Jejak Sang Panglima Perang Jawa dan Lambang Perlawanan Rakyat Melawan Penjajah
Reporter: Juli Irawan Radarseluma.disway.id -Bengkulu tidak hanya menyimpan sejarah kolonialisme lewat benteng dan rumah pengasingan tokoh bangsa, tetapi juga menjadi tempat peristirahatan terakhir salah satu tokoh besar dalam sejarah perlawanan Indonesia, yaitu Sentot Alibasyah Prawirodirjo. Nama ini begitu harum dalam catatan sejarah karena perannya sebagai panglima perang dalam Perang Jawa (1825–1830) di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro.
Ironisnya, perjalanan hidup sang panglima muda itu berakhir jauh dari tanah kelahirannya di Yogyakarta. Ia wafat dan dimakamkan di Bengkulu pada tahun 1855 setelah diasingkan oleh Belanda. Kini, makamnya tidak hanya menjadi situs sejarah tetapi juga lambang perlawanan rakyat Bengkulu terhadap penjajahan, serta pengingat bahwa perjuangan melawan kolonialisme melintasi batas wilayah dan waktu.
Masa Kecil dan Awal Kehidupan
Sentot Alibasyah Prawirodirjo lahir di Yogyakarta pada tahun 1807. Ia merupakan putra dari Bupati Madiun, Raden Ronggo Prawirodirjo III, seorang bangsawan sekaligus pejuang yang juga gugur melawan Belanda. Dari garis keturunannya, Sentot adalah cucu menantu Sultan Hamengkubuwono II, sehingga sejak kecil ia tumbuh dalam lingkungan istana dan atmosfer perlawanan terhadap kolonialisme.
Sejak usia remaja, Sentot dikenal cerdas, pemberani, dan memiliki bakat militer yang kuat. Pendidikan awalnya tidak hanya didapat dari lingkungan keraton, tetapi juga dari pengalaman langsung melihat perjuangan ayahnya melawan Belanda. Jiwa patriotiknya ditempa sejak muda, hingga ia kelak dikenal sebagai salah satu panglima perang paling disegani.
BACA JUGA:Rumah Pengasingan Soekarno di Bengkulu: Jejak Perjuangan, Cinta, dan Sumur Tua Penuh Misteri
Remaja yang Menjadi Panglima Perang Jawa
Saat pecahnya Perang Jawa (1825–1830), Sentot yang masih berusia belia dipercaya oleh Pangeran Diponegoro untuk memimpin pasukan. Perang Jawa merupakan salah satu konflik terbesar antara rakyat Nusantara dengan Belanda, di mana ribuan pejuang bangkit melawan dominasi kolonial.
Sentot tampil sebagai pemimpin karismatik dan ahli strategi. Pasukan yang ia pimpin disebut Laskar Sentot, dikenal memiliki disiplin tinggi dan keberanian luar biasa. Belanda pun menjulukinya sebagai "Hertog van Java" atau "Adipati Jawa", gelar yang menggambarkan betapa besarnya pengaruh dan kemampuan militernya.
Namun, di tengah perang yang panjang dan melelahkan, intrik politik dan tekanan Belanda membuat hubungan antara Sentot dan Diponegoro retak. Belanda berusaha memanfaatkan keadaan dengan mengajak Sentot bergabung, meski pada akhirnya ia tetap dianggap ancaman bagi kekuasaan kolonial.
Dari Pejuang Hingga Buangan
Setelah Perang Jawa berakhir dengan ditangkapnya Pangeran Diponegoro tahun 1830, Sentot tidak langsung ditawan. Ia sempat diberi jabatan oleh Belanda dengan alasan untuk mengendalikan pengaruhnya. Namun, Belanda tidak pernah benar-benar percaya pada kesetiaan Sentot.
Akhirnya, untuk mencegah kebangkitannya kembali, Belanda mengasingkan Sentot ke Bengkulu pada tahun 1831. Pengasingan ini merupakan strategi kolonial yang kerap digunakan untuk melemahkan tokoh perlawanan dengan memisahkan mereka dari basis sosial dan tanah kelahirannya.
Di Bengkulu, Sentot tetap dihormati masyarakat. Meski berada di bawah pengawasan ketat, wibawanya sebagai tokoh besar membuat rakyat Bengkulu menganggapnya sebagai simbol perlawanan. Kehadirannya memberi semangat baru bagi masyarakat Bengkulu yang juga berulang kali melakukan perlawanan terhadap kolonial.
BACA JUGA:Masjid Jamik Bengkulu: Jejak Abadi Sang Proklamator Ir. Soekarno dalam Arsitektur dan Perjuangan
Kehidupan di Bengkulu dan Wafatnya
Selama hidup di pengasingan, Sentot menjalani kehidupan sederhana. Ia tetap menjalin hubungan baik dengan masyarakat lokal, bahkan beberapa sumber menyebutkan ia turut berperan dalam menginspirasi semangat juang rakyat Bengkulu.
Pada tahun 1855, Sentot Alibasyah Prawirodirjo wafat di Bengkulu pada usia sekitar 48 tahun. Jenazahnya dimakamkan di kawasan yang kini dikenal sebagai Kelurahan Bajak, Kota Bengkulu. Hingga kini, makam itu masih terawat dan kerap diziarahi masyarakat maupun wisatawan yang ingin mengenang jasa-jasanya.
Fakta Sejarah Menarik tentang Sentot Alibasyah Prawirodirjo
1. Panglima Muda yang
Disegani: Meski usianya relatif muda saat Perang Jawa, Belanda sangat menghormati kemampuan militernya. Tidak banyak tokoh sebaya yang mampu memimpin pasukan besar dengan strategi jitu.
2. Gelarnya "Hertog van Java":
Julukan dari Belanda ini membuktikan pengakuan terhadap kehebatannya, meski lawan sekalipun mengagumi keahliannya.
3. Dibuang karena Ditakuti:
Alasan utama ia diasingkan ke Bengkulu bukan karena pengkhianatan, tetapi karena Belanda khawatir ia akan kembali memimpin perlawanan.
4. Dihormati di Tanah
Pengasingan: Masyarakat Bengkulu mengenangnya sebagai pejuang sejati, sehingga makamnya kini dijadikan situs sejarah dan simbol perlawanan.
5. Saksi Bisnis Kolonial:
Di masa pengasingannya, Sentot sempat menyaksikan bagaimana Belanda mengembangkan perkebunan lada dan kopi di Bengkulu. Situasi ini menambah kebenciannya pada kolonial yang terus merampas tanah rakyat