Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, umat Islam di berbagai daerah di Indonesia memiliki tradisi yang terus dijaga dari generasi ke generasi, yakni ziarah kubur. Tradisi ini bukan sekadar budaya turun-temurun, melainkan memiliki dasar syariat dan nilai spiritual yang mendalam. Ziarah kubur menjadi momentum untuk mengingat kematian, mendoakan orang tua dan keluarga yang telah wafat, serta menata hati sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang penyucian jiwa. Maka sebelum memasuki bulan suci, umat Islam dianjurkan mempersiapkan diri lahir dan batin. Salah satu cara terbaik adalah dengan mengingat kematian (dzikrul maut), karena mengingat kematian akan melembutkan hati dan menumbuhkan kesungguhan dalam beribadah.
Dasar Al-Qur’an tentang Mengingat Kematian Allah SWT berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”
(QS. Al-‘Ankabut: 57)
Ayat ini menegaskan bahwa kematian adalah kepastian. Tidak ada satu pun manusia yang dapat menghindarinya. Mengingat kematian bukan untuk menimbulkan ketakutan semata, tetapi untuk membangunkan kesadaran bahwa hidup ini sementara dan akan ada pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Dalam ayat lain Allah berfirman:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
Artinya: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)
Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa manusia sering lalai karena sibuk dengan urusan dunia. Ziarah kubur mengingatkan kita bahwa semua kemegahan dunia akan berakhir di liang lahat.
Hadits tentang Anjuran Ziarah Kubur
Rasulullah SAW bersabda:
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْمَوْتَ
Artinya: “Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah, karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan kalian kepada kematian.” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa ziarah kubur hukumnya dianjurkan (mustahab), karena memiliki manfaat besar bagi hati dan keimanan. Rasulullah SAW pada awalnya melarang ziarah karena khawatir umat masih dekat dengan praktik syirik. Namun setelah aqidah mereka kuat, beliau menganjurkannya karena mengandung pelajaran berharga.
Dalam riwayat lain Rasulullah SAW juga mengajarkan doa ketika berziarah:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ، نَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ
Artinya: “Semoga keselamatan tercurah atas kalian wahai penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin. Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian. Kami memohon kepada Allah keselamatan untuk kami dan kalian.” (HR. Muslim)
Doa ini mengajarkan adab bahwa ziarah kubur bukan untuk meminta kepada yang telah wafat, tetapi untuk mendoakan mereka dan mengambil pelajaran bagi diri sendiri.
BACA JUGA:Keteguhan Asiyah Istri Fir’aun: Senyum Iman di Tengah Siksaan dan Teladan Abadi bagi Orang Beriman
Makna Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan
Menjelang Ramadhan, ziarah kubur memiliki makna yang semakin dalam:
1. Menguatkan Kesadaran Akan Akhirat
Ramadhan adalah bulan penuh ampunan. Mengingat kematian sebelum memasukinya membuat hati lebih siap untuk bertobat. Ketika seseorang berdiri di depan makam orang tuanya, ia akan tersadar bahwa hidup sangat singkat. Kesadaran ini mendorongnya untuk memperbanyak istighfar dan memperbaiki diri.
2. Melunakkan Hati yang Keras
Hati yang keras karena dosa akan sulit menerima nasihat. Ziarah kubur adalah obat bagi hati yang lalai. Melihat tanah yang membungkus jasad manusia membuat kita sadar bahwa pangkat, harta, dan jabatan tidak ada artinya di hadapan kematian.
3. Menumbuhkan Rasa Syukur dan Semangat Beramal
Orang-orang yang telah wafat tidak lagi memiliki kesempatan untuk beramal. Sedangkan kita masih diberi umur dan kesempatan bertemu Ramadhan. Maka seharusnya kita bersyukur dan memanfaatkan bulan suci dengan sungguh-sungguh.
4. Menguatkan Ikatan Keluarga dan Bakti kepada Orang Tua
Mendoakan orang tua yang telah wafat adalah bentuk bakti yang tidak terputus. Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Ziarah kubur menjelang Ramadhan menjadi momentum untuk mengirim doa terbaik kepada orang tua agar Allah melapangkan kubur mereka dan mengampuni dosa-dosanya.
Adab dan Etika Ziarah Kubur
Agar ziarah kubur bernilai ibadah, ada beberapa adab yang harus diperhatikan:
1. Meluruskan niat hanya karena Allah SWT.
2. Mengucapkan salam kepada penghuni kubur.
3. Mendoakan mereka dengan doa yang diajarkan Rasulullah SAW.
4. Tidak melakukan perbuatan syirik seperti meminta kepada penghuni kubur.
5. Tidak berlebihan dalam ritual yang tidak diajarkan dalam syariat.
Ziarah kubur bukanlah ajang pamer atau seremoni, tetapi momen muhasabah diri.
Relevansi Tradisi dengan Spirit Ramadhan
Ramadhan adalah madrasah ruhani. Ia datang untuk membersihkan jiwa, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan hamba kepada Tuhannya. Tradisi ziarah kubur menjelang Ramadhan sejatinya menjadi bagian dari persiapan ruhani itu.
Dengan mengingat kematian, seseorang akan lebih khusyuk dalam shalat tarawih, lebih sungguh-sungguh dalam berpuasa, dan lebih ringan tangan dalam bersedekah. Ia sadar bahwa mungkin inilah Ramadhan terakhir dalam hidupnya.
Ziarah kubur menjelang Ramadhan bukan sekadar tradisi budaya, tetapi memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan hadits. Ia menjadi sarana untuk mengingat kematian, melembutkan hati, memperkuat iman, serta mempersiapkan diri menyambut bulan suci dengan penuh kesungguhan.
Kematian adalah kepastian yang tidak bisa ditunda. Maka sebelum Ramadhan tiba, marilah kita membersihkan hati, memperbaiki niat, dan memperbanyak doa untuk orang-orang tercinta yang telah mendahului kita.
Semoga tradisi ziarah kubur menjelang Ramadhan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi menjadi momentum refleksi dan kebangkitan spiritual. Mari jadikan Ramadhan sebagai titik balik kehidupan, dengan hati yang lebih bersih, iman yang lebih kuat, dan tekad yang lebih kokoh untuk menjadi hamba Allah yang bertaqwa.
Karena pada akhirnya, sebagaimana firman Allah SWT, setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Dan hanya amal saleh yang akan menjadi cahaya di alam kubur serta penolong di hari kiamat kelak. (djl)