Asal Usul Hari Sabtu: Keistimewaan dan Peristiwa Penting dalam Perspektif Islam
Radarseluma.disway.id - Asal Usul Hari Sabtu: Keistimewaan dan Peristiwa Penting dalam Perspektif Islam--
Reporter: Juli Irawan Radarseluma.disway.id - Hari-hari dalam sepekan memiliki kedudukan masing-masing di sisi Allah SWT. Dalam tradisi Islam, sebagian hari memiliki keutamaan yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits, seperti hari Jumat yang disebut sebagai sayyidul ayyam (penghulu segala hari). Namun demikian, hari lain pun memiliki sejarah dan pelajaran yang bisa dipetik, termasuk Hari Sabtu.
Hari Sabtu dalam Al-Qur’an disebut dengan istilah As-Sabt yang berarti “hari berhenti atau hari istirahat.” Penyebutan ini merujuk pada kaum Yahudi yang menjadikan hari Sabtu sebagai hari beribadah dan berhenti dari aktivitas duniawi. Allah SWT bahkan menyinggung secara khusus tentang larangan melanggar aturan pada hari Sabtu dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Dari sinilah kita dapat menggali makna dan peristiwa yang terkait dengan hari Sabtu, serta mengambil ibrah agar umat Islam tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Asal Usul Hari Sabtu
Secara bahasa, kata Sabtu berasal dari bahasa Arab As-Sabt (ٱلسَّبْتُ) yang bermakna “berhenti” atau “diam.” Makna ini sesuai dengan tradisi Bani Israil yang berhenti bekerja pada hari Sabtu sebagai bentuk pengagungan. Dalam sejarah, hari Sabtu ditetapkan sebagai hari ibadah oleh Allah untuk Bani Israil, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
Firman Allah dalam QS. An-Nahl:124:
إِنَّمَا جُعِلَ ٱلسَّبْتُ عَلَى ٱلَّذِينَ ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ ۚ وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ فِيمَا كَانُوا۟ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ
Artinya:
“Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu itu hanya atas orang-orang yang berselisih tentangnya; dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberikan keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat terhadap apa yang dahulu mereka perselisihkan.” (QS. An-Nahl:124)
Ayat ini menegaskan bahwa penetapan hari Sabtu sebagai hari khusus adalah bagi kaum Yahudi yang berselisih. Umat Islam tidak lagi diwajibkan mengagungkan Sabtu, karena Allah telah memuliakan umat Muhammad SAW dengan hari Jumat.
BACA JUGA:Asal Usul dan Keistimewaan Hari Jum’at: Hari Agung Penuh Berkah dalam Islam
Keistimewaan Hari Sabtu dalam Sejarah Umat Terdahulu
Hari Sabtu bukanlah hari utama bagi umat Islam, namun dalam catatan sejarah ia menjadi pelajaran besar bagi umat manusia. Salah satu peristiwa penting terkait hari Sabtu adalah kisah Ashab as-Sabt (para pelanggar hari Sabtu).
Allah SWT menceritakan dalam Al-Qur’an tentang sekelompok kaum Yahudi yang diuji dengan larangan menangkap ikan pada hari Sabtu. Namun mereka melanggar perintah itu dengan membuat siasat licik.
Firman Allah dalam QS. Al-A’raf:163:
وَسْـَٔلْهُمْ عَنِ ٱلْقَرْيَةِ ٱلَّتِى كَانَتْ حَاضِرَةَ ٱلْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِى ٱلسَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَـٰنُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًۭا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَبْلُوهُم بِمَا كَانُوا۟ يَفْسُقُونَ
Artinya:
“Dan tanyakanlah kepada mereka (orang-orang Yahudi) tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, ketika ikan-ikan mereka datang kepada mereka terapung-apung di permukaan air pada hari Sabtu, dan pada hari-hari mereka bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka karena mereka berlaku fasik.” (QS. Al-A’raf:163)
Peristiwa ini menjadi peringatan keras agar manusia tidak melanggar aturan Allah meskipun dengan tipu daya. Pada akhirnya, mereka yang melanggar diperintahkan Allah untuk dijauhi dan diubah menjadi kera yang hina.
Sumber: