Rumah Adat Bengkulu: Warisan Arsitektur yang Mulai Terlupakan Generasi Muda

Rumah Adat Bengkulu: Warisan Arsitektur yang Mulai Terlupakan Generasi Muda

Radarseluma.disway.id - Rumah Adat Bengkulu: Warisan Arsitektur yang Mulai Terlupakan Generasi Muda--

Reporter: Juli Irawan Radarseluma.disway.id - Sejarah dan budaya suatu daerah tidak hanya terekam melalui catatan lisan atau naskah kuno, tetapi juga tampak nyata melalui bentuk bangunan tradisional. Bengkulu, sebuah provinsi yang kaya dengan nilai sejarah dan warisan budaya, memiliki rumah adat khas yang disebut Rumah Bubungan Lima atau dalam sebutan lain dikenal juga sebagai Rumah Adat Bengkulu. Rumah adat ini merupakan simbol kebijaksanaan leluhur dalam memadukan nilai estetika, filosofi kehidupan, serta kecerdasan lokal dalam menghadapi kondisi alam.

Namun, sangat disayangkan bahwa di tengah modernisasi dan perubahan zaman, rumah adat ini mulai jarang dijumpai. Generasi muda Bengkulu banyak yang lebih mengenal rumah bergaya minimalis modern daripada bentuk rumah adat asli daerahnya sendiri. Padahal, di balik setiap tiang, atap, dan ukiran pada rumah adat Bengkulu, tersimpan makna mendalam tentang kehidupan, persaudaraan, serta hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.

Artikel ini akan mengupas secara panjang lebar bentuk, filosofi, serta pesan yang terkandung dalam rumah adat Bengkulu. Harapannya, generasi muda tidak hanya sekadar tahu, tetapi juga mampu mencintai, melestarikan, dan bangga dengan warisan budaya daerahnya.

Bentuk dan Desain Rumah Adat Bengkulu

Rumah adat Bengkulu memiliki ciri khas berbentuk rumah panggung dengan struktur utama terbuat dari kayu. Tiang-tiang penopang yang kokoh menahan lantai rumah memiliki makna perlindungan, karena secara geografis Bengkulu rawan banjir dan gempa. Dengan konsep rumah panggung, masyarakat Bengkulu tempo dulu mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekaligus menjaga keselamatan keluarga.

Atap rumah adat Bengkulu berbentuk bubungan lima dengan kemiringan yang cukup tajam. Bentuk atap ini tidak hanya sekadar elemen arsitektur, tetapi juga memiliki pesan filosofis. Lima bubungan melambangkan lima sendi kehidupan masyarakat, yaitu hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, keluarga, alam, dan adat istiadat.

Pada bagian dinding, biasanya terbuat dari papan kayu yang disusun rapi dan kadang dihiasi dengan ukiran motif bunga raflesia, burung, atau sulur-suluran. Motif ini menggambarkan keindahan alam Bengkulu dan kekuatan spiritual masyarakatnya. Jendela rumah cukup besar, menandakan keterbukaan orang Bengkulu terhadap tamu dan interaksi sosial.

Rumah adat ini juga memiliki tangga di bagian depan, biasanya berjumlah ganjil seperti 5, 7, atau 9 anak tangga. Angka ganjil dipilih karena dianggap sakral, melambangkan keberuntungan serta doa kebaikan bagi penghuni rumah.

BACA JUGA:Rumah Pengasingan Soekarno di Bengkulu: Jejak Perjuangan, Cinta, dan Sumur Tua Penuh Misteri

Makna dan Pesan Filosofi Rumah Adat Bengkulu

Rumah adat bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga merupakan simbol kehidupan masyarakat Bengkulu. Berikut makna dan pesan yang terkandung di dalamnya:

1. Keharmonisan dengan Alam

Struktur panggung menunjukkan bahwa nenek moyang Bengkulu hidup berdampingan dengan alam. Ruang kosong di bawah rumah biasanya digunakan untuk memelihara hewan atau sebagai tempat penyimpanan kayu. Hal ini mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan ruang tanpa merusak lingkungan.

2. Kehidupan Sosial yang Terbuka

Ukuran jendela yang lebar melambangkan keterbukaan masyarakat Bengkulu terhadap siapa pun yang datang. Rumah adat bukan hanya milik keluarga inti, tetapi juga menjadi tempat berkumpulnya kerabat dan masyarakat saat ada acara adat atau musyawarah.

3. Kesakralan dalam Simbol Angka

Sumber:

Berita Terkait