Abu Bakar mengirimkan pasukan ke berbagai wilayah untuk menghadapi pemberontak. Tokoh-tokoh sahabat seperti Khalid bin Walid memimpin pasukan menghadapi Musailamah al-Kazzab dalam Perang Yamamah.
Perang ini berlangsung sengit dan memakan korban besar, termasuk gugurnya banyak penghafal Al-Qur’an (qurra’). Inilah yang kelak menjadi alasan utama pengumpulan mushaf Al-Qur’an.
Pengumpulan Mushaf Al-Qur’an: Menyelamatkan Kalamullah
Alasan Pengumpulan
Setelah Perang Yamamah, Umar bin Khattab mendatangi Abu Bakar dengan kegelisahan. Banyak penghafal Al-Qur’an gugur, dan jika dibiarkan, ada risiko bagian-bagian Al-Qur’an hilang dari hafalan umat. Umar mengusulkan untuk mengumpulkan Al-Qur’an dalam bentuk mushaf tertulis.
Awalnya Abu Bakar ragu, karena Rasulullah SAW tidak pernah mengumpulkannya dalam satu mushaf. Namun setelah memahami urgensinya, beliau berkata:
هو والله خير
Artinya: “Demi Allah, itu adalah hal yang baik.”
Proses Pengumpulan
Abu Bakar menunjuk Zaid bin Tsabit, penulis wahyu Rasulullah SAW, untuk memimpin tim pengumpulan. Zaid mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai sumber: hafalan para sahabat, catatan di pelepah kurma, kulit binatang, dan tulang.
Proses ini dilakukan dengan verifikasi ketat, di mana setiap ayat harus disaksikan minimal oleh dua orang yang mendengar langsung dari Rasulullah SAW.
Allah berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Artinya: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Upaya Abu Bakar ini adalah bagian dari janji Allah untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an.
Hasil dan Dampaknya
Mushaf yang dikumpulkan ini disimpan oleh Abu Bakar selama hidupnya, lalu berpindah ke Umar bin Khattab, dan akhirnya ke Hafshah binti Umar. Inilah mushaf yang menjadi dasar penyalinan di masa Khalifah Utsman bin Affan, yang membuat seluruh umat Islam di dunia membaca Al-Qur’an yang sama hingga hari ini.