JAKARTA, Radarseluma.Disway.id – Belum usai perdebatan panjang mengenai dampak kesehatan dari rokok elektrik atau vape, kini publik kembali dikejutkan dengan munculnya ancaman baru yang jauh lebih berbahaya.
BACA JUGA:Terbaru dari VW, Luncurkan ID Buzz Bozz White Signature
BACA JUGA:Scam Dibasmi di Kamboja, 2.227 WNI Minta Bantuan Dipulangkan
Menggunakan kedok produk kuliner dengan tampilan warna-warni yang menggemaskan, "Whip Pink" kini mulai merambah pergaulan remaja sebagai zat hirup adiktif yang mematikan.
Berbeda dengan rokok atau vape yang meninggalkan aroma tajam, Whip Pink bekerja dalam kesunyian. Inilah yang membuatnya disebut sebagai "pembunuh senyap" karena hampir mustahil dideteksi oleh indra penciuman orang tua maupun guru di sekolah.
Dokter spesialis paru, Prof. dr. Erlina Burhan, memberikan peringatan keras bahwa tren ini bukanlah sekadar gaya hidup, melainkan penyalahgunaan narkotika yang sangat serius. Whip Pink diketahui mengandung zat psikoaktif berbahaya seperti Piperazine dan Catinone.
"Kalau merokok atau vaping itu gampang ketahuan dari bau napas atau baju. Tapi zat ini dihirup tanpa meninggalkan jejak aroma. Masalahnya, ini bukan krim kue biasa, ini adalah narkotika yang memicu adiksi berat," ucap Prof. Erlina saat dimintai keterangan oleh jurnalis Disway, Minggi 25 Januari 2026.
Pelaku industri gelap di balik produk ini sengaja menggunakan kemasan berwarna merah muda yang eye-catching agar terlihat tidak berbahaya. Namun, di balik warna cerah tersebut, tersembunyi risiko gagal organ yang mengerikan.
Dampak medis dari penggunaan Whip Pink jauh melampaui efek buruk vape konvensional. Prof. Erlina menjelaskan bahwa zat ini menyerang jantung secara langsung, memicu gangguan irama atau aritmia yang bisa berujung pada kematian mendadak.
Tak hanya jantung, paru-paru sebagai saluran masuk utama zat ini juga menjadi sasaran empuk.