Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Kehadiran makam Sentot Alibasyah Prawirodirjo di Bengkulu bukan sekadar catatan sejarah lokal, melainkan bukti keterhubungan perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan. Dari Yogyakarta hingga Bengkulu, perjuangan Sentot mencerminkan tekad tanpa batas untuk melawan penindasan.
Bengkulu patut berbangga karena menjadi tempat peristirahatan terakhir salah satu panglima besar Nusantara. Makam ini juga sekaligus pengingat bahwa perjuangan melawan penjajah tidak mengenal batas wilayah. Sentot telah mewariskan semangat keberanian dan pantang menyerah yang harus terus dijaga oleh generasi penerus bangsa.
Hari ini, ketika bangsa Indonesia telah merdeka, kita wajib mengenang jasa para pahlawan yang telah mengorbankan hidupnya demi kebebasan negeri ini. Makam Sentot Alibasyah Prawirodirjo di Bengkulu berdiri sebagai saksi bisu dari pengorbanan besar seorang panglima perang yang akhirnya harus menutup mata jauh dari tanah kelahirannya.
Namun, justru di tanah rantau inilah, ia dikenang sebagai pahlawan, sebagai lambang persatuan rakyat Bengkulu dengan perjuangan bangsa Indonesia. Dengan mengenang Sentot, kita tidak hanya menghormati sejarah, tetapi juga menyerap nilai perjuangan, keberanian, dan keikhlasan yang abadi untuk mengisi kemerdekaan dengan karya nyata. (djl)