Menyelusuri Asal-Usul Suku Rejang: Sejarah Perjalanan dan Persebaran di Tanah Bengkulu
Radarseluma.disway.id - Menyelusuri Asal-Usul Suku Rejang: Sejarah Perjalanan dan Persebaran di Tanah Bengkulu--
Reporter: Juli Irawan Radarseluma.disway.id -Bengkulu tidak hanya dikenal karena lanskap pesisir Samudra Hindia dan gugusan Bukit Barisan, tetapi juga karena mozaik kebudayaannya. Di antara mozaik itu, Suku Rejang menempati posisi istimewa sebagai salah satu komunitas terbesar dan tertua di pedalaman Bengkulu. Identitas Rejang yang tampak dalam bahasa, adat, arsitektur, hingga sistem kekerabatan merekam jejak panjang pertemuan manusia dengan alam pegunungan, jalur-jalur dagang antarpulau, serta arus sejarah dari masa pra-kolonial hingga Indonesia modern. Tulisan ini menelusuri asal-usul Suku Rejang, perjalanan sejarahnya, dan peta persebarannya di Bengkulu, sebagai upaya memahami warisan budaya yang terus hidup di tengah perubahan zaman.
Jejak Historis: Dari Pedalaman Bukit Barisan ke Ulu Sungai
Secara geografis-historis, komunitas Rejang tumbuh di wilayah ulu sebutan untuk hulu-hulu sungai yang mengalir dari perbukitan menuju pesisir barat Sumatra. Sungai Musi, Ketahun, dan beberapa anak sungai lain menjadi koridor alami pemukiman, pertanian, dan mobilitas. Akses yang menantang membentuk karakter masyarakat yang tangguh serta relatif mandiri. Dalam sejumlah tradisi lisan, leluhur Rejang sering dikaitkan dengan kelompok-kelompok penutur Austronesia yang sejak ribuan tahun lalu bergerak menyusur pantai dan pegunungan Sumatra, membawa teknologi pertanian lahan kering, perladangan, dan kosmologi adat yang kaya simbol.
Di masa-masa pra-kolonial, hubungan Rejang dengan pusat-pusat kekuasaan di pesisir termasuk jaringan dagang lada dan emas mendorong terbentuknya struktur sosial yang fleksibel: adanya marga dan lebai atau tua-tua adat yang menjadi rujukan musyawarah, penyelesaian sengketa, dan pengelolaan sumber daya. Memasuki periode kolonial, kebijakan tanam paksa, pajak, dan pendataan penduduk memengaruhi pola permukiman serta alur migrasi. Namun, inti budaya Rejang tetap bertahan melalui adat, bahasa, dan ritus-ritus siklus hidup yang diwariskan antargenerasi.
BACA JUGA:Pesona Rumah Adat Rejang: Warisan Leluhur yang Menyimpan Filosofi Hidup
Asal-Usul dan Identitas Budaya
Asal-usul Suku Rejang tidak tunggal sumbernya. Selain hipotesis migrasi Austronesia, tradisi lisan menyebut nenek moyang yang datang “dari ulu ke ulu” mengikuti punggungan pegunungan lalu mendirikan tanah-tanah marga. Identitas Rejang kemudian tumbuh dari tiga unsur kunci:
1. Kedaulatan Adat: Hukum adat (sering dirujuk sebagai aturan marga) menekankan musyawarah, keseimbangan hak dan kewajiban, serta sanksi sosial yang berfungsi menjaga harmoni.
2. Keterikatan pada Lahan: Pola mata pencaharian tradisional ladang berpindah, perkebunan lada/kopi/cengkih, serta hasil hutan mencerminkan pengetahuan ekologis yang terakumulasi lama.
3. Konektivitas Regional: Walau berakar di pedalaman, Rejang tidak terputus dari pesisir. Jaringan kekerabatan, perdagangan, dan pernikahan antarsuku (Serawai, Pasemah, Lembak, Melayu Bengkulu, dan lainnya) memperkaya budaya setempat.
Bahasa Rejang dan Aksara Tradisional
Bahasa Rejang termasuk rumpun Austronesia, dengan sejumlah dialek lokal yang berkembang sesuai wilayah marga. Bahasa ini memiliki kosakata khas untuk alam, adat, dan kekerabatan. Dalam sejarah literasi, Rejang dikenal memiliki tradisi aksara Kaganga (serumpun dengan aksara-aksara surat di Sumatra bagian selatan) yang dahulu digunakan untuk catatan adat, mantra, dan komunikasi antarmarga. Walau kini alfabet Latin mendominasi, kebanggaan pada warisan aksara lama kembali digiatkan melalui pelatihan komunitas, muatan lokal sekolah, serta dokumentasi oleh pegiat budaya.
BACA JUGA:Pakaian Adat Rejang: Warisan Leluhur yang Sarat Filosofi, Identitas, dan Nilai Moral
Sistem Adat, Kekerabatan, dan Ritus
Pada tingkat komunitas, struktur marga menjadi payung sosial. Pemimpin adat dengan sebutan berbeda sesuai lokalitas berperan menjaga tatanan, memimpin ruang musyawarah (balai adat), dan memastikan keberlanjutan nilai. Ritus kelahiran, khitan, perkawinan, dan kematian diselenggarakan dengan tata upacara yang memadukan nilai Islam (yang dianut mayoritas Rejang) dan tradisi leluhur. Perkawinan memiliki perangkat adat yang rinci mulai dari seserahan hingga pantun yang menegaskan etika silaturahmi antar keluarga. Sanksi adat, seperti denda atau adat malu, lebih berorientasi pemulihan harmoni ketimbang penghukuman semata.
Persebaran Geografis di Bengkulu
Hingga hari ini, komunitas Rejang tersebar terutama di Kabupaten Rejang Lebong, Kepahiang, Lebong, serta sebagian Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah. Di wilayah-wilayah ini, jejak Rejang tampak dalam toponimi desa, struktur marga, hingga tradisi lisan.
• Rejang Lebong kerap dipandang sebagai salah satu jantung budaya Rejang, dengan Kota Curup sebagai simpul ekonomi dan pendidikan.
Sumber: