Para ulama menyebutkan bahwa agar taubat diterima, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi:
Menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan.
Meninggalkan dosa tersebut.
Berazam untuk tidak mengulangi lagi.
Jika berkaitan dengan hak manusia, maka harus dikembalikan atau meminta maaf.
Dalam Hadits disebutkan sebagaimana dijelaskan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Ibnu Majah yang mana berbunyi:
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ
Artinya: “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah, no. 4250)
Hadits ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah SWT kepada hamba-Nya yang ingin kembali. Taubat yang sungguh-sungguh akan menghapus catatan dosa seolah-olah tak pernah dilakukan.
BACA JUGA:Menyemarakkan Hati dengan Shalawat kepada Nabi SAW
Membersihkan Hati dan Jiwa dari Dosa
Hati manusia dapat ternoda oleh dosa dan maksiat. Semakin sering melakukan dosa, semakin tebal noda tersebut hingga menutupi cahaya iman. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits At-Tirmidzi yang mana berbunyi:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً كُتِبَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ...
Artinya: “Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan satu kesalahan, maka akan tertulis satu titik hitam di hatinya...” (HR. At-Tirmidzi, no. 3334)
Namun, titik hitam itu bisa dibersihkan dengan istighfar dan taubat. Oleh karena itu, memperbanyak istighfar di bulan Dzulqa’dah sangat dianjurkan. Rasulullah SAW, yang ma’shum dari dosa, saja beristighfar lebih dari 70 kali dalam sehari:
إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً