"Waktu, Anugerah dan Ujian"
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id- Setiap manusia diberi karunia yang sama oleh Allah SWT dalam bentuk waktu 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam sepekan, dan terus berjalan tanpa henti. Namun, tidak semua manusia memperlakukannya dengan sama. Ada yang memanfaatkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki amal, namun ada pula yang menyia-nyiakannya dalam kelalaian dan kesia-siaan. Dalam Islam, waktu bukan sekadar hitungan detik dan menit, tapi ia adalah amanah, ujian, dan penentu nasib abadi di akhirat.
Allah SWT mengingatkan hamba-Nya tentang betapa penting dan berharganya waktu, bahkan bersumpah atas nama waktu dalam beberapa surat dalam Al-Qur'an. Ini menandakan bahwa waktu adalah hal yang sangat serius dan tidak boleh disepelekan. Menyia-nyiakan waktu sama dengan menyia-nyiakan hidup, dan lebih parah lagi, menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabdi kepada Allah SWT.
Waktu Adalah Amanah yang Akan Dipertanggungjawabkan
Dalam pandangan Islam, waktu adalah bagian dari nikmat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ".
Artinya: "Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat hal: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya bagaimana ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan." (HR. Tirmidzi)
Pertanyaan pertama yang diajukan adalah tentang umur, yang berarti waktu. Ini menunjukkan bahwa waktu adalah modal utama dalam kehidupan. Semua amal—baik atau buruk—bermuara pada bagaimana seseorang menggunakan waktunya.
BACA JUGA:Jangan Tinggalkan Amal Karena Takut Riya: Menjaga Niat Tetap Lurus dalam Ibadah
Al-Qur’an Menggugah Kesadaran tentang Waktu
Allah SWT berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍۙ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)
Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan, “Kalau seandainya Allah tidak menurunkan surat lain selain surat ini (Al-‘Ashr), maka cukuplah sebagai peringatan bagi umat manusia.” Itu karena surat pendek ini sudah mencakup seluruh inti kehidupan: iman, amal saleh, dakwah, dan kesabaran.
Waktu terus berjalan. Orang yang tidak mengisinya dengan keimanan dan amal saleh, dia adalah orang yang merugi.
Bahaya Menunda Amal dan Menyia-nyiakan Waktu
Salah satu kebiasaan manusia yang paling merugikan adalah menunda-nunda amal. Padahal, tidak ada yang tahu kapan ajal akan tiba. Rasulullah SAW bersabda: