Dzulqa’dah dan Kisah Nabi Musa AS: Pelajaran dari Bulan Penantian
Radarseluma.disway: Dzulqa’dah dan Kisah Nabi Musa AS: Pelajaran dari Bulan Penantian--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Bulan Dzulqa’dah merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Bulan ini memiliki keistimewaan tersendiri karena menjadi bagian dari rangkaian bulan-bulan haji. Namun lebih dari itu, Dzulqa’dah juga menyimpan nilai spiritual yang mendalam sebagai bulan penantian dan ketenangan. Dalam sejarah kenabian, salah satu kisah luar biasa yang terjadi di bulan ini adalah pertemuan Nabi Musa ‘alaihis salam dengan Allah di Bukit Thur Sina. Kisah ini bukan sekadar peristiwa monumental, melainkan pelajaran besar tentang sabar, persiapan, dan kepemimpinan yang bertanggung jawab.

Radarseluma.disway: Dzulqa’dah dan Kisah Nabi Musa AS: Pelajaran dari Bulan Penantian
Makna Bulan Dzulqa’dah
Dzulqa’dah adalah bulan ke-11 dalam kalender Hijriyah. Nama “Dzulqa’dah” berasal dari kata qa‘ada yang berarti duduk. Disebut demikian karena pada bulan ini, bangsa Arab dahulu menghentikan peperangan dan duduk beristirahat, mempersiapkan diri menghadapi bulan Dzulhijjah. Dalam Islam, bulan ini termasuk salah satu dari al-asyhur al-hurum (bulan-bulan haram), sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 36 yang mana berbunyi:
"إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ"
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus..." (QS. At-Taubah: 36)
Empat bulan haram itu adalah Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Dalam bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal kebaikan dan menjauhi maksiat karena ganjaran dosa dan pahala dilipatgandakan.
BACA JUGA:Bersihkan Hati Sebelum Dzulhijjah: Momen Dzulqa’dah sebagai Persiapan
Kisah Nabi Musa AS: Pertemuan 40 Hari dengan Allah
Salah satu peristiwa besar yang terjadi terkait bulan Dzulqa’dah adalah ketika Nabi Musa AS diperintahkan oleh Allah untuk menjalani ibadah menyendiri (khalwat) selama 30 hari yang kemudian disempurnakan menjadi 40 hari. Ibnu Katsir dan sejumlah mufassir menyebut bahwa 30 hari pertama adalah bulan Dzulqa’dah, dan 10 hari tambahan adalah awal bulan Dzulhijjah.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-A'raf ayat 142 yang mana berbunyi:
مُوسَىٰ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً"
Artinya: “Dan telah Kami janjikan kepada Musa (untuk memberikan Taurat) selama tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh malam lagi, maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam.” (QS. Al-A’raf: 142)
Sumber: