Bilal Bin Rabah RA: Muazin Pertama dan Simbol Keagungan Iman Yang Menggema Sepanjang Zaman
Radarseluma.diswsy.id - Bilal Bin Rabah RA: Muazin Pertama dan Simbol Keagungan Iman "Yang Menggema Sepanjang Zaman"--
Reporter: Juli Irawan Radarseluma.disway.id - Dalam sejarah Islam yang penuh kemuliaan, terdapat sosok luar biasa yang namanya abadi bersama lantunan azan yang menggema lima kali sehari di seluruh penjuru dunia. Dialah Bilal bin Rabah RA, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai muazin pertama dalam Islam. Suaranya yang merdu bukan sekadar panggilan untuk shalat, tetapi juga simbol keteguhan iman, keberanian, dan keikhlasan dalam menegakkan kalimat La ilaha illallah.
Bilal bukanlah tokoh dari kalangan bangsawan atau orang kaya. Ia adalah mantan budak berkulit hitam dari Habasyah (Ethiopia) yang kemudian dimuliakan oleh Islam. Keteguhan hatinya menghadapi siksaan demi mempertahankan iman menjadikannya lambang keadilan dan kemanusiaan universal dalam Islam. Rasulullah SAW sendiri memberikan tempat istimewa untuknya, hingga suara azannya dikenang sepanjang zaman sebagai gema keimanan yang tak pernah padam.
Asal-Usul dan Perjalanan Iman Bilal bin Rabah
Bilal bin Rabah RA lahir di Makkah dari keluarga yang sederhana. Ayahnya bernama Rabah dan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam. Sejak kecil, Bilal telah menjadi budak keluarga Umayyah bin Khalaf, salah satu tokoh Quraisy yang terkenal keras menentang dakwah Rasulullah SAW.
Ketika cahaya Islam mulai menyinari Makkah, Bilal termasuk di antara orang-orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Keislamannya diketahui oleh tuannya, Umayyah bin Khalaf, yang kemudian menyiksa Bilal dengan kejam. Ia diseret ke tengah padang pasir yang membakar, ditindih batu besar, dan dipaksa kembali kepada kekufuran. Namun dari bibir Bilal hanya keluar kalimat "Ahad, Ahad" (Allah Yang Esa, Allah Yang Esa).
Kalimat ini menjadi simbol keagungan iman dan keteguhan tauhid yang tidak dapat digoyahkan oleh penderitaan dunia. Rasulullah SAW sangat terharu atas keteguhan Bilal. Hingga akhirnya Abu Bakar Ash-Shiddiq RA membeli Bilal dari Umayyah dan memerdekakannya demi Allah.
Bilal: Muazin Pertama Rasulullah SAW
Ketika umat Islam telah hijrah ke Madinah dan membentuk masyarakat Islam pertama, datanglah waktu untuk menegakkan syiar shalat secara berjamaah. Rasulullah SAW bermusyawarah dengan para sahabat tentang cara mengumumkan waktu shalat. Ada yang mengusulkan menggunakan lonceng seperti Nasrani, ada pula yang mengusulkan menggunakan terompet seperti Yahudi. Namun, akhirnya Rasulullah SAW memutuskan untuk mengumandangkan azan setelah Abdullah bin Zaid RA bermimpi mendengar lafaz azan yang indah.
Rasulullah SAW kemudian memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan, karena beliau memiliki suara yang lantang dan merdu. Sejak saat itulah, Bilal menjadi muazin pertama dalam sejarah Islam.
Hadis sahih riwayat Abu Dawud menyebutkan:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ، فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلاَةَ، وَلَيْسَ يُنَادَى لَهَا، فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِي ذَلِكَ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: بَلْ بُوقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ، فَقَالَ عُمَرُ: أَوَلاَ تَبْعَثُونَ رَجُلاً يُنَادِي بِالصَّلاَةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: يَا بِلَالُ، قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ.
Artinya: “Ketika kaum Muslimin datang ke Madinah, mereka berkumpul dan memperkirakan waktu shalat tanpa ada panggilan. Maka mereka bermusyawarah, ada yang mengusulkan lonceng seperti Nasrani, ada pula terompet seperti Yahudi. Umar berkata, ‘Mengapa tidak kalian kirim seseorang untuk menyerukan shalat?’ Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Wahai Bilal, bangkitlah dan serukanlah shalat.’”.(HR. Abu Dawud no. 498)
Sejak saat itu, suara Bilal menggema di seluruh Madinah, memanggil umat Islam untuk menunaikan shalat lima waktu. Suaranya menjadi pertanda hadirnya waktu untuk bersujud kepada Allah, dan hingga kini, azan itu masih terus dikumandangkan di setiap penjuru dunia.
Dalil Al-Qur’an tentang Seruan Azan
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ
Artinya: “Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk mengerjakan shalat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka kaum yang tidak mengerti.”.(QS. Al-Ma’idah: 58)
Ayat ini menggambarkan bahwa seruan azan telah dikenal sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan menjadi identitas umat Islam. Bilal RA adalah pelaksana pertama dari perintah mulia ini. Suara azannya bukan hanya panggilan ibadah, tetapi juga panggilan keimanan yang membedakan umat Islam dari umat lainnya.
Keistimewaan Bilal bin Rabah di Sisi Rasulullah SAW
Bilal memiliki kedudukan istimewa di sisi Rasulullah SAW. Ia tidak hanya menjadi muazin, tetapi juga salah satu sahabat yang paling dekat dan paling dicintai Nabi. Suatu ketika, Rasulullah SAW mendengar suara langkah Bilal di surga sebelum beliau sendiri masuk ke sana.
Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
يَا بِلَالُ، حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ، فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ
Artinya: “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amal apa yang paling engkau harapkan (pahalanya) dalam Islam, karena aku mendengar suara terompahmu di depanku di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bilal menjawab bahwa ia selalu menjaga wudhu dan melaksanakan shalat sunnah setiap kali berwudhu. Dari sinilah kita memahami bahwa keikhlasan dan ketekunan Bilal tidak hanya dalam tugas azannya, tetapi juga dalam ibadah sehari-hari.
Bilal Setelah Wafatnya Rasulullah SAW
Setelah Rasulullah SAW wafat, Bilal sangat berduka. Ia tidak lagi sanggup mengumandangkan azan di Madinah karena setiap lafaz mengingatkannya pada Nabi tercinta. Ia kemudian meninggalkan Madinah dan pergi ke Syam (Suriah) untuk berjihad di jalan Allah. Di sana pula ia wafat, meninggalkan kenangan abadi bagi umat Islam.
Konon, ketika Bilal bermimpi bertemu Rasulullah SAW yang memintanya datang ke Madinah, ia kembali sejenak dan mengumandangkan azan di sana. Saat itu, seluruh penduduk Madinah menangis tersedu karena kerinduan terhadap Rasulullah SAW yang seolah hadir kembali lewat suara Bilal.
BACA JUGA:Rasulullah SAW: Teladan Suami yang Penuh Romantika, Kasih, dan Perhatian Tanpa Batas
Makna dan Warisan Abadi
Bilal bin Rabah RA bukan sekadar seorang muazin, tetapi simbol keadilan, kesetaraan, dan kemuliaan iman. Islam mengangkat derajatnya yang dulunya seorang budak menjadi teladan bagi seluruh manusia. Firman Allah SWT menegaskan:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Bilal adalah perwujudan nyata ayat ini. Ia membuktikan bahwa kemuliaan bukanlah karena keturunan, warna kulit, atau kedudukan, tetapi karena ketakwaan dan keimanan kepada Allah SWT.
Bilal bin Rabah RA adalah sosok yang tidak hanya dikenang karena suaranya yang merdu, tetapi juga karena keteguhan imannya yang tidak tergoyahkan oleh penderitaan. Ia menjadi muazin pertama dalam sejarah Islam, suaranya terus menggema sebagai simbol cinta dan kepatuhan kepada Allah SWT.
Kisah Bilal mengajarkan bahwa Islam datang untuk menghapus perbedaan sosial dan rasial, memuliakan manusia karena takwanya. Dari padang pasir yang gersang hingga menara masjid di seluruh dunia, gema azan Bilal seakan tidak pernah berhenti menjadi gema iman yang abadi sepanjang zaman. (djl)
Sumber: