Generasi Tanpa Pengenalan Akan Allah dan Rasul-Nya: Krisis Spiritual di Era Modern
Jumat 28-11-2025,10:58 WIB
Reporter:
juliirawan|
Editor:
juliirawan
Radarseluma.disway.id - Generasi Tanpa Pengenalan Akan Allah dan Rasul-Nya: Krisis Spiritual di Era Modern--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Salah satu ujian terbesar umat Islam di era modern adalah lahirnya generasi yang tidak lagi mengenal Allah dan Rasul-Nya. Fenomena ini bukan sekadar kekhawatiran, tetapi kenyataan yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari: anak-anak dan remaja yang fasih dengan teknologi, tren global, dan budaya luar, namun asing terhadap Al-Qur’an, tidak mengenal sunnah Nabi, bahkan tidak mampu membaca doa harian yang mendasar.
Padahal, mengenalkan Allah dan Rasul-Nya kepada anak sejak dini adalah fondasi utama pembentukan karakter Islam. Bila aqidah tidak tertanam, maka akan muncul generasi yang rapuh, mudah terpengaruh, jauh dari adab, dan lemah dalam menghadapi tantangan zaman. Dalam Al-Qur’an, Allah telah mengingatkan bahayanya meninggalkan generasi tanpa nilai ketaqwaan.
Allah berfirman:
﴿ وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةًۭ ضِعَـٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًۭا سَدِيدًۭا ﴾
Artinya: "Dan hendaklah takut orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan setelah mereka generasi yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An-Nisa: 9)
Ayat ini menegaskan bahwa generasi yang tidak dibekali iman dan ketaqwaan adalah generasi yang “dha’if” lemah. Lemah spiritualnya, moralnya, dan masa depannya.
Penyebab Lahirnya Generasi yang Tidak Mengenal Allah dan Rasul-Nya
1. Kurangnya Pendidikan Agama Sejak Dini
Banyak orang tua terlalu fokus pada pendidikan umum dan mengabaikan pendidikan agama. Anak-anak diberi les matematika, bahasa Inggris, komputer, tetapi tidak diberi perhatian untuk belajar Al-Qur’an atau hadits Nabi.
Rasulullah SAW bersabda:
« كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ »
Artinya: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa orang tua memegang peran terpenting dalam membentuk aqidah anak. Bila mereka tidak mengenalkan Allah, jangan heran anak tumbuh jauh dari Agama.
2. Pengaruh Teknologi dan Media Tanpa Batas
Anak zaman sekarang lebih mengenal tokoh kartun, gamer, idol K-pop, influencer, dan selebriti dunia dibanding para nabi atau sahabat Nabi.
Padahal Allah memperingatkan:
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ
Artinya: “Dan di antara manusia ada yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.” (QS. Luqman: 6)
Kini, “lahw al-hadits” hadir dalam bentuk modern: game, hiburan tanpa batas, tontonan yang merusak moral, dan budaya luar yang mengikis kecintaan kepada Agama.
3. Orang Tua Sibuk Dunia, Lalai Akhirat
Kesibukan mencari nafkah sering membuat sebagian orang tua lupa mendidik anak. Anak akhirnya lebih banyak belajar dari internet dan lingkungan, bukan dari orang tua.
Allah berfirman:
﴿ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا ﴾
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)
Menjaga keluarga dari neraka hanya bisa dilakukan dengan pendidikan agama yang benar.
4. Lingkungan Sosial yang Minim Nilai Keislaman.
Anak-anak sering bergaul di lingkungan yang tidak mendukung perkembangan iman. Tidak ada majelis ilmu, tidak ada teladan yang mengajak kebaikan, dan bahkan terkadang justru didorong untuk meninggalkan Agama.
Rasulullah SAW bersabda:
« الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ »
Artinya: "Seseorang itu mengikuti agama temannya. Maka lihatlah dengan siapa ia berteman." (HR. Abu Dawud)
Bila temannya jauh dari agama, kemungkinan besar ia ikut jauh pula.
5. Menjauh dari Al-Qur’an dan Sunnah
Al-Qur’an bukan lagi bacaan harian, tetapi hanya pajangan di lemari. Sunnah Nabi tidak menjadi pedoman hidup, tetapi hanya slogan.
Allah berfirman:
وَقَالَ ٱلرَّسُولُ يَـٰرَبِّ إِنَّ قَوْمِى ٱتَّخَذُوا۟ هَـٰذَا ٱلْقُرْءَانَ مَهْجُورًۭا
Artinya: "Berkatalah Rasul: Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan."(QS. Al-Furqan: 30)
Ayat ini tepat menggambarkan kondisi sebagian umat hari ini.
Dampak Lahirnya Generasi Tanpa Pengenalan Allah dan Rasul
1. Hilangnya adab dan sopan santun
Banyak anak tidak lagi menghormati orang tua, guru, atau orang yang lebih tua.
2. Rentan terjerumus ke pergaulan bebas, narkoba, dan maksiat.
3. Tidak memiliki arah hidup
Karena tidak memahami tujuan diciptakannya manusia.
Yang membuat mereka berani bermaksiat tanpa malu.
5. Merosotnya moralitas masyarakat secara keseluruhan.
Rasulullah SAW bersabda:
« إِذَا لَمْ تَسْتَحِي فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ »
Artinya: "Jika engkau sudah tidak punya rasa malu, maka lakukanlah sesukamu."
(HR. Bukhari)
Generasi tanpa agama adalah generasi yang hilang rasa malunya.
Solusi Membangun Generasi yang Mengenal Allah dan Rasul-Nya
1. Memulai Pendidikan Tauhid dari Rumah
Orang tua adalah sekolah pertama. Ajarkan anak mengenal Allah: bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui.
2. Menghidupkan Rumah dengan Al-Qur’an
Biasakan membaca Al-Qur’an dalam keluarga, walau hanya beberapa ayat setiap hari.
3. Menjadi Teladan dalam Perilaku
Anak belajar dari apa yang ia lihat, bukan dari apa yang ia dengar.
4. Memperkenalkan Kisah Para Nabi dan Sahabat
Kisah Nabi Muhammad SAW, Umar, Ali, dan lainnya mampu membentuk karakter tangguh.
5. Membatasi Akses Gadget dan Media
Kontrol konten yang dikonsumsi anak, bukan membiarkan mereka bebas tanpa pengawasan.
6. Mengajak Anak ke Majelis Ilmu dan Masjid
Masjid adalah tempat terbaik untuk menumbuhkan cinta kepada agama.
Lahirnya generasi yang tidak mengenal Allah dan Rasul-Nya adalah ancaman serius bagi umat Islam. Generasi seperti ini akan kehilangan arah, minim adab, dan jauh dari nilai-nilai keislaman.
Sebaliknya, generasi yang dibesarkan dengan aqidah yang kuat akan menjadi pemimpin masa depan yang berakhlak mulia dan mampu menjaga agama.
Generasi beriman tidak lahir begitu saja. Mereka harus dididik, dibimbing, ditemani, dan diteladani. Peran orang tua, guru, lingkungan, dan masyarakat sangat menentukan.
Semoga artikel ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa mendidik generasi agar mengenal Allah dan mencintai Rasulullah SAW bukan pilihan, tetapi kewajiban. Mari kita mulai dari keluarga kita sendiri agar tidak lahir generasi yang lemah iman dan terputus dari agamanya.
Semoga Allah menjaga anak-anak kita dan menjadikan mereka generasi yang bertauhid, beradab, dan berakhlak mulia. (djl)
Sumber: