“Kitorang tidak ingin makan bergizi gratis, yang kitorang ingin sekolah mudah, mau berobat mudah, itu sudah,” Yohans.
BACA JUGA:Inilah Keutamaan Surat Al Insyirah Berikut Penjelasannya
BACA JUGA:5 Rekomendasi Smartphone Terbaik untuk Foto-Foto Wisata dan Gunung di Tahun 2025
Berbagai bentuk penolakan itu juga terekam dalam laporan video yang tayang di instagram @infowamena. Salah satu potongan video melihatkan seorang siswa berorasi di hadapan ribuan masa berpakaian putih abu-abu.
Siswa tersebut mengatakan makan bergizi gratis bukananlah solusi atas persoalan di Papua. Dia berkata aspirasi pelajar ini harus disampaikan kepada presiden. “Mari terus maju dan kita ingin ini didengar oleh bupati, oleh gubernur dan presiden,” ujarnya.
Demonstrasi pelajar tersebut sempat ricuh. Kericuhan terjadi sekitar pukul 09.00 WIT, saat massa bergerak ke arah menara salib yang berlokasi di depan kantor Bupati Jayawijaya. Kericuhan itu berlangsung di Jalan Hom-hom, beberapa ratus meter dari kantor bupati Jayawijaya.
Asken mengatakan polisi menembakkan gas air mata ke arah kerumunan pelajar. Barisan massa yang dibentuk oleh pelajar sempat tercerai berai akibat tembakan gas air mata itu. “Ada beberapa kali tembakan gas air mata, itu polisi awalnya tidak kasih jalan buat maju,” katanya.
Polisi membenarkan demonstrasi pelajar itu sempat ricuh dan menembakkan gas air mata. Namun, polisi mengatakan tembakan gas air mata itu dilakukan sesuai prosedur. Alasan polisi menembakkan gas sir mata karena ada lemparan batu dari arah kerumunan kepada aparat yang bertugas.
“Gas air mata sebagai langkah pencegahan agar kericuhan tidak meluas,” kata Kabag Ops Polres Jayawijaya Ajun Komisaris Polisi Suparmanto. Supramanto mengatakan lemparan batu itu datang dari kelompok yang mengenakan pakaian bebas. “Memang ada lemparan batu, sepertinya itu bukan dari pelajajar,” kata dia.