Refleksi Diri di Awal Zulhijjah
Radarseluma.disway.id - Refleksi Diri di Awal Zulhijjah--
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini menyeru kaum beriman untuk memeriksa amal mereka. Dalam konteks awal Zulhijjah, saat Allah memberikan banyak keutamaan, maka sangat tepat untuk memulai bulan ini dengan muhasabah. Apakah selama ini kita sudah bersungguh-sungguh dalam beribadah? Apakah hati kita masih dipenuhi sifat sombong, riya’, atau hasad? Apakah kita sudah memaafkan sesama dan menjalin kembali tali silaturahmi yang retak?
BACA JUGA:Persiapan Spiritual Menjelang Zulhijjah
Momen Taubat dan Memperbaiki Diri
Bulan Zulhijjah mengandung spirit pengorbanan, sebagaimana Nabi Ibrahim AS yang diuji dengan perintah menyembelih anaknya, Ismail AS. Pengorbanan itu bukan hanya fisik, tapi juga mencerminkan keikhlasan dan ketaatan mutlak kepada Allah SWT. Dari sini, refleksi diri harus bermuara pada taubat dan perubahan diri yang lebih baik.
Nabi SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Tirmidzi yang mana berbunyi:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Artinya: "Setiap anak Adam pasti pernah berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat." (HR. Tirmidzi no. 2499, hasan)
Dengan kehadiran hari-hari penuh kemuliaan di awal Zulhijjah, kita disediakan peluang emas untuk bertaubat dan memperbanyak amal, seperti:
- Shalat sunnah
- Puasa Arafah bagi yang tidak berhaji
- Membaca Al-Qur'an
- Sedekah dan berbagi kepada yang membutuhkan
- Dzikir dan takbir
Meneladani Ketundukan Nabi Ibrahim AS
Ketika seorang muslim merefleksikan dirinya di awal Zulhijjah, sangat penting untuk mencontoh keteguhan dan kepasrahan Nabi Ibrahim AS. Dalam Al-Qur’an, Allah memuji beliau:
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: "Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: 'Tunduklah!' Ibrahim menjawab: 'Aku tunduk kepada Tuhan semesta alam.'" (QS. Al-Baqarah: 131)
Ketundukan Ibrahim adalah cermin totalitas keimanan. Maka dalam muhasabah awal Zulhijjah, kita bertanya kepada diri: Apakah aku sudah pasrah kepada takdir Allah? Sudahkah aku tunduk terhadap perintah-Nya, walau terasa berat?
BACA JUGA:Menyambut Zulhijjah dengan Hati yang Bersih
Sumber: