Muhasabah Diri: Mengoreksi Sebelum Diadili oleh Allah di Hari Hisab
Radarseluma.disway.id - Muhasabah Diri: Mengoreksi Sebelum Diadili oleh Allah di Hari Hisab--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Setiap Manusia di dunia ini sedang berada dalam perjalanan menuju akhirat, tempat di mana seluruh amal perbuatannya akan diperiksa dan dipertanggungjawabkan. Di dunia, manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, bertobat, dan beramal saleh. Namun, saat ajal tiba, tak ada lagi ruang untuk memperbaiki kesalahan. Oleh sebab itu, Islam sangat menekankan pentingnya muhasabah atau introspeksi diri secara rutin sebelum datangnya hari perhitungan, yaitu Yaumul Hisab.
Muhasabah adalah bentuk pengawasan diri yang menjadi kunci keselamatan di akhirat. Ia bukan hanya praktik spiritual yang mendalam, melainkan juga cermin dari kesadaran seorang hamba akan kedekatannya dengan Allah SWT. Mari kita telaah secara mendalam pentingnya mengoreksi diri sebelum Allah menghisab kita, lengkap dengan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan hadits.
1. Urgensi Muhasabah: Perintah Langsung dari Allah
Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk memperhatikan apa yang telah mereka perbuat sebagai bekal menghadapi hari esok, yakni hari akhir. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.".(QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini merupakan seruan untuk menyiapkan diri dengan melakukan evaluasi atas setiap amal perbuatan. Allah menekankan pentingnya taqwa dan kesadaran akan amal yang telah dilakukan. Tanpa muhasabah, seseorang bisa terjerumus dalam kelalaian dan kesia-siaan.
BACA JUGA:Mengoreksi Diri Sebelum Dihisab: Bekal Menuju Hari Perhitungan
2. Contoh dari Rasulullah dan Para Sahabat
Rasulullah SAW sebagai manusia paling sempurna pun tidak pernah lepas dari introspeksi dan istighfar. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
Artinya: "Demi Allah, sungguh aku beristighfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (HR. Bukhari no. 6307)
Padahal beliau adalah orang yang telah dijamin masuk surga. Maka bagaimana dengan kita, umat biasa yang tak luput dari dosa dan khilaf?
Sumber: