Bersih-Bersih Rumah dan Hati Menyambut Ramadhan: Simbol Kesiapan Lahir dan Batin Menuju Bulan Suci Penuh Ampun
Selasa 17-02-2026,16:12 WIB
Reporter:
juliirawan|
Editor:
juliirawan
Radarseluma.disway.id - Bersih-Bersih Rumah dan Hati Menyambut Ramadhan: Simbol Kesiapan Lahir dan Batin Menuju Bulan Suci Penuh Ampunan--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, umat Islam di berbagai daerah memiliki kebiasaan yang hampir serupa: membersihkan rumah, menata ulang perabotan, mencuci karpet dan tirai, hingga memperindah halaman. Tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan simbol kesiapan lahir menyambut tamu agung bernama Ramadhan. Namun, lebih dari itu, Islam mengajarkan bahwa kebersihan yang paling utama adalah kebersihan hati.
Ramadhan bukan hanya bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi bulan penyucian jiwa. Sebagaimana seseorang menyiapkan rumahnya untuk tamu terhormat, maka demikian pula seorang mukmin seharusnya menyiapkan hati dan amalnya untuk menyambut bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api Neraka.
Kebersihan Lahir: Bagian dari Iman
Islam sangat menekankan pentingnya kebersihan lahir. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Ayat ini menunjukkan bahwa kebersihan bukan hanya soal fisik, tetapi juga spiritual. Kata Al-mutatathhirin (orang-orang yang menyucikan diri) mencakup kebersihan badan, pakaian, tempat tinggal, sekaligus kebersihan jiwa dari dosa.
Rasulullah SAW juga bersabda:
الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ
Artinya: “Bersuci itu adalah setengah dari iman.” (HR. Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa kebersihan adalah bagian integral dari keimanan. Maka, membersihkan rumah menjelang Ramadhan sejatinya adalah bentuk kesiapan fisik dan simbol kesungguhan menyambut bulan ibadah.
Rumah yang bersih akan menghadirkan kenyamanan dalam beribadah. Shalat menjadi lebih khusyuk, tilawah Al-Qur’an terasa lebih tenang, dan suasana sahur serta berbuka menjadi lebih penuh keberkahan. Kebersihan fisik membantu menghadirkan suasana spiritual yang lebih kuat.
Kebersihan Batin: Inti Persiapan Ramadhan
Namun, persiapan yang paling utama adalah membersihkan hati. Hati adalah pusat kendali manusia. Jika hati bersih, maka amal akan baik; jika hati rusak, maka rusaklah seluruh perbuatan.
Rasulullah SAW bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya: “Ketahuilah, dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menjelang Ramadhan, hati perlu dibersihkan dari penyakit-penyakit seperti iri, dengki, sombong, riya, dan dendam. Tanpa pembersihan batin, ibadah Ramadhan bisa kehilangan ruhnya.
Allah SWT juga mengingatkan:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88–89)
Hati yang bersih (qalbun salim) adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat. Ramadhan adalah momentum terbaik untuk meraih hati yang bersih melalui taubat, istighfar, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
Taubat dan Saling Memaafkan
Salah satu cara membersihkan hati adalah dengan memperbanyak taubat. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”
(QS. At-Tahrim: 8)
Taubat nasuha berarti menyesali dosa, berhenti dari perbuatan maksiat, dan bertekad tidak mengulanginya lagi. Ramadhan menjadi waktu terbaik untuk memulai lembaran baru kehidupan.
Selain itu, membersihkan hati juga dilakukan dengan saling memaafkan. Menyambut Ramadhan dengan hati yang masih menyimpan dendam hanya akan mengurangi keberkahan ibadah. Rasulullah SAW bersabda bahwa pintu-pintu surga dibuka setiap Senin dan Kamis, dan Allah mengampuni hamba-Nya kecuali dua orang yang bermusuhan hingga mereka berdamai.
Maka, sebelum Ramadhan tiba, mari kita ringankan hati dengan memaafkan dan meminta maaf.
Menata Ulang Niat dan Amal
Bersih-bersih rumah melambangkan penataan ulang lingkungan, sedangkan bersih-bersih hati melambangkan penataan ulang niat dan tujuan hidup. Ramadhan mengajarkan kita untuk kembali kepada esensi penghambaan kepada Allah SWT.
Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi melatih kesabaran, empati, dan ketakwaan. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan akhir puasa adalah takwa. Takwa tidak akan tumbuh dalam hati yang dipenuhi kotoran dosa dan penyakit batin. Oleh karena itu, membersihkan hati adalah syarat penting agar Ramadhan benar-benar mengubah diri kita.
Simbol dan Makna Spiritual
Tradisi bersih-bersih rumah sejatinya adalah simbol kesiapan menyambut keberkahan. Ketika lantai dipel dan debu disapu, itu menjadi pengingat bahwa hati pun perlu disapu dari noda-noda dosa. Ketika perabotan ditata ulang, itu menjadi simbol bahwa hidup pun perlu ditata kembali agar lebih dekat kepada Allah.
Ramadhan adalah madrasah ruhani. Ia melatih kedisiplinan, keikhlasan, dan kepekaan sosial. Tanpa persiapan lahir dan batin, seseorang bisa saja melewati Ramadhan tanpa perubahan berarti.
Bersih-bersih rumah dan hati menjelang Ramadhan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan refleksi kesiapan seorang mukmin menyambut bulan suci. Kebersihan lahir menciptakan kenyamanan beribadah, sementara kebersihan batin menjadi kunci diterimanya amal.
Dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits menegaskan bahwa Allah mencintai orang-orang yang menyucikan diri, baik secara fisik maupun spiritual. Hati yang bersih akan melahirkan amal yang tulus dan ibadah yang khusyuk.
Menyambut Ramadhan hendaknya dimulai dengan taubat, memperbaiki hubungan dengan sesama, memperbanyak istighfar, dan menata ulang niat hidup agar lebih terarah kepada ridha Allah SWT.
Ramadhan adalah tamu agung yang hanya datang setahun sekali. Tidak ada jaminan kita akan bertemu kembali dengannya di tahun berikutnya. Maka, mari kita sambut ia dengan rumah yang bersih dan hati yang lebih bersih lagi.
Jadikan setiap sapuan lantai sebagai doa agar Allah menyapu dosa-dosa kita. Jadikan setiap istighfar sebagai air yang membersihkan jiwa. Semoga Ramadhan kali ini benar-benar menjadi momentum perubahan, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Semoga Allah SWT membersihkan hati kita, menerima taubat kita, dan mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan iman yang terbaik. Aamiin. (djl)
Sumber: