“Koridor biru bukan sekedar jalur migrasi, namun juga jalur kehidupan bagi raksasa laut dan ekosistem yang bergantung pada mereka,” kata Chris Johnson, Pimpinan Global WWF untuk Inisiatif Perlindungan Paus dan Lumba-lumba. “Platform ini mengubah puluhan tahun sains menjadi perangkat untuk aksi—menunjukkan kapan, di mana, dan bagaimana paus perlu dilindungi di tengah lautan yang terus berubah cepat.”
Fitur utama platform ini mencakup peta pergerakan paus berdasarkan spesies dan waktu, data konservasi dari mitra seperti IUCN-IMMA (Important Marine Mammals Area), serta informasi zona ekologis penting untuk perencanaan kawasan konservasi. Platform ini juga menyajikan lapisan ancaman seperti jalur pelayaran, aktivitas penangkapan ikan, dan dampak perubahan iklim, serta studi kasus yang menyoroti area rawan dan solusi yang dapat diterapkan oleh pemerintah.
“Inilah masa depan konservasi—terbuka, kolaboratif, dan berbasis sains,” ujar Dr. Ryan Reisinger, salah satu pemimpin inisiatif dari University of Southampton, Inggris. “Dengan menghubungkan ancaman dan solusi, platform ini mendukung perencanaan kelautan yang lebih cerdas dan terkoordinasi lintas sektor dan batas negara.”
BlueCorridors.org dikembangkan dari laporan kolaboratif “Protecting Blue Corridors” (2022) yang pertama kali memetakan migrasi paus secara global dan merumuskan aksi konservasi regional yang terarah—mulai dari Pasifik Timur dan Laut Mediterania hingga Samudra Selatan. Platform digital baru ini menjawab kebutuhan akan alat konektivitas laut yang berbasis sains dan dapat diakses secara terbuka untuk publik, dengan publikasi metodologi dan desain kolaboratif yang ditinjau oleh para ahli yang akan dirilis pada akhir tahun 2025.
“Ini lebih dari sekadar peta—ini adalah sebuah gerakan,” tutup Johnson. “Dengan menggabungkan sains mutakhir, inovasi digital, dan narasi kreatif, kami memberikan peluang baru bagi paus. Platform ini mencerminkan keselarasan langka antara sains, masyarakat sipil, dan kebijakan—bekerja bersama untuk melindungi raksasa laut melalui transparansi, data, dan komitmen bersama.”
BACA JUGA:Ghadir Khum dan Ukhuwah Islamiyah: Menyatukan Umat, Menepis Perpecahan”
Di Indonesia, upaya konservasi Mamalia Laut ini masih menghadapi berbagai tantangan meskipun wilayah perairannya menjadi jalur penting bagi migrasi berbagai spesies paus besar. Beberapa kawasan seperti Laut Sawu, Perairan Alor, Laut Banda, Selatan Bali, Perairan Wakatobi diketahui sebagai habitat penting untuk beristirahat, mencari makan, dan bermigrasi bagi paus sperma, paus biru kerdil, serta paus bersirip. Namun, aktivitas pelayaran, perikanan yang tidak selektif, dan kebisingan bawah laut terus mengancam keberadaan mamalia laut ini.