Islam dan Kemerdekaan Bangsa: Menjaga Keseimbangan Dunia dan Akhirat

Kamis 14-08-2025,13:00 WIB
Reporter : juliirawan
Editor : juliirawan

Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Kemerdekaan adalah anugerah Allah SWT yang sangat besar bagi setiap bangsa. Dalam konteks Indonesia, kemerdekaan yang kita raih pada 17 Agustus 1945 bukan sekadar bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga membuka peluang untuk membangun kehidupan yang seimbang antara urusan dunia dan akhirat. Islam mengajarkan bahwa kehidupan manusia bukan hanya berfokus pada pencapaian materi semata, tetapi juga harus diarahkan untuk meraih ridha Allah SWT.

Kemerdekaan yang hakiki dalam pandangan Islam bukan hanya lepas dari belenggu penjajahan manusia atas manusia, melainkan juga terbebas dari perbudakan hawa nafsu, kebodohan, kemiskinan, dan kesyirikan. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini mengingatkan bahwa tujuan akhir kemerdekaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah, bukan hanya mencari kebebasan duniawi.

Islam dan Hakikat Kemerdekaan

Islam memandang kemerdekaan sebagai hak fitrah manusia. Dalam sejarah Islam, Rasulullah SAW datang membawa risalah yang membebaskan manusia dari penindasan dan kezaliman. Ketika bangsa Arab terjebak dalam jahiliyah, beliau mengajarkan tauhid sebagai pondasi kebebasan sejati.

Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا فَتَحَ اللهُ عَلَيْكُمْ فَارِسَ وَرُومَ، أَيُّ قَوْمٍ أَنْتُمْ؟ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ: نَقُولُ كَمَا أَمَرَنَا اللهُ. قَالَ: أَوْ غَيْرُ ذَلِكَ، تَتَنَافَسُونَ، ثُمَّ تَتَحَاسَدُونَ، ثُمَّ تَتَدَابَرُونَ، ثُمَّ تَتَبَاغَضُونَ

Artinya: (Apabila Allah telah membukakan untuk kalian negeri Persia dan Romawi, bagaimana keadaan kalian? Abdurrahman bin Auf berkata: "Kami akan bersyukur sebagaimana yang Allah perintahkan." Beliau bersabda: "Atau malah sebaliknya, kalian akan saling berlomba (dalam harta), saling iri, saling membelakangi, dan saling membenci.") (HR. Muslim)

Hadits ini mengajarkan bahwa setelah kemerdekaan dan kejayaan diraih, umat harus menjaga persatuan dan tidak terjebak dalam perebutan kepentingan duniawi yang dapat menghancurkan moral bangsa.

BACA JUGA:Utsman bin Affan: Khalifah Dermawan yang Lembut Hati dan Penjaga Kesatuan Umat

Keseimbangan Dunia dan Akhirat dalam Pembangunan Bangsa

Kemerdekaan memberi kesempatan untuk membangun negara dengan nilai-nilai keadilan, persamaan, dan kesejahteraan. Namun, dalam Islam, pembangunan tidak hanya diukur dari infrastruktur atau kemajuan ekonomi, melainkan juga dari kemajuan iman dan akhlak.

Allah SWT berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Artinya: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia." (QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini menegaskan bahwa umat Islam harus memanfaatkan kemerdekaan untuk meraih akhirat tanpa melupakan kebutuhan dunia. Keseimbangan ini menjadi kunci agar bangsa tidak terjerumus ke dalam materialisme atau ekstremisme spiritual yang mengabaikan realitas kehidupan.

Kemerdekaan dalam Perspektif Sejarah Islam

Sejarah mencatat, saat Rasulullah SAW berhasil memimpin Madinah, beliau membangun masyarakat yang adil dan sejahtera tanpa memisahkan urusan agama dan negara. Konstitusi Madinah menjadi bukti bahwa Islam mengatur kemerdekaan dengan prinsip keadilan, kebebasan beragama, dan perlindungan terhadap semua golongan.

Begitu pula pada masa Khalifah Umar bin Khattab, wilayah Islam meluas hingga ke Persia dan Romawi, namun rakyat hidup dalam kemakmuran dan keamanan. Kemerdekaan yang diraih tidak digunakan untuk menindas, melainkan untuk menebar rahmat.

BACA JUGA:Utsman bin Affan: Khalifah Dermawan Penjaga Mushaf Al-Qur’an

Tantangan Mengisi Kemerdekaan di Era Modern

Di era globalisasi, kemerdekaan bangsa menghadapi tantangan baru, bukan lagi berupa penjajahan fisik, melainkan penjajahan budaya, ekonomi, dan ideologi. Gaya hidup konsumtif, pergaulan bebas, dan ide-ide sekularisme sering kali mengikis nilai-nilai Islam dan kebangsaan.

Rasulullah SAW telah mengingatkan:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ

Artinya: "Sungguh kalian akan mengikuti sunnah (cara hidup) orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai jika mereka masuk ke lubang biawak pun kalian akan mengikutinya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam peniruan buta terhadap budaya luar yang bertentangan dengan Islam.

Mengisi Kemerdekaan dengan Amal Shalih

Kemerdekaan bukan akhir perjuangan, melainkan awal untuk membangun peradaban. Mengisinya berarti:

1. Menegakkan keadilan sosial berdasarkan prinsip Islam.

2. Meningkatkan pendidikan agar generasi muda cerdas dan berakhlak.

3. Menjaga persatuan agar tidak terpecah oleh politik dan perbedaan suku atau agama.

4. Mengembangkan ekonomi yang halal dan berkelanjutan.

5. Menguatkan ibadah dan moral sebagai pondasi bangsa.

Kemerdekaan adalah nikmat besar dari Allah SWT yang harus disyukuri dengan mengisinya secara seimbang antara urusan dunia dan akhirat. Islam mengajarkan bahwa tujuan akhir kehidupan adalah beribadah kepada Allah, sementara dunia adalah ladang untuk menanam kebaikan.

Mari kita jaga kemerdekaan ini dengan menjaga iman, persatuan, dan keadilan. Seperti pesan Rasulullah SAW, kemuliaan sebuah bangsa terletak pada ketakwaan warganya, bukan sekadar pada kekayaan atau kekuatan militer. Semoga Indonesia senantiasa menjadi bangsa yang merdeka, berdaulat, dan diridhai Allah SWT.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra’d: 11) (djl) 

Kategori :