Berpikir Positif dan Husnudzon di Bulan yang Disucikan

Berpikir Positif dan Husnudzon di Bulan yang Disucikan

Radarseluma.disway.id - Berpikir Positif dan Husnudzon di Bulan yang Disucikan--

Reporter: Juli Irawan 

Radarseluma.disway.id - Dalam kehidupan sehari-hari, Manusia tidak terlepas dari interaksi sosial, ujian, dan beragam peristiwa yang menguji cara pandangnya terhadap diri sendiri, orang lain, bahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam Islam, berpikir positif atau Husnudzon merupakan sikap terpuji yang sangat dianjurkan, terlebih lagi pada bulan-bulan suci dalam kalender hijriah, seperti bulan Ramadhan, Syawal, dan bulan-bulan haram (Asyhurul Hurum) seperti Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Bulan-bulan ini memiliki keistimewaan yang Allah agungkan, dan di dalamnya umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal kebajikan dan menjauhi segala bentuk keburukan, termasuk prasangka buruk (su’udzon).

Makna Husnudzon dan Pentingnya Berpikir Positif

Husnudzon adalah istilah dalam bahasa Arab yang berarti “berbaik sangka”. Dalam konteks Islam, husnudzon mencakup berbaik sangka kepada Allah, kepada sesama Manusia, dan kepada diri sendiri. Ini adalah bagian dari akhlak mulia yang membentuk karakter pribadi seorang mukmin yang kuat dan tangguh dalam menghadapi ujian hidup.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 12 yang mana berbunyi: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa..." (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini menegaskan bahwa Allah melarang hamba-Nya dari berprasangka buruk, karena sebagian dari prasangka itu mendekatkan seseorang kepada dosa. Prasangka buruk bisa merusak persaudaraan, menciptakan kebencian, dan menumbuhkan fitnah yang merusak keharmonisan dalam masyarakat.

BACA JUGA:Bulan Dzulqa’dah dan Kewajiban Menjaga Amanah dalam Pekerjaan

Husnudzon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Sikap husnudzon kepada Allah SWT adalah dasar keimanan yang harus terus dijaga. Dalam kondisi sulit, seorang Mukmin dituntut tetap yakin bahwa Allah SWT Maha Adil dan Maha Penyayang. Ujian yang diberikan Allah SWT tidak akan melampaui batas kemampuan hamba-Nya, dan selalu ada hikmah yang menyertainya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Ahmad dan Bukhari yang mana berbunyi: 

"قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنَا عِندَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، إِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ"

Artinya: "Allah Azza wa Jalla berfirman: 'Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan. Dan jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan.'" (HR. Ahmad dan Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Sumber:

Berita Terkait