Hijrah Akhlak: Menyulam Ucapan Kasar Menjadi Santun, Menuju Masyarakat Madani
Radarseluma.disway.id - Hijrah Akhlak: Menyulam Ucapan Kasar Menjadi Santun, Menuju Masyarakat Madani--
Reporter: Juli Irawan | Radarseluma.disway.id - Di tengah arus deras perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, kita menyaksikan sebuah fenomena yang mengkhawatirkan: maraknya penggunaan kata-kata kasar, caci maki, dan ujaran kebencian dalam kehidupan sehari-hari, baik di dunia nyata maupun di ruang digital. Ucapan kasar seolah menjadi hal lumrah, bahkan dalam forum publik dan media sosial yang semestinya menjadi ruang edukatif dan inspiratif.
Padahal, dalam Islam, ucapan yang baik merupakan cerminan akhlak mulia dan tanda keimanan yang benar. Oleh karena itu, penting bagi umat Muslim untuk melakukan “hijrah akhlak”, sebuah perjalanan spiritual dan sosial dari kebiasaan buruk dalam berbicara menuju kesantunan dan kelembutan dalam bertutur kata.
Hijrah sejatinya bukan hanya berpindah tempat, tapi juga berpindah sikap dan karakter ke arah yang lebih baik. Salah satu wujud nyata hijrah akhlak adalah meninggalkan ucapan kasar dan menggantinya dengan tutur kata yang lembut, santun, dan membangun. Dalam tulisan ini, kita akan mengulas pentingnya hijrah akhlak dalam konteks ucapan, dengan merujuk kepada Al-Qur’an, Hadits, dan realitas sosial umat.
BACA JUGA:Menyongsong Tahun Baru dengan Semangat Membumikan Iman: Tekad Spiritual Menuju Hidup Lebih Bermakna
Ucapan Kasar: Bahaya Tersembunyi yang Merusak
Ucapan kasar tidak hanya melukai perasaan, tetapi juga dapat menjadi pemicu perpecahan, kebencian, bahkan konflik sosial. Islam mengajarkan bahwa lisan adalah salah satu bagian tubuh yang paling harus dijaga, karena dari lisan bisa lahir kebaikan besar atau kerusakan besar.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa berbicara baik adalah bagian dari iman. Ucapan kasar, caci maki, dan kata-kata kotor jelas bertentangan dengan akhlak seorang mukmin.
Al-Qur'an dan Seruan untuk Bertutur Kata yang Baik
Allah SWT secara tegas memerintahkan umat-Nya untuk menggunakan kata-kata yang baik dalam berbagai situasi.
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
Artinya: "Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia..." (QS. Al-Baqarah: 83)
Ayat ini turun sebagai bagian dari perintah Allah kepada Bani Israil, namun berlaku pula bagi seluruh umat Islam. Ini menegaskan bahwa berbicara baik kepada sesama manusia adalah bagian dari perintah Allah yang tidak bisa diabaikan.
Dalam konteks interaksi sosial, Allah juga memerintahkan untuk bersikap lembut, bahkan kepada musuh atau orang yang memusuhi kita:
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
Artinya: "Maka berbicaralah kalian berdua (Musa dan Harun) kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut (kepada Allah)." (QS. Thaha: 44)
Jika kepada Firaun saja yang sangat zalim diperintahkan untuk berkata lemah lembut, apalagi kepada sesama saudara seiman?
BACA JUGA:Menjaga Api Hijrah: Tantangan Istiqamah dan Solusinya dalam Perspektif Islam
Hadits Tentang Larangan Ucapan Kasar dan Ciri Orang Mukmin
Nabi Muhammad SAW adalah teladan terbaik dalam bertutur kata. Beliau dikenal sebagai pribadi yang lembut dan tidak pernah mengucapkan kata kasar, bahkan kepada orang yang menyakitinya.
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَلَا اللَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ
Artinya: "Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata kotor." (HR. Tirmidzi, hasan shahih)
Hadits ini sangat jelas: ucapan kasar dan keji bukanlah karakter seorang mukmin sejati. Islam ingin menciptakan masyarakat yang penuh kasih, saling menghormati, dan membangun peradaban mulia melalui tutur kata yang baik.
Hijrah Akhlak: Solusi Bangun Peradaban Santun
Konsep hijrah akhlak dari ucapan kasar ke ucapan santun bukan hanya soal etika personal, melainkan bagian dari agenda besar membangun masyarakat madani. Masyarakat yang saling menghargai dalam tutur kata, akan lebih kuat, bersatu, dan damai.
Dalam konteks kekinian, hijrah akhlak harus diwujudkan dalam setiap platform komunikasi, termasuk media sosial. Sudah saatnya ruang digital dipenuhi dengan kata-kata inspiratif, saling mendoakan, dan saling menasihati dengan cara yang lembut dan penuh hikmah.
Allah SWT berfirman:
ادْعُ إِلِىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik." (QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah dan interaksi sosial harus dilakukan dengan bijak, santun, dan penuh kasih sayang.
Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Hijrah akhlak dari ucapan kasar menuju ucapan santun adalah kebutuhan mendesak bagi umat Islam hari ini. Dalam dunia yang semakin terbuka, kata-kata memiliki kekuatan besar: bisa menjadi senjata perpecahan atau alat pemersatu. Maka, umat Islam harus menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman dalam bertutur kata, baik di dunia nyata maupun maya.
Ucapan santun bukan hanya tentang sopan santun budaya, tapi bagian dari keimanan. Menjaga lisan adalah ibadah, sedangkan ucapan kasar adalah penyimpangan dari akhlak Islam. Mari kita mulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Masyarakat yang santun dimulai dari individu yang menjaga lisannya. Hijrah akhlak adalah jalan panjang yang membutuhkan kesabaran dan komitmen, namun hasilnya adalah peradaban yang lebih mulia. Semoga kita semua mampu menjadi pribadi yang lembut tutur katanya, damai interaksinya, dan mulia akhlaknya. (djl)
Sumber: