"Pandangan Yang Menjerumuskan" Waspadai Perangkap Iblis Di Era Digital
Radarseluma.disway.id - "Pandangan Yang Menjerumuskan" Waspadai Perangkap Iblis Di Era Digital--
Radarseluma.disway.id - Era digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Kemajuan teknologi informasi menjadikan segala sesuatu lebih mudah diakses, termasuk hal-hal yang bisa merusak hati dan iman. Di antara tantangan besar yang dihadapi umat Islam saat ini adalah menjaga pandangan. Jika dahulu pandangan bisa dijaga dengan menghindari tempat-tempat maksiat secara fisik, kini godaan itu hadir hanya dalam genggaman tangan melalui layar ponsel, komputer, dan televisi. Oleh karena itu, menjaga pandangan bukan lagi sekadar kewajiban yang bersifat pasif, tetapi harus dilakukan secara aktif, penuh kesadaran dan niat yang kuat karena Allah.
Perintah Menjaga Pandangan dalam Al-Qur'an
Islam sangat menekankan pentingnya menjaga pandangan karena dari pandanganlah sering kali bermula berbagai penyakit hati. Allah SWT berfirman:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
Artinya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya’; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30)
Begitu pula dalam ayat berikutnya Allah berfirman:
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
Artinya: “Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.’” (QS. An-Nur: 31)
Dua ayat ini menunjukkan bahwa menjaga pandangan adalah perintah yang berlaku umum, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Allah menyebut perintah menundukkan pandangan sebelum menyebut perintah menjaga kemaluan. Ini menunjukkan bahwa pandangan adalah pintu pertama menuju godaan yang lebih besar.
BACA JUGA:Gunakan dan Manfaatkan Aplikasi Islami Untuk Membantu Kelancaran Ibadah
Pandangan adalah Panah Iblis
Rasulullah SAW pun telah mengingatkan umatnya tentang bahaya pandangan yang tidak dijaga. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda:
النَّظْرَةُ سَهْمٌ مَسْمُومٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ، فَمَنْ تَرَكَهَا مَخَافَةَ اللَّهِ أَثَابَهُ اللَّهُ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ
Artinya: “Pandangan (yang haram) adalah panah beracun dari panah-panah Iblis. Siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberikan kepadanya keimanan yang manisnya ia rasakan dalam hatinya.” (HR. Al-Hakim dan Ath-Thabrani)
Hadits ini memperingatkan kita bahwa pandangan yang tidak terjaga adalah senjata Iblis untuk merusak iman dan hati. Namun, Allah memberikan ganjaran luar biasa bagi siapa saja yang meninggalkannya karena takut kepada-Nya yaitu kelezatan iman dalam hati.
Tantangan Menjaga Pandangan di Era Digital
Di era digital, gambar dan video bertebaran dengan sangat mudah, bahkan tanpa dicari pun bisa muncul secara otomatis di berbagai platform. Media sosial, iklan daring, film, bahkan berita pun tidak luput dari konten yang menampilkan aurat atau menggugah syahwat. Ini menjadi tantangan besar bagi siapa pun yang ingin menjaga hatinya tetap bersih.
Di sinilah pentingnya murāqabah merasa diawasi oleh Allah setiap saat. Sebagaimana firman Allah:
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
Artinya: “Dia (Allah) mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir: 19)
Mata bisa saja berpaling sejenak lalu berpura-pura tidak melihat. Tapi Allah mengetahui niat dan gerakan hati, bahkan sebelum tangan menggeser layar.
BACA JUGA:Gunakan Teknologi untuk Mendekatkan Diri kepada Allah SWT
Langkah Praktis Menjaga Pandangan
Menjaga pandangan di era digital membutuhkan kesadaran dan strategi. Berikut beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan:
1. Niat yang ikhlas karena Allah
Mengawali dengan niat untuk menjaga diri dan hati demi keridhaan-Nya.
2. Memfilter konten
Gunakan fitur filter, blokir, atau sensor pada media sosial dan platform digital.
3. Mengurangi waktu luang yang tidak bermanfaat
Sibukkan diri dengan membaca Al-Qur’an, menulis, belajar, atau kegiatan positif lainnya.
4. Berteman dengan orang shalih
Lingkungan yang baik akan mempengaruhi pola konsumsi informasi digital.
5. Berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan menjaga pandangan
Sebagaimana doa Nabi Yusuf:
وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ
Artinya: “Dan jika Engkau tidak hindarkan aku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung kepada mereka dan termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf: 33)
Keutamaan Menjaga Pandangan
Menjaga pandangan bukan hanya menghindari dosa, tetapi juga mendatangkan banyak keutamaan:
• Hati menjadi tenang dan bersih dari bisikan syahwat.
• Wajah bersinar karena keberkahan amal dan kesucian jiwa.
• Dimudahkan dalam ibadah dan merasakan manisnya iman.
• Dijaga dari maksiat yang lebih besar, karena mata adalah pintu pertama menuju zina.
Sebaliknya, membiarkan pandangan lepas kendali akan merusak hati, mengurangi kekhusyukan ibadah, bahkan bisa menjerumuskan pada perzinahan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Rasulullah SAW
العَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ
Artinya: “Dua mata itu berzina dan zinanya adalah dengan melihat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa menjaga pandangan adalah bentuk penjagaan hati dan kehormatan diri. Di era digital, di mana fitnah visual begitu mudah diakses, menjaga pandangan menjadi tantangan nyata sekaligus ujian keimanan. Barangsiapa yang mampu menjaga pandangannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan menjaga dirinya, menguatkan imannya, dan melindunginya dari godaan setan.
Mari kita jadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai panduan utama dalam menjalani kehidupan digital ini. Tundukkan pandangan kita dari yang haram, dan alihkan kepada hal-hal yang mendatangkan kebaikan dan keberkahan. Sebab, orang yang menundukkan pandangannya akan dimuliakan oleh Allah, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبَ بَصَرِي، وَاجْعَلْنِي مِنَ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَبْصَارَهُمْ وَيَحْفَظُونَ فُرُوجَهُمْ
Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosa mataku dan jadikan aku termasuk orang yang menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan.”
Demikianlah penjelasan yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat buat kita semua. (djl)
Sumber: