Muhammad Rasulullah SAW --

Radar Seluma. Disway.id - Peristiwa Isra Miraj terjadi pada 27 Rajab di tahun kedelapan kenabian dan merupakan peristiwa perjalanan suci Nabi Muhammad SAW yang diilakukan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Palestina, hingga naik ke Sidratul Muntaha di langit ke tujuh dalam satu malam.
 
Jika dipikir menggunakan logika terasa tidak masuk akal, namun umat Islam harus mengimaninya karena terdapat keterangan dari hadits-hadits yang shahih dan juga Al-Qur’an. Pengertian peristiwa Isra Miraj mencatat, berdasarkan kajian sebagian besar ulama tafsir bahwa peristiwa Isra Miraj adalah suatu peristiwa yang amat istimewa dan Maha Agung.
 
Peristiwa tersebut disebutkan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an Surat Al-Isro ayat 1 yang berbunyi: 
 
سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ
Artinya:
“Maha Suci Allah, yang telah mempertahankan hambaNya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan padanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS Al Isra:1)
 
 
Adapun beberapa hal yang perlu diketahui di dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut. Di antaranya:
 
Nabi Muhammad SAW naik ke atas langit dengan Ruh dan Badannya Nabi Muhammad SAW di perjalanan oleh Allah SWT hingga ke atas langit dengan Badan dan Ruhnya. Dan badan beliau masih tetap dalam bentuk aslinya, tidak berubah menjadi cahaya, pemahaman Kewajiban Shalat.
 
Perayaan Isra Mi’raj maknanya adalah mengagungkan dan menghidupkan Sunnah Nabi Muhammad SAW karena perayaan Isra Mi’raj akan selalu mengangkat tema kisah Isra Mi’raj Nabi, dengan pembahasan panjang lebar dan ditekankan pada pemahaman kewajiban Shalat.
 
Nabi Muhammad SAW melihat Allah SWT dengan Mata Hatinya ketika Nabi Muhammad SAW di Mi’rajkan oleh Allah SWT, disebutkan bahwa beliau berbicara langsung dengan Allah SWT. Namun menurut jumhur ulama bahwa Nabi Muhammad SAW saat itu tidak melihat dengan mata kepala beliau, akan tetapi melihat Allah SWT dengan mata hati ya.
 
Allah SWT tidak butuh tempat. Nabi Muhammad SAW berbicara dengan Allah SWT di atas Mustawa.
Namun jangan berangan-angan bahwa Allah SWT ada di atas langit, maka yang perlu diketahui bahwa atas mustawa bukan tempat Allah SWT, melainkan tempat Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW bertemu para Nabi dan Rasul.
Nabi Muhammad SAW dalam keadaan hidup bertemu dengan para Nabi dan Rasul yang telah meninggal dunia dan berbincang.
 
 
Itu adalah merupakan Mukjizat dan yang dipahami para ulama bahwa orang yang hidup saat ini bisa saja bertemu dengan Nabi Muhammad SAW sebagai karomah yang diberikan oleh Allah SWT.
Meski peristiwa Isra Mi’raj ini mungkin tidak terfikir oleh nalar Manusia biasa wajib diimani oleh kaum muslim, berdasarkan kajian sebagian besar ulama tafsir bahwa peristiwa Isra Mi’raj adalah suatu peristiwa yang amat istimewa dan Maha Agung. Karena pada awal ayat Allah SWT berfirman diawali dengan kata ‘Subhaan‘ yang berarti ‘Maha Suci’, tidak terdapat pada 113 Surat lain dalam Al-Qur’an.
 
Ini dapat mewakili pembuktian kecintaan dan kasih-Nya Allah SWT terhadapnya hamba tercinta-Nya yakni Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
Ini juga merupakan peristiwa yang amat dahsyat karena tidak pernah dialami oleh Manusia-manusia sebelumnya.
Nabi Muhammad Rasulullah SAW menempuh perjalanan secepat kilat lalu naik ke langit hingga Sidratul Muntaha.
 
 
Dari peristiwa Isra Mi’raj, kita tentu perlu memahami hikmah dari perjalanan ini.
Banyak sekali hikmah dan pembelajaran yang bisa kita dapatkan dari perjalanan Nabi Muhammad Rasulullah SAW ini. Isra dan Mi’raj adalah perkara yang sangat jelas dan eksplisit disebutkan dalam Al Qur’an, sebuah kejadian yang pasti terjadi, pasti benar dan tak ada keraguan sama sekali meskipun akal Manusia tidak dapat menjangkaunya.
 
Sebelum perjalanan Isra Mi’raj dimulai, Rasulullah SAW terlebih dahulu dibedah hatinya oleh Malaikat Jibril dan Mikail untuk selanjutnya dicuci dengan air Zam-zam tiga kali dan isinya hati mulia itu dengan hikmah dan iman.
 
Pembedahan ini dilakukan sebelum memasuki inti cerita perjalanan Nabi Muhammad Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa,
untuk selanjutnya diteruskan hingga Sidratul Muntaha.
Dari pembedahan hati Nabi Muhammad SAW ini, kita  mendapatkan pelajaran bahwa hati adalah hal terpenting dalam diri Manusia.
 
Hati merupakan pusat metabolisme keimanan dan ketaqwaan, sedangkan sekarang banyak orang hanya mengandalkan otaknya dengan logika dan rasio dan meluapkan peran hati yang sangat penting ini.
Padahal berbagai pertimbangan keadilan dan kebenaran sumbernya adalah hati, bukan otak.
Hati membawa kita kepada kebaikan universal, sedangkan otak hanya akan mengantarkan kamu kepada kebaikan parsial, kebaikan yang telah tercampur dengan berbagai kepentingan.
 
 
Peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad Rasulullah SAW dalam waktu singkat telah tersebar luas kabarnya di masyarakat Mekkah.
Mengenai peristiwa itu kaum kafir Quraisy semakin membenci serta mengejek dan mencemooh Nabi Muhammad SAW.
Termasuk Abu Jahal menantang kepada Nabi Muhammad Rasulullah SAW untuk menceritakan peristiwa itu kepada masyarakat Mekkah, setelah masyarakat Mekkah berkumpul maka Nabi Muhammad Rasulullah SAW menceritakan peristiwa itu dengan rinci dan tiada yang terlewati.
 
Mendengar cerita Nabi Muhammad Rasulullah SAW bagi umat Islam yang masih lemah imannya banyak yang menjadi murtad tetapi bagi yang kuat imannya tetap tidak tergoyahkan dan tidak terpengaruh oleh ejekan itu, sebab mereka telah yakin tentang kebenaran Nabi Muhammad SAW. Cerita lain dari peristiwa ini terhadap apa yang dilakukan Abu Bakar Ash Shiddiq, ia mempunyai sikap yang berbeda dengan yang lain, setelah ia datangi orang-orang yang masih ragu dengan peristiwa Isra Mi’raj.
 
Abu Bakar mendatangi Rasulullah SAW dan meminta penjelasan langsung. Setelah mendengar sendiri dari Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash Shiddiq langsung menerimanya oleh sebab itu Nabi Muhammad SAW memanggilnya dengan sebutan “Ash-Shiddiq”. Dari penjelasan tersebut dapat diambil hikmah bahwa peristiwa Isra Miraj hendaknya menambah dan mempertebal keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintahNya yakni melaksanakan sholat lima waktu. (djl).

Sumber:

Berita Terkait