Syarat dan Ketentuan Puasa Ramadhan: Panduan Lengkap Agar Ibadah Sah, Bernilai, dan Diterima Allah SWT

Syarat dan Ketentuan Puasa Ramadhan: Panduan Lengkap Agar Ibadah Sah, Bernilai, dan Diterima Allah SWT

Radarseluma.disway.id - Syarat dan Ketentuan Puasa Ramadhan: Panduan Lengkap Agar Ibadah Sah, Bernilai, dan Diterima Allah SWT--

Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki kedudukan sangat agung dalam ajaran agama. Ibadah ini bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga latihan spiritual untuk membentuk ketakwaan dan keikhlasan. Setiap Muslim yang baligh dan berakal diwajibkan menjalankan puasa di bulan suci ini dengan memenuhi syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan syariat.
 
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
 
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
 
Ayat ini menegaskan bahwa puasa adalah kewajiban bagi orang beriman dan bertujuan membentuk ketakwaan. Namun, agar puasa itu sah dan bernilai ibadah, ada syarat dan ketentuan yang harus dipahami.
 
1. Syarat Wajib Puasa Ramadhan
 
Syarat wajib adalah ketentuan yang menyebabkan seseorang berkewajiban melaksanakan puasa. Jika syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak ada kewajiban atasnya.
 
a. Beragama Islam
 
Puasa hanya diwajibkan bagi Muslim. Orang yang belum memeluk Islam tidak dibebani kewajiban syariat.
 
b. Baligh
 
Anak kecil yang belum baligh belum diwajibkan puasa, namun dianjurkan untuk dilatih. Rasulullah SAW bersabda:
 
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ
 
Artinya: “Pena (catatan amal) diangkat dari tiga golongan: dari orang tidur hingga ia bangun, dari anak kecil hingga ia baligh, dan dari orang gila hingga ia berakal.” (HR. Abu Dawud)
 
c. Berakal Sehat
 
Orang yang hilang akal atau gila tidak dikenai kewajiban puasa.
 
d. Mampu (Tidak Ada Uzur Syar’i)
 
Orang yang sakit parah atau dalam perjalanan jauh (musafir) diperbolehkan tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain.
 
Allah SWT berfirman:
 
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
 
Artinya: “Barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184)
 
 
2. Syarat Sah Puasa Ramadhan
 
Selain syarat wajib, ada syarat sah yang menentukan apakah puasa diterima secara hukum fiqih.
 
a. Islam
 
Puasa orang yang murtad atau keluar dari Islam tidak sah.
 
b. Tamyiz (Dapat Membedakan Baik dan Buruk)
 
Anak kecil yang sudah tamyiz boleh berpuasa dan puasanya sah meskipun belum wajib.
 
c. Suci dari Haid dan Nifas
 
Wanita yang sedang haid atau nifas tidak boleh berpuasa dan wajib menggantinya setelah suci.
 
Rasulullah SAW bersabda:
 
أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ
 
Artinya: “Bukankah jika wanita haid ia tidak shalat dan tidak berpuasa?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
 
d. Mengetahui Masuknya Waktu Puasa
 
Puasa dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Allah berfirman:
 
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
 
Artinya: “Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187)
 
 
3. Rukun Puasa Ramadhan
 
Agar puasa sah, terdapat dua rukun utama:
 
a. Niat
 
Niat adalah tekad dalam hati untuk melaksanakan puasa Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda:
 
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
 
Artinya: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
 
Niat puasa Ramadhan dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar.
 
b. Menahan Diri dari yang Membatalkan Puasa
 
Menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan sejak fajar hingga maghrib.
 
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits qudsi:
يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِي
 
Artinya: “Ia meninggalkan makan dan minumnya karena Aku.” (HR. Al-Bukhari)
 
4. Hal-hal yang Membatalkan Puasa
 
Beberapa hal yang membatalkan puasa antara lain:
 
• Makan dan minum dengan sengaja
• Berhubungan suami istri di siang hari
• Muntah dengan sengaja
• Haid dan nifas
• Keluar mani dengan sengaja
• Murtad
 
Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menjaga lisan dan perbuatan. Rasulullah SAW bersabda:
 
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
 
Artinya: “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Al-Bukhari)
 
Hikmah Memahami Syarat dan Ketentuan Puasa
 
Memahami syarat dan ketentuan puasa memberikan beberapa hikmah:
 
• Ibadah dilakukan dengan ilmu, bukan sekadar ikut-ikutan
 
• Terhindar dari kesalahan yang membatalkan puasa
 
• Menumbuhkan rasa tanggung jawab spiritual
 
• Menjadikan puasa lebih khusyuk dan berkualitas
 
Puasa yang benar akan melahirkan pribadi yang sabar, disiplin, dan bertakwa.
 
Puasa Ramadhan adalah kewajiban agung yang memiliki syarat wajib dan syarat sah. Syarat wajib meliputi Islam, baligh, berakal, dan mampu. Syarat sah mencakup Islam, suci dari haid dan nifas, serta mengetahui waktu puasa. Rukun puasa terdiri dari niat dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan.
 
Tanpa memahami ketentuan tersebut, puasa bisa menjadi tidak sah atau tidak sempurna. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk mempelajari ilmu fiqih puasa agar ibadahnya diterima Allah SWT.
 
Ramadhan adalah madrasah kehidupan. Ia mendidik jiwa, membersihkan hati, dan membentuk karakter mukmin sejati. Dengan memahami syarat dan ketentuan puasa, kita tidak hanya menjalankan kewajiban, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.
 
Semoga Allah SWT menerima ibadah puasa kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang bertakwa. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. (djl)

Sumber:

Berita Terkait