Menjaga Amanah dan Janji di Bulan yang Diharamkan untuk Khianat

Selasa 06-05-2025,14:30 WIB
Reporter : juliirawan
Editor : juliirawan

Hadits ini mempertegas bahwa menjaga amanah dan janji adalah bagian dari keimanan dan keislaman seseorang. Maka siapa yang mengkhianatinya, apalagi di bulan suci, ia telah merusak pondasi iman yang seharusnya dijaga.

Meneladani Rasulullah dalam Menjaga Amanah

Rasulullah SAW dikenal sebagai Al-Amin (orang yang terpercaya), bahkan sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Beliau tidak pernah sekalipun mengingkari janji atau mengkhianati kepercayaan, bahkan terhadap musuh sekalipun.

Saat beliau masih berada di Mekah dan dikejar kaum Quraisy, beliau tetap menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk mengembalikan amanah-amanah orang-orang yang dititipkan kepadanya, meskipun mereka adalah musuh.

Ini menunjukkan bahwa amanah adalah harga diri seorang Muslim, dan menjaganya adalah bentuk kesetiaan kepada ajaran Islam.

Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Bulan Dzulqa’dah, sebagai salah satu bulan haram, adalah momentum untuk memperbaiki kualitas diri, terutama dalam hal integritas dan tanggung jawab. Menjaga amanah dan janji bukan hanya membawa kedamaian sosial, tapi juga menunjukkan kemuliaan akhlak seorang mukmin.

Di saat dunia semakin dipenuhi dengan pengkhianatan dan ingkar janji, umat Islam harus tampil menjadi contoh dalam menjaga kepercayaan. Apalagi di bulan yang Allah haramkan untuk berlaku zalim dan berkhianat, seperti Dzulqa’dah ini. Mari kita jaga amanah dan tepati janji, agar kita tergolong sebagai orang-orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Fath ayat 10 yang berbunyi: 

وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Dan siapa yang menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 10)

Demikianlah yang dapat kita sampaikan semoga bermanfaat. (djl)

 

Kategori :