Menjaga Semangat Haji dalam Kehidupan Sehari-hari: Meski Belum Berkesempatan Berangkat ke Baitullah

Menjaga Semangat Haji dalam Kehidupan Sehari-hari: Meski Belum Berkesempatan Berangkat ke Baitullah

Radarseluma.disway.id - Menjaga Semangat Haji dalam Kehidupan Sehari-hari: Meski Belum Berkesempatan Berangkat ke Baitullah--

Reporter: Juli Irawan 

Radarseluma.disway.id - Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang mampu, baik secara fisik, mental, maupun finansial. Namun, tidak semua orang diberikan kesempatan oleh Allah untuk segera menunaikannya. Meskipun demikian, semangat dan nilai-nilai spiritual dari ibadah haji tetap bisa dijaga dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan bagi mereka yang belum berangkat ke Tanah Suci. Menjaga spirit haji bukan hanya soal perjalanan fisik ke Makkah, tapi tentang kesiapan hati dan amal dalam meneladani esensi dari ibadah agung ini.

Makna dan Nilai Spirit Haji

Haji bukan semata-mata perjalanan fisik, tapi juga perjalanan ruhani yang mendalam. Ia adalah simbol totalitas penghambaan, pengorbanan, kesabaran, dan pengendalian diri. Nilai-nilai inilah yang perlu senantiasa dihidupkan oleh umat Islam dalam kesehariannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Artinya: "Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. Al-Hajj: 27)

Ayat ini menggambarkan betapa besar semangat dan pengorbanan kaum Muslimin untuk menunaikan ibadah haji. Namun, semangat ini seharusnya tidak hanya muncul saat panggilan itu datang dalam bentuk kesempatan pergi ke Makkah, melainkan senantiasa hadir dalam bentuk perilaku, keimanan, dan komitmen kepada Allah dalam setiap detik kehidupan.

BACA JUGA:Amalan Pasca Haji: Menjaga Spiritualitas dan Memperkuat Nilai Taqwa Sepanjang Hayat

Menjaga Spirit Haji dalam Keseharian

1. Menumbuhkan Ketulusan dan Tauhid

Semangat haji yang pertama adalah ketulusan beribadah hanya kepada Allah. Dalam manasik haji, seluruh niat hanya tertuju kepada Allah, tanpa ria dan sum’ah. Ini tercermin dalam bacaan talbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

Artinya: "Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala pujian dan nikmat hanya milik-Mu, demikian pula kerajaan. Tiada sekutu bagi-Mu."

Meski belum mampu menunaikan haji, seorang Muslim dapat menghidupkan nilai ini dengan memurnikan ibadah sehari-hari, seperti salat, puasa, sedekah, dan amal lainnya hanya karena Allah.

2. Melatih Kesabaran dan Keikhlasan

Haji melatih fisik dan mental. Perjalanan jauh, antrian panjang, cuaca ekstrem, serta kerumunan manusia dari berbagai bangsa menuntut kesabaran tingkat tinggi. Nabi SAW bersabda:

مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Artinya: "Barangsiapa yang menunaikan haji lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat kefasikan, maka ia kembali (dalam keadaan bersih dari dosa) seperti hari dilahirkan oleh ibunya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesabaran dan keikhlasan ini bisa kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari—sabar dalam menghadapi ujian hidup, sabar menahan amarah, dan ikhlas dalam setiap perbuatan baik, walau tak dipuji manusia.

3. Menjaga Lisan dan Perilaku

Ibadah haji menuntut pengendalian diri, termasuk menjaga lisan dan perilaku. Allah berfirman:

فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Artinya: "Barangsiapa yang menetapkan niat dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata keji), berbuat fasik dan berbantah-bantahan selama mengerjakan haji." (QS. Al-Baqarah: 197)

Seorang Muslim, walau belum menunaikan haji, hendaknya menjaga lisan dari ucapan buruk, hoaks, dan ghibah. Ia juga menjaga sikap dari keburukan yang merusak hubungan sosial.

BACA JUGA:Tanda-Tanda Haji Mabrur Menurut Hadis Nabi: Bekal Pulang dengan Keberkahan Dunia dan Akhirat

Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Spirit haji bukanlah sesuatu yang eksklusif hanya bagi mereka yang sudah berangkat ke Makkah. Nilai-nilai mulia dalam ibadah haji seperti ketauhidan, keikhlasan, kesabaran, dan akhlak mulia dapat dan harus dijaga serta diamalkan oleh setiap Muslim dalam kehidupannya. Dengan demikian, meski belum menunaikan haji secara fisik, seorang Muslim tetap dapat merasakan dan menunjukkan dampak spiritual dari ibadah haji dalam dirinya.

Menjaga semangat haji dalam keseharian adalah bentuk kesiapan kita menyambut panggilan Allah kelak. Ia adalah latihan jiwa untuk menjadi hamba yang lebih dekat dengan Rabb-nya. Marilah kita senantiasa berdoa agar suatu hari Allah memberikan kita kesempatan untuk berhaji, namun sebelum itu, mari kita buktikan bahwa spirit haji telah hidup dalam diri kita. (djl) 

Sumber:

Berita Terkait