Resmi! 1 Ramadhan 1447 H Jatuh pada Kamis, 19 Februari Sikap Bijak Menghadapi Perbedaan

Resmi! 1 Ramadhan 1447 H Jatuh pada Kamis, 19 Februari Sikap Bijak Menghadapi Perbedaan

Radarseluma.disway.id - Resmi! 1 Ramadhan 1447 H Jatuh pada Kamis, 19 Februari Sikap Bijak Menghadapi Perbedaan--

Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia secara resmi mengumumkan bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriyah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan ini disampaikan oleh Menteri Agama RI setelah pelaksanaan sidang isbat yang digelar bersama para ulama, ahli falak, ormas Islam, dan perwakilan instansi terkait.
 
Keputusan ini menjadi penanda dimulainya ibadah puasa Ramadhan bagi umat Islam di Indonesia yang mengikuti ketetapan pemerintah. Ramadhan adalah bulan suci yang dinanti-nantikan, bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Maka, penetapan awal Ramadhan bukan sekadar penanggalan, tetapi memiliki dimensi syar’i dan ukhuwah yang sangat penting.
 
Dasar Al-Qur’an tentang Kewajiban Puasa.
 
Allah SWT berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
 
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
 
Ayat ini menegaskan bahwa puasa Ramadhan adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat. Namun, kewajiban itu dimulai ketika masuknya bulan Ramadhan telah dipastikan secara syar’i.
Allah juga berfirman:
 
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
 
Artinya: “Barang siapa di antara kamu menyaksikan bulan itu (Ramadhan), maka hendaklah ia berpuasa.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
 
Kata “syahida” (menyaksikan) menjadi dasar metode rukyat (melihat hilal) sebagai cara mengetahui masuknya bulan Ramadhan.
 
 
Hadits Nabi tentang Penetapan Awal Ramadhan
 
Rasulullah SAW bersabda:
 
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ
 
Artinya: “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihatnya. Jika tertutup atasmu (tidak terlihat), maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” dan (HR. Bukhari dan Muslim)
 
Hadits ini menjadi landasan utama dalam metode penetapan awal Ramadhan.
 
Ada dua pendekatan utama yang digunakan umat Islam:
 
1. Rukyat (Melihat Hilal) 
 
Pengamatan langsung terhadap hilal pada tanggal 29 Sya’ban.
 
2. Hisab (Perhitungan Astronomi)
 
Perhitungan matematis posisi bulan untuk mengetahui kemungkinan terlihatnya hilal.
 
Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Agama menggunakan metode gabungan antara hisab dan rukyat dalam sidang isbat. Data hisab menjadi panduan, sedangkan rukyat menjadi verifikasi lapangan.
 
Proses Penetapan 1 Ramadhan 1447 H
 
Sidang isbat dilakukan dengan beberapa tahapan:
 
1. Pemaparan posisi hilal berdasarkan hisab oleh para ahli astronomi.
 
2. Laporan hasil rukyat dari berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia.
 
3. Musyawarah bersama ormas Islam dan Majelis Ulama Indonesia.
 
4. Pengumuman resmi oleh Menteri Agama.
 
Jika hilal telah memenuhi kriteria imkan rukyat (kemungkinan terlihat), maka malam itu ditetapkan sebagai awal Ramadhan. Jika tidak terlihat, maka bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari.
 
Mengapa Terjadi Perbedaan Penetapan?
 
Perbedaan dalam menentukan 1 Ramadhan bukan hal baru dalam sejarah Islam. Perbedaan ini biasanya disebabkan oleh:
 
• Perbedaan metode (hisab vs rukyat murni).
 
• Perbedaan kriteria ketinggian hilal.
 
• Perbedaan wilayah mathla’ (lokasi geografis).
 
Dalam sejarah, para sahabat pun pernah berbeda dalam menentukan awal bulan karena perbedaan lokasi rukyat. Namun, perbedaan itu tidak menimbulkan perpecahan.
 
Sikap Bijak Menghadapi Perbedaan
 
Islam mengajarkan persatuan dan ukhuwah. Allah SWT berfirman:
 
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
 
Artinya: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
 
Perbedaan dalam masalah ijtihadiyah seperti penetapan awal Ramadhan tidak boleh menjadi sebab permusuhan. Para ulama sepakat bahwa masalah ini termasuk wilayah ijtihad yang memiliki dalil masing-masing.
Rasulullah SAW juga bersabda:
 
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
 
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
 
Akhlak mulia dalam menyikapi perbedaan adalah dengan saling menghormati, tidak mencela, dan tetap menjaga persaudaraan sesama Muslim.
 
 
Mengikuti Pemerintah sebagai Bentuk Ketaatan
 
Dalam konteks bernegara, mengikuti keputusan pemerintah dalam perkara umum seperti awal Ramadhan dapat menjadi bentuk menjaga persatuan.
Allah berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
 
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59)
 
Ulil amri dalam konteks Indonesia mencakup pemerintah yang sah. Maka, selama keputusan tersebut didasarkan pada musyawarah dan dalil syar’i, mengikutinya merupakan langkah menjaga kemaslahatan bersama.
 
Hikmah di Balik Perbedaan
 
Perbedaan sejatinya adalah rahmat jika disikapi dengan bijak. Ia mengajarkan toleransi, kedewasaan, dan keluasan ilmu. Yang terpenting bukan semata kapan memulai puasa, tetapi bagaimana kualitas ibadah kita selama Ramadhan.
 
Ramadhan adalah momentum memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, memperbanyak dzikir, tilawah, sedekah, dan menjaga lisan.
 
Penetapan 1 Ramadhan 1447 H pada Kamis, 19 Februari 2026 oleh Kementerian Agama RI didasarkan pada metode hisab dan rukyat sesuai tuntunan syariat. Dalil Al-Qur’an dan hadits menegaskan pentingnya melihat hilal sebagai tanda masuknya bulan Ramadhan.
 
Perbedaan yang mungkin terjadi adalah bagian dari khazanah ijtihad umat Islam. Sikap terbaik adalah menjaga ukhuwah, menghormati perbedaan, dan tidak menjadikannya sumber perpecahan.
 
Marilah kita menyambut Ramadhan 1447 H dengan hati yang bersih dan niat yang tulus. Jangan biarkan perbedaan awal puasa mengurangi kekhusyukan dan kebersamaan kita sebagai umat Islam.
 
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan Ramadhan tahun ini sebagai Ramadhan terbaik dalam hidup kita. (djl)

Sumber:

Berita Terkait