Rumah Sejarah Fatmawati di Bengkulu Jejak Sang Penjahit Merah Putih dari Bengkulu ke Panggung Nasional
Radarseluma.disway.id - Rumah Sejarah Fatmawati di Bengkulu Jejak Sang Penjahit Merah Putih dari Bengkulu ke Panggung Nasional --
Reporter: Juli Irawan Radarseluma.disway.id - Di jantung Kota Bengkulu, berdiri sebuah rumah panggung sederhana yang menyimpan kisah besar: Rumah Sejarah Fatmawati Soekarno. Di sinilah memori tentang Ibu Negara pertama Indonesia dirawat, dipamerkan, dan dihidupkan kembali bukan hanya sebagai catatan biografis, tetapi sebagai denyut sejarah yang membesarkan bangsa. Rumah ini merekam masa muda Fatmawati putri Bengkulu yang kelak menjahit Sang Saka Merah Putih serta kedekatannya dengan Bung Karno ketika beliau menjalani pengasingan di kota yang sama. Berlokasi di Jalan Fatmawati, Kelurahan Penurunan, Kecamatan Ratu Samban, bangunan ini telah ditetapkan sebagai aset cagar budaya daerah, berukuran sekitar 92 meter persegi di atas lahan ±500 meter persegi. Arsitekturnya berbentuk rumah panggung kayu dengan napas Bumbungan Lima, lengkap dengan ragam ornamen tradisional.
Fakta Sejarah yang Menarik
Pertama, kedekatan geografis rumah ini dengan situs pengasingan Bung Karno memperkuat konteks sejarahnya. Jaraknya hanya sekitar 200 meter dari Rumah Pengasingan Soekarno membuat dua situs ini seperti sepasang halaman yang saling menyapa: satu merekam perjuangan seorang proklamator, satunya lagi menumbuhkan sosok Ibu Bangsa. Rangkaian peristiwa, perjumpaan, dan dialog intelektual yang mengalir di Bengkulu pada akhir 1930-an terangkum secara fisik oleh kedekatan dua rumah tersebut.
Kedua, mesin jahit Singer tahun 1941 ikon paling dicari pengunjung ditampilkan sebagai saksi bisu dedikasi Fatmawati terhadap Indonesia. Mesin ini identik dengan narasi penjahitan Bendera Pusaka yang dikibarkan saat Proklamasi 17 Agustus 1945. Di ruang tamu, pengunjung biasa mendapati mesin tersebut berdampingan dengan foto-foto dan diorama perjalanan keluarga Bung Karno sebuah kurasi yang menautkan benda, manusia, dan momen sejarah.
Ketiga, rumah ini bukan sekadar “galeri foto”. Ia memuat aneka perabot asli (meja rias, ranjang), pakaian kebaya yang pernah dikenakan Fatmawati, hingga foto keluarga bersama Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. Koleksi-koleksi tersebut menghadirkan suasana domestik yang hangat dan membumi sebuah “kelas sejarah” yang mudah diakses siapa pun.
Keempat, sebagai edukasi publik, penting dicatat bahwa proses penjahitan Bendera Pusaka dilakukan di Jakarta, di rumah Pegangsaan Timur 56 bukan di Bengkulu. Penegasan ini justru memperjelas benang merah: Bengkulu adalah ruang tumbuh pembentukan karakter, sementara Jakarta menjadi panggung aksi bersejarahnya.
BACA JUGA:Rumah Adat Bengkulu: Warisan Arsitektur yang Mulai Terlupakan Generasi Muda
Arsitektur & Ornamen: Bumbungan Lima yang Elok
Rumah Sejarah Fatmawati menampilkan tipologi Bumbungan Lima gaya atap dan komposisi rumah panggung khas Bengkulu yang memadukan fungsi, iklim, dan estetika. Di sejumlah bidang kayu, kita temui motif Pucuk Rebung (tumbuh kokoh dalam persatuan), Lebah Bergayut (kerelaan berkorban), dan Bunga Soraja (syukur atas kelebihan dan kekurangan). Ragam hias ini bukan sekadar dekorasi: ia adalah “teks” visual yang menuturkan falsafah hidup masyarakat setempat, menjadikan bangunan ini sekaligus arsip arsitektur tradisional.
Peninggalan-Peninggalan yang Dipamerkan
Masuk ke dalam, pengunjung serasa melangkah ke ruang keluarga yang dibekukan waktu:
• Mesin Jahit Singer (1941) berikut meja kerjanya ikon yang mengaitkan rumah ini dengan narasi Bendera Pusaka.
• Perabot autentik: meja rias, tempat tidur, lemari kayu, menegaskan karakter domestik rumah panggung awal abad ke-20.
• Busana Fatmawati (kebaya, kain batik/besurek) pada manekin, mengilustrasikan gaya berbusana Ibu Negara pertama yang anggun sekaligus nasionalis.
• Foto-foto keluarga & kunjungan kenegaraan, dari potret muda hingga era Ibu Negara merekam transformasi pribadi dan publiknya.
Beberapa liputan juga menyebut kehadiran kain-kain tradisional Bengkulu (kain besurek) dalam narasi pamer, yang memperkaya konteks lokal wastra di sekitar rumah dan ekosistem museumnya.
Sumber: