Maraknya Makanan Cepat Saji, Membuat Trend Global "Garis pinggang orang Barat"
Akibat banyaknya swalayan atau toko serba ada menjual junk food--
MELBOURNE, AUSTRALIA, Radarseluma.Disway.Id - Baru saja diterbitkan di Nature Food , studi oleh para peneliti dari Deakin University di Australia dan para ahli dari UNICEF, mengungkap pergeseran seismik dalam jenis simpanan makanan yang bermunculan secara global selama 15 tahun terakhir, dengan implikasi kesehatan yang serius bagi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang rentan.
BACA JUGA:Mantan Bupati Seluma Erwin Octavian Daftar ke Golkar BS, Maju di PSU
Dengan menganalisis data dari 97 negara tentang perubahan ritel selama 15 tahun terakhir, studi tersebut menunjukkan bahwa jumlah jaringan supermarket, hipermarket, dan minimarket per 10.000 orang meningkat sebesar 23,6% secara global selama periode tersebut. Dengan dominasi pasar oleh jenis pengecer ini menjadi norma di negara-negara berpenghasilan tinggi, negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah meniru tren tersebut dan mengejar ketertinggalan dengan cepat. Di Asia Selatan dan Asia Tenggara, jumlah gerai ritel jaringan per orang telah meningkat hampir 10% per tahun, dengan penurunan yang sesuai di toko-toko tradisional yang dimiliki secara independen.
Dan sebagai tanda bahwa ritel akan mengalami perubahan yang lebih besar, penjualan bahan makanan dari pengecer digital meningkat sebesar 325% selama periode 10 tahun di 27 negara.
Dalam indikasi yang jelas bahwa makin banyak supermarket dan toko serba ada berdampak buruk bagi kesehatan kita, para peneliti menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa dalam skala global, perubahan dalam kepadatan gerai ritel berantai dan makin banyaknya makanan tidak sehat yang dijual oleh mereka dikaitkan dengan peningkatan prevalensi obesitas, yang terus meningkat di setiap kawasan di dunia dan merupakan masalah global yang sangat memprihatinkan.
Dan bagaimana peningkatan jumlah pengecer berantai berdampak pada kesehatan kita?
Sumber: