Hijrah Sosial: Memperbaiki Hubungan Sesama di Bulan Penuh Berkah

Hijrah Sosial: Memperbaiki Hubungan Sesama di Bulan Penuh Berkah

Radarseluma.disway.id - Hijrah Sosial: Memperbaiki Hubungan Sesama di Bulan Penuh Berkah--

Reporter: Juli Irawan 

Radarseluma.disway.id - Bulan Muharam, sebagai pembuka tahun baru dalam kalender Hijriyah, merupakan momentum yang sangat tepat untuk melakukan introspeksi diri dan pembenahan secara menyeluruh. Hijrah yang kita pahami tidak hanya bermakna pindah tempat secara fisik, tetapi lebih dalam lagi adalah perpindahan dari kondisi buruk menuju kebaikan, dari kebencian menuju kasih sayang, dari permusuhan menuju perdamaian, termasuk dalam hubungan kita dengan sesama manusia.

Hubungan sosial merupakan salah satu aspek penting dalam ajaran Islam. Keimanan seseorang tidak hanya diukur dari seberapa taat ia kepada Allah SWT, tetapi juga dari seberapa baik ia berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu, memperbaiki hubungan dengan sesama adalah bagian tak terpisahkan dari hijrah sejati.

Hakikat Hijrah dalam Islam

Hijrah bukan sekadar peristiwa sejarah ketika Rasulullah SAW berpindah dari Makkah ke Madinah, namun memiliki makna spiritual dan sosial yang sangat luas. Rasulullah SAW bersabda:

«وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ»

Artinya: “Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari, no. 10)

Hadits ini menegaskan bahwa hakikat hijrah adalah meninggalkan segala bentuk dosa dan maksiat, termasuk dosa-dosa sosial seperti memutus silaturahmi, menebar fitnah, hasad, dan dendam.

BACA JUGA:Pertengahan Bulan Muharam: Saat Tepat Mengevaluasi Niat dan Menyenangkan Amal Kebaikan

Pentingnya Memperbaiki Hubungan Sosial dalam Islam

Islam menempatkan hubungan sosial sejajar pentingnya dengan hubungan kepada Allah SWT. Bahkan dalam banyak ayat dan hadits, disebutkan bahwa amal ibadah yang dilakukan seseorang bisa tertolak jika hubungannya dengan sesama manusia rusak. Salah satu contohnya adalah firman Allah SWT:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat ini menegaskan bahwa umat Islam adalah satu keluarga besar yang diikat oleh iman, dan setiap bentuk perselisihan harus segera diperbaiki demi mendapatkan rahmat Allah SWT.

Keutamaan Memaafkan dan Menyambung Silaturahmi

Allah SWT sangat mencintai orang-orang yang memaafkan dan menghubungkan kembali tali persaudaraan. Bahkan, menyambung silaturahmi menjadi indikator utama keberkahan hidup dan umur panjang.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bulan Muharam adalah saat yang tepat untuk memulai kembali komunikasi yang sempat terputus, meminta maaf, dan membuka lembaran baru dalam hubungan sosial. Menunda-nunda kebaikan hanya akan memperpanjang permusuhan dan menghalangi keberkahan.

BACA JUGA:Hijrah Menuju Kehidupan Zuhud dan Qana'ah: Jalan Menuju Ketenangan Hati di Dunia yang Fana

Menghindari Penyakit Hati dan Konflik Sosial

Dalam hubungan antarsesama, banyak sekali hal yang bisa menimbulkan konflik. Oleh sebab itu, Islam menganjurkan untuk menjauhi prasangka buruk (su’uzhan), ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dan permusuhan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah menggunjing satu sama lain.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini memberi garis panduan dalam membangun hubungan sosial yang sehat: jaga prasangka, jaga lisan, dan jaga hati.

Langkah-Langkah Memperbaiki Hubungan Sosial di Bulan Hijrah

1. Introspeksi Diri: 

Mulailah dengan melihat ke dalam, mengakui kesalahan pribadi dalam hubungan yang rusak.

2. Meminta dan Memberi Maaf: 

Memaafkan adalah sifat mulia, dan meminta maaf adalah bentuk kerendahan hati yang luhur.

3. Menyambung Silaturahmi: 

Hubungi kembali orang-orang yang pernah berselisih, kirim pesan atau datang langsung.

4. Bersikap Tawadhu dan Sabar: 

Perbaikan hubungan butuh keteguhan hati dan kesabaran.

5. Perbanyak Doa dan Dzikir: 

Mohon kepada Allah agar dilembutkan hati, diberi jalan keluar dalam setiap permasalahan sosial

Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Hijrah sosial adalah bentuk nyata dari implementasi iman dalam kehidupan bermasyarakat. Perubahan menuju kebaikan bukan hanya pada aspek ritual, tetapi juga sangat penting pada aspek sosial. Membenahi hubungan dengan sesama adalah jalan menuju ridha Allah dan kunci keberkahan hidup.

Mengambil semangat hijrah di bulan Muharam, mari kita buka lembaran baru dalam hubungan kita dengan sesama. Jangan biarkan dendam, ego, dan kebencian merusak ukhuwah yang telah dibangun. Karena di mata Allah, orang yang paling mulia adalah mereka yang paling bertakwa dan paling peduli terhadap saudaranya.

Bulan Muharam adalah momentum emas untuk melakukan transformasi diri, tidak hanya dalam hubungan dengan Allah, tetapi juga dengan sesama manusia. Hijrah sosial adalah manifestasi dari keimanan yang hidup dan bergerak, menciptakan harmoni dan keberkahan dalam masyarakat. Semoga kita semua mampu menjadi insan yang lebih baik, yang hijrahnya benar-benar terasa dalam sikap, lisan, dan perilaku.

"Barangsiapa yang tidak mampu memperbaiki hubungannya dengan manusia, maka sulit baginya menyempurnakan hubungannya dengan Allah." – (Ulama Salaf) (djl) 

Sumber:

Berita Terkait